LOVE WITH MY HOT UNCLE

LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 32 : SALAH PAHAM



Hati wanita mana yang tidak murka. Saat nyata kesuciannya hilang walau oleh orang yang tersayang, kemudian di janjikan akan di peristri. Tetapi kesininya nihil. Alias nol besar. Mana ada rumah tangga yang katanya mau cerai tapi malah melakukan tes kesuburan dan akan melakukan program kehamilan. Kaniya tidak memiliki daya untuk mempercayai Abian lagi.


Semua sedih dan kesalnya ia tumpahkan dengan airmata yang jatuh bersamaan dengan guyuran air dari shower, hingga matanya memerah. Sebab lebih dari 30 menit ia mengurung diri dalam kamar mandi. Tak perduli dengan suara berisik bel di depan pintunya. Baginya menuntaskan kesedihan lebih penting daripada membuka pintu itu.


Namun sang tamu bukan tipe orang yang mudah menyerah. Ia terus saja memencet bel itu sepeerti menekan tuts piano, tak berjeda. Hingga Kaniya yang menyerah, dengan tergopoh. Bahkan tak peduli, hanya dengan handuk berbentuk pakaian mandi, dengan lilitan handuk di kepala. Kaniya nekat saja membuka pintu.


“Berisik banget siih.” Hardik Kaniya, ia tau itu ulah Tian. Tetangga charming nan resek.


“Aku takut kamu mati kelaparan.” Ujarnya menunjuk box makanan.


“Ku tadi pagi sarapan kok. Kemungkinan untuk mati mendadak akibat lapar itu ga beralasan.” Kaniya tidak perlu mempersilahkan Tian masuk, tetapi lelaki itu sudah ngacir saja menuju meja makan Kaniya. Dan Kaniya dengan cueknya membuka lilitan handuk di kepalanya, untuk mengeringkan rambut secara manual.


“Aku juga takut kamu bunuh diri, karena kecewa dengan Om kamu itu.” Tian masih saja asal bicara, sambil menata makanan di atas meja makan Kaniya.


“Skripsiku masih harus di revisi. Kalo aku mati hari ini, maka saat riwayat pendidikan ku saat aku mati nanti di bacakan, aku hanya tercatat lulusan SMA, bukan sarjana.” Kaniya menjawab sekenanya.


“Syukurlah kalau kamu masih bisa berpikir panjang. Sini kita makan, aku sudah sangat lapar. Terlalu lama berdiri di depan pintu, bagai menunggu bidadari keluar dari kamar mandi.” Kekehnya.


“Aku pasang baju dulu.” Pamit Kaniya. Iya, Kaniya masih dengan bathdrobe handuknya. Belum sempat memasang apapun di dalamnya.


“Nanti saja, toh dengan pakaian itu. Tubuhmu masih tertutup semua.” Tian menarik tangan Kaniya dan mendudukan dengan paksa tetangganya yang sedang galau itu untuk segera makan bersamanya. Dan Kaniya patuh.


“Siapa yang masak …?” tanya Kaniya saat makanan itu sudah masuk dalam mulutnya.


“Teman bi Sitah.” Jawab Tian.


“Enak … dan rasanya tidak asing di lidahku.” Puji Kaniya menganalisa.


“Itu artinya, Bi Sitah sedang ingin memberikan menu ini untukku. Sebab, aku pernah bilang kalo menu ini adalah favoritku.” Kaniya berubah ceria, melihat menu itu. Dan masakan itu memang sangat cocok di lidah Kaniya.


“Makanan aneh. Enaknya di mana? Rasanya pahit, setelah memakannya pun mulut menjadi bau, bahkan sampai kamar mandi menjadi efeknya. Kenapa harus di sukai sih.” Sambil makan Tian masih sempat saja ngomel.


“Suka itu kadang tidak perlu alasan. Sebab semua tergantung selera. Tanaman ini sudah di ciptakan sesuai fungsi juga pengemarnya masing-masing. Lagian bau pete ini sangat khas. Haaaah” Kaniya agak jorok, bahkan berdiri dan sengaja membuat tubuhnya hampir menabrak piring dan magkuk yang ada di atas meja, demi mendekatkan wajahnya ke Tian, dan bagai naga menyemburkan bau mulutnya. Konyol dan kocak kelakuan mereka berdua ini.


“Eh dasar jorok …” Tian memegang mulut Kaniya yang baru saja menyemburkan aroma pete kewajah Tian. Dan sayangnya adegan itu tepat dan bersamaan dengan masuknya Abian kedalam apartement itu, yang langsung menampakkan sebuah pemandangan. Seolah Kaniya dan Tian hendak atau setelah berciuman.


Tubuh Kaniya bagai penyerang. Separuh tubuhnya di atas meja, demi dekat dengan wajah Tian. Dan tangan Tian memegang dagu Kaniya, padahal itu adalah cengkraman. Tapi, bagaimana persepsi seorang Abian yang mengartikan lain. Dengan kostum Kaniya yang hanya menggunakan handuk mandi, rambut basah. Juga pakaian santai Tian, yang di meja makan itu hanya dengan kaos oblong dan celana pendek. Bolehlah Abian cemburu dan berpikir yang bukan-bukan.


Kaniya dan Tian terperanjat. Keduanya segera merosot duduk di kursinya masing-masing. Bahkan seketika gagu, tak tau harus bicara apa walau hanya sekedar berbasa-basi dengan orang yang sudah membeli unit apartemet itu. Mangangguk kepala sebentar, lalau melanjutkan sisa makana di piring. Adalah hal yang kini Tian lakukan. Selanjutnya pamit, untuk kembali ke unit sebelah.


Jeda waktu yang mencekam itu Abian gunakan untuk menenangkan diri. Ia tak mau kehilangan Kaniya. Penjelasan dokter tentang bukti pergaulan bebas Alice di masa lalunya, bagi Abian cukup masuk akal untuk di jadikan alasan untuknya menceraikan Alice. Karena itulah ia memilih turun di jalan tadi, hatinya sudah bulat. Untuk menetap di apartement bersama Kaniya.


Meja makan sudah rapi, secepat kilat Kaniya membersihkan sisa kotoran makannya dengan Tian. Walau masih belum saling sapa dengan Abian. Selanjutnya Kaniya masuk dalam kamar, tentu akan mencari pakaian yang layak dari sebuah pakaian mandi yang ia gunakan menerina Tian tadi.


Belum satu item pakaian pun Kaniya pasang, Tapi Abian sudah mengunci kamar, dan langsung menyergapnya dari belakang. Abian sudah sangat haus dengan tubuh gadisnya. Ia terlampau rindu, berbulan-bulan tanpa menyentuh Kaniya. Ia sesungguhnya hampir gila mendapat penolakan kaniya. Bahkan ia sering mengelabui Alice, dengan mengatakan sudah keluar. Namun ia masih manahan benihnya agar tidak di muntahkan dalam rahim Alice. Abian sungguh tidak menginginkan anak dari Alice.


“Om …” Kaniya masih berusaha menolak. Tapi Abian tidak perduli. Ia tak bisa mengendalikan dirinya. Saat gadisnya itu tidak menggunakan sehelai benang pun, setelah baju mandinya terlepas, merosot ke atas ubin.


“Pliis … jangan tolak Om lagi Niya. Om kangen.” Pintanya dengan suara serak. Seluruh panca indranya sudah aktif. Bahkan urat-uratnya bagai baru hidup kembali, setelah lumayan lama mati suri. Sejenak Abian mengabaikan rasa penasaranya. Mengapa Kaniya bisa sedekat itu dengan tetangga sebelah unitnya.


Kaniya wanita normal, ia sendiri tak bisa menampik akan serangan Abian itu sungguh memukau juga membuatnya mabuk kepayang. Sementara, ia lupakan dulu rasa kecewanya. Perihal informasi dari klinik tadi. Setelah ini, setelah penyatuan ini selesai. Ia akan mewawancarai Abian. Dan kali ini, Kaniya akan bertindak lebih egois. Sebelum program hamil itu mereka jalani. Kaniya pastikan, Abian tidak ia ijinkan untuk pulang menemui Alice. Perang sungguh akan ia mulai. Sudah waktunya ia mengepung lawan, memenjara kekasihnya. Sebab ia telah lelah mengalah.


Bersambung …