
Kaniya galau, isi kepalanya hanya tentang kebenaran yang belum terungkap dengan jelas. Tetapi semua fakta merujuk akan hal itu dengan sangat jelas. Hasil DNA, yang terlihat asli. Juga obrolan para pelayan yang bekerja bahkan sejak mamanya sebagai majikan mereka. Hal itu membuat Kaniya goyah. Apa harus percaya pada kenyataan jika ia bukan anak kandung Abrar, atau yakin jika itu semua adalah rekayasa Soraya, wanita jahat itu.
Jika benar justru Kaniya berbahagia. Baginya hambatan itu seketika lenyap. Itu artinya hubungannya dengan Abian akan selancar melewati tol. Hanya Kania merasa perlu untuk bertanya langsung dengan pria yang sering di panggilnya papa itu.
“Minumlah … mungkin dengan ini kamu bisa sedikit melupakan kesedihanmu tentang papa kita.” Hibur Bayu pada Kaniya. Dan menyodorkan segelas air mengandung alkohol pada Kaniya.
“Aku tidak berani minum itu Bay.” Jawab Kaniya polos. Sambil mengetik di gawainya.
Tentu saja ia masih berusaha menghubungi Abian, pamannya, eh bukan. Kekasihnya yang notabene suami orang. Hanya nasib Kaniya masih suram. Isi chatnya masih centang satu dan warna abu-abu. Terakhir gawai itu online, bahkan kemarin, sebelum ayahnya masuk rumah sakit.
“Kemungkinan mati di tempat setelah minum ini, tidak banyak Kaniya. Coba saja sedikit.” Rayu Bayu meyakinkan Kaniya.
“Ini satu-satunya teman baik di saat sedih. Aku tidak mungkir, jika mamaku sering tak adil padaku dan Lidya. Dan hanya dengan meminum ini, pikiranku jauh kebih baik.” Bayu bagai bicara sendiri meyakinkan Kaniya agar mau menyambut gelas yang ia sodorkan.
Gluk … gluk … Bo doh. Kaniya bahkan langsung menghabiskan air itu hingga tandas. Ia kecewa dengan semua yang terjadi. Kaget dengan kenyataan ia bukan anak Abrar, juga tidak terima saat di tuduh menjadi penyebab kesakitan Abrar, dan yang lebih membuatnya kecewa adalah Abian yang tidak bisa ia hubungi.
“Mana …? Kamu bohong Bay. Aku sudah menghabiskannya, bahkan satu gelas. Tapi aku masih ingat jika papa sedang koma di Rumah Sakit.” Tentu itu adalah ucapan konyol dari seorang Kaniya.
“Jika satu gelas tak membuatmu fly, tambahkan segelas lagi.” Bayu menyeringai sambil menumpahkan air itu lagi pada gelas yang Kaniya pegang. Lagi. Tanpa pikir panjang Kaniya kembali menghabiskan air tersebut. Benar-benar b0doh bukan.
“Bagaimana … kamu masih ingat dunia ?” Bayu mengerakkan tangannya di depan wajah Kaniya.
“Hah … kamu bohong Bay. Aku masih tau jika aku masih berpijak di bumi.” Bohong Kaniya. Sebab ia sudah mulai puyeng, kepalanya terasa berat, dan anehnya tubuhnya terasa panas. Tak sadar ia melepas kancing kemejanya dua. Tentu saja belahan dadanya mencuat begitu saja.
Bayu tersenyum bangga, ia yakin obat perangsang yang ia masukan pada minuman Kaniya tadi pasti sudah bereaksi. Lama Bayu mendambakan saat ini datang. Ia sudah lama menyimpan rasa pada saudara tirinya ini. Di rumah ia sering meracik minuman seperti ini, berharap Kaniya terkena jebakannya. Hal itu juga tentu tak lepas dari suruhan sang mama. Agar Kaniya menikah saja dengannya. Toh mereka bukan saudara kandung. Sehingga, walau mamanya nanti berpisah dengan Abrar pun, setidaknya Bayu juga akan bisa mewarisi perusahaan dan kekayaan ayah mertuanya. Licik.
Kesadaran Kaniya masih ada, ia juga melihat gelagat aneh Bayu yang tangannya mulai usil menggerayangi pahanya dengan segala racauan aneh yang masih bisa di tangkap oleh rungunya. Ini bukan pengalaman pertama Kaniya, bahkan baru beberapa hari yang lalu. Ia pun menggunakan cara ini untuk menjebak Abian. Kaniya tau, minuman apa yang baru saja masuk dalam aliran tubuhnya.
“Sebentar Bay, aku mau ke toilet.” Pamit Kaniya membawa tas kecil slempangnya dan segera berdiri seolah akan pergi ke toilet. Padahal ia hanya sedang panic, ingin kabur tapi tak tau arah dan jalan.
Berhasil keluar ke arah parkiran bagi Kaniya bagai menemukan surga. Ia meruntuki dirinya yang begitu mudah percaya dengan tawaran Bayu untuk minum tadi. Tapi …
“Aaacch … br3ngsek, aku merasa sangat ingin di sentuh.” Kaniya meraba bagian dadanya sendiri, meremat dengan tangan sendiri, dan merasa bagian inti tubuhya berkedut tak karuan. Ia tau itu reaksi obat perangsang.
“Niya …” Suara lelaki yang sudah lama tak ia dengar. Ah … mungkin karena mabuk, pikiran Kaniya tak jernih. Mengapa suara itu ia dengar seperti suara Abian. Hanya Abian yang memanggilnya dengan sebutan itu. Ah, pria itu. Sudah bagai hantu yang gentayangan di otak Kaniya, baik dalam saat sadarnya bahkan dalam ketidak warasannya seperti sekarang.
“Ka … Niya.” Ulang suara itu lagi semakin dekat dengan persembunyian Kaniya yang berjongkok di salah satu mobil yang terparkir di sana.
“Kenapa di sini? Sedang apa?” rupanya suara tadi pun hanya mengira-ngira jika itu adalah Kaniya. Tangan Kaniya sudah di pegangnya, di bantunya berdiri agar wajah Kaniya jelas di depannya.
“Om Abi …?” Kaniya terbata. Terkejut jika suara tadi sungguh milik lelaki yang membuatnya jatuh cinta bahkan sejak ia berseragam putih biru.
“Maaf om baru baca chatmu. Dan langsung menuju kesini.” Abian meyesal tidak mengaktifkan ponselnya sejak kemarin. Rupanya banyak yang terjadi bahkan di waktu belum 24 jam.
“Bawa Niya pergi dari sini Om. Niya takut.” Rintihnya panik, curiga Bayu akan mencarinya keluar. Sebab ia hanya pamit ke toilet tadi.
Tanpa bertanya lagi, Abian memapah Kaniya masuk mobilnya dan segera keluar dari area tersebut.
“Mau om antar ke rumah?” tanya Abian pelan.
Kaniya tidak menjawab, tubuhnya berkeringat dingin. Nafasnya menderu-deru menahan sesuatu yang ia rasa semakin ganjil menerpanya. Tangannya menarik satu tangan Abian dan ia tempelkan di dadanya.
“Tolong Kaniya, Om. Panas.” Kaniya memaksa pergerakan tangan itu agar meremat bagian yang sengaja ia buka, ia sodorkan untuk di nikmati lelaki sudah beristri tersebut.
Merasa mobil berhenti, Kaniya justru bergerak naik ke pangkuan Abian. Menarik tengkuk pria itu, menabrak bibir Abian. Memainkan lidahnya pada mulut yang terbuka, terngaga, akibat baru saja berbicara dengannya.
“Mmmmpph … uuunnncch.” Suara penuh kenikmatan Kaniya haturkan saat berhasil menyerang rongga mulut pria dewasa di depannya. Bagai melahap makanan lezat dengan rakusnya, Kaniya tak berhenti melakukan itu. Tangannya semakin mendorong kepala Abian agar makin erat melawannya.
“Niya kita sedang di jalan.” Tangan Abian memegang kepala Kaniya dengan keras, memundurkan kepala itu agar indra pengecapnya tak lagi menyerang mulutnya.
“Panas Om. Aku bahkan mau om memakan ini.” Astaga tangan Kaniya bahkan mengeluarkan buah-buahan yang ia bungkus dengan kain hitam berenda melintang di dadanya. Mereka tampak ranum dan menarik untuk di cicipi.
“Aku bukan anak kandung papa Abrar. Aku tak punya pertalian darah dengannya, juga dengan mu. Aku bahkan berhak tak memanggilmu dengan sebutan Om lagi. I want You …” Ucapan Kaniya bagaikan petir menyambar di siang hari bagi Abian. Apakah ia sempat menimbang itu nyata atau bohong? Tapi bagaimana dengan hasrat yang terlanjur naik, akibat suguhan di depannya?
Bersambung …