
Usia Tian dan Abian tidak jauh berbeda hanya selisih 3 tahun. Tetapi lidah Tian sudah terlanjur nyaman menyebut Abian dengan sebutan Om. Sama seperti Kaniya yang lebih senang dengan panggilan itu, ketimbang daddy. Dan Abian tidak mempermasalahkan akan panggilan itu.
Semua masalah yang sedang menimpa Abian sudah semua di sampaikan dengan runtut oleh Abian, dan kaniya lebih mirip sebagai pendengar yang budiman. Sebab Abian yang bisa lebih jelas menyampaikan duduk permasalahannya.
“Berarti kasus ini tidak bisa kita mulai dari sekedar memantau di mana Pak Abrar itu berada. Melainkan sejak isu di media elektonik itu tersebar pun sudah harus di usut tuntas. Sehingga kita akan dapat titik temunya. Aku yakin semua berkaitan.” Tian bicara dengan penuh keyakinan.
“Sebentar.” Kaniya menyela, setelah perbincangan Tian dan suaminya hampir tak berjeda. Dan reflek leher kedua lelaki di dekatnya menoleh ke arahnya.
“Kaniya malah minta … kalo bisa, Tian juga usut soal perceraian mama dan papa Abrar. Kenapa begitu cepat papa menikahi Soraya. Bahkan cepat hamil. Mungkin aku terlalu overthingking. Tapi, walau Niya masih sangat kecil di usia itu, Niya tak pernah melihat mama dan papa bertengkar. Bagi Niya mereka adalah pasangan yang harmonis.” Kaniya justru lebih curiga dengan Soraya si ibu tiri.
“Bisa … bisa jadi. Tetapi intuisi saja tidak cukup untuk menuduh seseorang, apalagi menjebloskannya ke penjara.” Jawab Tian tanggap dengan maksud paparan Kaniya tadi.
“Ijin Om. Mulai besok saya boleh ikut dalam pengintaian dan apapun untuk memecahkan kasus ini.” Bagaimanapun akrabnya hubungan mereka, mandat secara resmi juga harus dengan jelas di berikan. Agar Tian bisa dengan leluasa menindak lanjuti kasus yang di perhadapkan untuknya.
“Silahkan. Besar harapanku, kasus ini akan segera terungkap.” Abian sungguh menyerah pada seorang Tian. Sungguh merasa sangat memerlukan tenaga ahli di bidangnya. Abian hanya jago urusan hitungan dalam membaca neraca dagang, tapi tidak pandai dalam memecahkan kasus kompleks seperti sekarang ini.
“Rencana sampai kapan tinggal di sini …?” tak lupa Tian menanyakan keberadaan pasutri di depannya itu.
“Tadinya ku kira, menemukan Mas Abrar itu, kayak nemu ikan tongkol saja di pasar. Eh … ternyata bagai nyari jarum dalam jerami. Tak semudah yang ku bayangkan.” Abian tertawa kecut, menertawakan kemampuannya yang jauh di bawah rata-rata.
“Jangan risau Om. Serahkan saja semuanya padaku.” Tian memastikan akan berhasil menemukan titk temu.
“Aku percaya padamu.” Abian menepuk bahu Tian akrab.
“Main ke rumah, Om. Atau mau nginap ?” Tian tau kontrakan Sitah dan Ipeh itu kecil. Dan malam ini Sitah sudah kembali ke kamar itu. Pasti mereka akan berdesakan jika tidur di tempat yang sama.
Abian dan kaniya hanya saling bertatapan.
“Jangan, nanti merepotkan.” Jawab Kaniya yang merasa sungkan.
“Mama ku itu kesepian, suka masuk keluar rumah sakit hanya karena supaya bisa di jenguk teman temannya juga punya banyak bisa ngobrol dengan para perawat yang berganti-ganti. Di rumah hanya tinggal dengan bi Nana. Tapi orannya sangat pendiam. Jadi mama sering bosan sendiri.” Tian menjelaskan.
Abian diam saja.
“Heem … gimana ya. Ini merupakan undangan deh. Permintaan dariku lah, bisa jadi sebagai imbalan jika nanti aku berhasil bantu kalian. Atau sebutannya kalian aku sandera, sementara aku bekerja, kalian harus membantuku juga, yaitu menemani mama. Lagi pula, kalau kita tinggal serumah tentu akan lebih mudah interaksinya, ga repot.” Alasan kah atau tawaran? Terdengar menarik dan masuk akal sih.
“Iya sih … kemungkinan Om juga akan terus di mintai keterangan soal Mas Abrar. Dan Om ga akan lepas tangan begitu saja perihal penyelidikan. Agar hemat waktu, memang sebaiknya kita tidak tinggal di tempat yang berbeda.” Abian menganalisa alasan Tian tadi, yang menurutnya masuk akal.
“Aku yess.” Jawab Abian berjabat tangan.
“Ya … Niya juga harus yes kan.” Kaniya ikut dengan segala persetujan yang di lakukan dua lelaki di hadapannya.
Barang Kaniya dan Abian tidak banyak. Mereka hanya membawa beberapa potong pakaian jadi proses kepindahannya dari kontrakan sang mama tidak seheboh peralatan sinetron striping. Hanya terkesan lebay karena kendaraan roda empat mereka jenis pick up, alias mobil angkutan barang.
Tak perlu di deskripsikan dengan detail bagaimana senangnya mama Tian, saat anaknya membawa tamu seorang wanita hamil. Yang pasti wajahnya selalu tersenyum berseri-seri. Setelah tau jika pasangan suami istri ini akan tinggal beberapa hari di kediamannya. (Author mau uraikan drama mama Tian menyambut Kaniya. Hanya, fokus kita adalah memecahkan kasus Abian. Jadi di skip saja tentang pemeran figuran si mama Tian ini.)
Tian seorang polisi, bagian intel pulak. Soal strategi penyelidikan semua ada dalam otaknya. Cara mendekati rumah itu pun tentu jauh berbeda dengan yang Abian lakukan. Tian memiliki banyak kaki tangan, mulai dari teman sesama Polisi sampai anak sekolahan. Semua ia kerahkan. Ada yang tiba-tiba menjadi teman Bayu di kampus, ada pula yang ia kirimkan untuk membuat Lidya terpesona dengan orang-orang bertampang Korea, anggota BTS? Ya … serupa itulah.
Sebab hanya dari nama anggota keluarga dalam rumah itu saja, Tian sudah dengan mudah mengetahui apa saja yang menjadi kegemaran dua anak Soraya.
Demi apa?
Demi mendapatkan info, apakah di dalm rumah itu Abrar masih ada. Itu cara yang Tian lakukan, bukannya berhari hari mantengin pagar rumah Abrar, demi menunggu satpam lengah dan Abian ingin jadi penyusup di dalamnya. Itulah Trik manis dari seorang Tian. Walau itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
“Rapi sekali … mau kemana Lidya?” Soraya tidak pernah melihat anak gadisnya berpakaian serapi itu dan berdandan seheboh sore itu. Dia merasa curiga, mungkin saja anaknya sudah kenal cinta. Sama seperti dirinya di jaman masih muda.
“Kencan.” Yes. Jawabnnya singkat padat dan jelas kan.
“Waw … pacar baru?” Soraya tak heran dengan anaknya yang cantik. Tak sedikit ia keluarkan dana untuk membeli skin care demi menunjang kecantikan yang sesuai keinginan anak daranya itu.
“Hu”um. Tapi kali ini bukan teman sekolah Mam. Tapi pengusaha.” Jawab Lidya bangga.
“Hebat banget sih …Bukan suami orang kan Lid?” tanya Soraya kepo.
“Tentu tidak mam. Dia masi muda. Nanti Lidya kenalin deh.” Lidya berlari ke depan pintu, sebab ia sudah melihat dari kaca, jika pria yang baru di kenalnya itu sudah berada di dekat pintu masuk rumahnya.
“Udah siap …?” suara lelaki itu ramah juga terdengar renyah saat sudah berada di ambang pintu. Lidya mengangguk pelan dengan senyum lebar dan pipi sedikit merona kesenangan. Lelaki yang bahkan baru di kenalnya itu, sungguh berani menjemputnya kerumah dan akan berkenalan dengan mamanya.
“Astagaa … Kenapa aku jadi sakit perut. Boleh numpang ke kamar kecil ?”
Bersambung …