
Kaniya dan Abian cukup bangga dengan ikatan pernikahan mereka walau hanya di bawah tangan. Sebab berkas untuk meresmikan pernikahan yang sesungguhnya akan di ajukan, saat akta cerai Abian di terbitkan.
Dengan adanya Abian yang sungguh telah menetap dengannya tentu menambah nilai percaya Kaniya pada Abian, Om suami kesayangannya. Di tambah lagi pergulatan mereka yang hampir tiap hari di lakukan pun, akhirnya membuahkan hasil. Ya, Kaniya sungguh telah mengandung buah cintanya bersama Abian.
“Mau makan apa ?”Abian paham dengan perubahan hormonal yang sering di gaungkan orang-orang. Bahwa istri akan mengalami perubahan mood, selera dan apapun saat hamil. Di sadari atau tidak, tergantung pak suami bisa mengendalikan dan sejauh mana memahami istrinya atau tidak.
“Mau makan sambal goreng hati, kentang dan pete buatan bi Sitah.” Jawab Kaniya manja. Ia juga bingung kenapa begitu terngiang-ngiang dengan masakan yang sering ia makan di unit sebelah.
“Hah … gimana kita mendapatkannya?” Abian lumayan bingung. Sebab Tian hanya berstatus menyewa di unit sebelah. Dan celakanya sudah sebulan ini, penghuni sebelah itu sudah ganti. Bukan Tian lagi. Sehingga cukup sulit bagi mereka bisa ketemu dengan Tian atau Bi Sitah.
“Ya … Niya juga ga tau kenapa tiba-tiba pengen makan masakan Bi Sitah.” Kaniya sudah memasang wajah merengut pada suaminya.
Abian mengusap ponselnya. Dan mendapati rasa kecewa saat melihat chatnya untuk Tian centang satu abu-abu. Terakhir online juga tiga hari yang lalu.
“Tian ga aktif, bebph.” Abian terdengar kecewa.
“Kalau dia aktif, aku ga sekesal ini kali.” Eh … bumil nyolot. Kesel ya bu, kehilangan tetangga charming.
“Harus banget yah … masakan bi Sitah?” Abian ingin mencari alternatif.
“Wajib.”Kaniya melangkah masuk kamar dan menutup pintu dengan suara yang amat kasar. Abian sampai geleng kepala. Tak mengira istri semanis kucing saat hamil bisa menjelma jadi singa ganas. Nasib. Nasib. “Untung aku Cinta kamu, Niya.” Gumamnya frustasi.
Di samping hamil muda bisa di jadikan alasan untuk tidak terlalu sering berhubungan suami istri. Kaniya juga terlihat tidak mood untuk melakukan itu, masih efek keinginan makanan yang tak tersalurkan. Dia lebih sering uring-uringan. Sebegitunya kesal berkepanjangan.
Abian sudah berusaha mengajak Kaniya makan di luar yang ada menyiapkan menu seperti yang Kaniya mau, tapi hasilnya tetap tidak cocok dengan yang Kaniya maksudkan.
“Ga gitu Om … itu warnanya terlalu merah. Nanti rasanya pedas.” Cerewet Kaniya menolak tawaran makanan dari Abian. Suatu hari saat pulang kerja Abian membawa menu itu.
“Iiih … coba Tian ga pindah, kan mudah ketemu bi Sitah.” Gumam Kaniya yang masih bisa di dengar oleh Abian.
“Kamu mau makanan Bi Sitah atau mau ketemu Tian sih.” Kadang iblis juga bisa datang menyulut dan menggoda pikiran suami yang sudah lelah berjuang mencari kidaman istri.
“Ya Bi Sitah. Tian hanya perantara.” Kaniya menegaskan dengan nada tidak bersahabat.
[Maaf … baru ketemu signal. Ada apa?”] Tian akhirnya membalas chat Kaniya dan Abian setelah lima hari ponselnya mati.
Kaniya yang terlebih dahulu menyadari chatnya di balas oleh Tian, pun segera melakukan panggilan suara. Dan langsung tertera kata ‘berdering’ pertanda Tian sungguh dalam keadaan online.
“Tian kamu di mana?” Kaniya tidak sabar menyapa Tian lewat udara.
“Aku di luar kota. Dan sedang liburan di daerah pedalaman. Ada apa?” tanya Tian tanpa basa basi.
“Kenapa pindah …?” Kaniya lupa tujuan awalnya menghubungi Tian, sepertinya ada kangen yang tidak terungkap untuk Tian si tetangga charming ini.
“Habis kontraknya. Mau ku perpanjang, ternyata sudah ada yang ngantri, mau menyewanya juga.” Jawab Tian dengan suara gurih-gurih sedapnya.
“Aku di Kalimantan. Job ku yang lalu akan finisshing. Jadi aku harus stay di sini. Jangan bilang kamu rindu aku. Aku makin tidak berselera padamu. Dulu kamu simpanan Om-Om, sekarang kamu malah jadi istri orang.” Kekeh Tian, masih suka membully Kaniya walau mereka berdua saling berjauhan.
“Iiish Tian. Aku hamil.” Akhirnya Kaniya mulai merujuk pada tujuannya menelpon Tian.
“Terus .. kamu mau minta pertanggung jawabanku. Sejak kapan menepuk bahu lawan jenis bisa bikin hamil?” Tian masih saja suka meledek dan bercanda pada Kaniya. Dan itu memang berhasil membuat raut wajah bete Kaniya kembali ceria. Sampai-sampai Abian bingung, siapa lawan bicara istrinya di telepon. Sebab tadi ia mandi, dan tidak memperhatikan siapa yang sedang di hubungi oleh Kaniya. Dari jauh saja ia melihat gestur dan mimik wajah istrinya yang sumringah,
“Kamu tuh gilak, emang.” Jawab Kaniya terkekeh.
“Ya …, kan aneh aja gitu. Kamu hamil kok lapornya ke aku. Kamu itu sudah punya suami. Jangan bilang Om kamu itu balikan sama istrinya, ya.” Tian masih sok sokan menggoda Kaniya.
“Bukan laporan, tapi lagi ngidam ini.” Abian menatap wajah Kaniya dengan serius. Ia sedang menyimak, dan menebak dengan siapa istrinya sednag bicara.
“Oh ngidam. Ngidam mau ketemu aku. Hah, calon anak mu pasti cewek. Udah genit saja dari dalam perut mamanya. Tau aja, sama om tamvan.” Tian memuji dirinya sendiri.
“Tamvan dari mana, comel iya.” Kaniya terbahak menanggapi Tian yang memuliki tingkat kepercayaan diri di atas rata-rata.
“Udah … fix tampan, menawan dan mapan. Deal.” Tingkat kepercayaan diri Tian memang bukan kaleng kaleng.
“Pe denya selangit.” Jawab Kaniya yang masih di pantau Suaminya.
“Bi sitah di mana ya …? Punya kontaknya ga sih?” Kaniya risih di pandangi Abian dengan intens. Sehingga memilih untuk kembali pada topik utama tujuan menelpon Tian tadi.
“Masih punya lah aku kontaknya. Kenapa?” Tian kembali ke mode serius.
“Ku mau makan masakannya.” Ucap Kaniya datar, mengharap simpatik dari lawan bicaranya.
“Halaaaah paling kamu cari pete. Ha… ha … ha.” Tian hapal dengan makanan favorit Kaniya.
“Ihh … kok benar sih.” Kaniya terlonjak senang kembali, dan semua itu makin membuat wajah Abian masam. Tak pernah ia melihat Kaniya segirang itu saat bicara dengannya. Apa Tian memang sekeren itu, mampu menyapu cemberut menjadi sumringah. Itu si Tian tukang sulapkah?
“Sampai bi Sitah juga hafal dengan makanan itu ternyata. Makanya selalu ada menu itu di buatkan. Khusus buat kamu katanya. Eh … bukan katanya tapi kata temannya.” Ujar Tian sedikit serius.
“Ih … kok temannya sih. Aku maunya buatan Bi Sitah.” Bumil mulai nyolot, hilang keseimbangan sebab ada tanda-tanda tak mendapatkan kidamannya.
“Laah … yang biasa masak menu itu bukan Bi Sitah Kok.” Tian menjelaskan.
“Hah … lalu siapa? Terus aku bisa dapat dari mana?” Kaniya bingung, padahal tadi otaknya sempat membayangkan betapa nikmatnya makanan impiannya.
“Itu yang buat Bik Ipeh.” Jawab Tian datar.
Bersambung ….