LOVE WITH MY HOT UNCLE

LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 54 : RAYUAN RECEH



Tiga hari hanya Tian lakukan untuk mengatur strategi bagaimana agar bisa masuk dengan legal ke dalam rumah Abrar. Dan kali ini Rio di setting sebagai pengusaha muda, tugasnya adalah melakukan pendekatan dengan Lidya. Wajahnya oriental. Persis seperti lelaki yang sangat di idolakan oleh Lidya, yang Tian ketahui dari media sosial yang biasa ia jadikan ajang curhat, ajang pamer tentang apapun yang menurutnya penting untuk di posting.


“Silahkan masuk …?” dengan cepat Lidya mengijinkan Rio masuk ke dalam rumah besar milik Abrar yang dulunya juga pernah menjadi milik Kaniya.


Lidya melempar senyuman pada sang mama. Lidya bangga saat melihat jempol sang mama teracung, pertanda Soraya pun terkesima dengan lelaki yang terlihat buru-buru masuk untuk mencari kamar kecil.


Rumah itu besar, Sebenarnya Rio cukup sulit menebak kamar mana sekira Abrar berada. Tetapi. Abian dan Kaniya pernah menjadi penguasa dalam rumah tersebut, sehingga denah dalam rumah itu sudah di pelajari oleh Rio. Maka nyasar ke kamar utama adalah hal yang harus ia lakukan sekarang.


Memang masuk ke dalam rumah itu legal. Tetapi jeprat jepret dengan kamera ponselnya adalah hal tanpa ijin alias ilegal. Rio sempat beberapa kali mengambil gambar seorang pria sedang tidur di kamar utama. Lalu buru-buru ke arah belakang, sebab suara Lidya terdengar memanggilnya.


“Bang Rio … kok lama?” Suara itu di buat nyaring, hanya agak manja.


“Iya niih … aku ada salah makan apa, tiba-tiba sakit begini. Maaf Ya Lid. Jalannya boleh batal ga? Ku ga bisa jauh jauh dari WC nih.” Alasannya sebab belum puas mengeledah rumah tersebut.


“Ga papa … kita di rumah saja, boleh kan mam.” Lidya minta persetujuan sang mama untuk ngobrol di dalam rumah itu.


“Iya … silahkan. Mami dan papimu juga mau keluar. Kalian di rumah saja.” Ujar Soraya yang kemudian masuk ke dalam kamar yang baru saja di masuki oleh Rio tadi.


“Lid … maaf banget, aku ke belakang lagi boleh.” Belum lama Rio duduk, dia sudah minta ijin lagi ke belakang.


“Iya .. silahkan. Ku cari obat dulu buatmu.” Lidya merasa perlu memberi pertolongan pada tamu laki-lakinya ini.


“Mam … kotak obat di mana?” tanya Lidya menuju kamar sang mama yang sudah terlihat berisap keluar bersama lelaki yang tadi rebahan di kamar mereka.


“Ga ada di kamar mami, Lid. Kamu cari di kamar belakang sana.” Suara itu tidak terdengar bersahabat. Dan Lidya buru-buru menuju kamar belakang, hampir bertabrakan dengan Rio yang baru keluar dari arah yang sama.


“Kenapa dari arah situ?” tanya Lidya bingung.


“Ya sejak tadi aku ke kamar kecil yang di situ.” Tunjuknya pada salah satu pintu kamar mandi di dekatnya.


“Oh … bentar ya bang, Lidya carikan obat dulu buat abang.” Lidya terus masuk ke sebuah kamar tak jauh dari kamar kecil yang di tunjuk Rio tadi. Dan ia mengekor Lidya.


Masih dengan sembunyi-sembunyi Rio merekam keadaan di rumah itu dan gerakan Lidya.


“Kenapa pegang hape terus sih Bang?” Lidya melihat jika cara Rio mmemegang ponsel itu seperti tidak sedang melakukan chat, tetapi mengambil gambar atau Video.


“Kamu cantik, bolehlah semua kegiatanmu abang simpan. Takut kangen.” Bisikmya seolah merayu. Membuat Lidya tersipu. Hah anak SMU tahun nterakhir tentu sudah paham dengan rasa aneh yang bergelenyar di dalam hatinya.


Obat sudah di dapatkan oleh Lidya, dan mereka kembali ke depan. Melihat pasangan suami istri sudah keluar dari kamar menuju garasi samping.


Rio sudah berada di rumah Tian, dengan bangga memperlihatkan laporan jobnya di hari pertama.


“Gimana bang … oke kan kerjaanku.” Rio minta di puji oleh Tian.


“Hallah … kerja sambil kencan memang spesialismu.” Kekeh Tian memperhatikan video yang Rio ambil.


“Om … ini mas nya? Sehat kok, bisa jalan. Ga stroke seperti yang Om ceritakan.” Abian memindahkan data ke laptop, agar lebih mudah di lihat dengan jelas. Abian pun mendekati Tian, untuk memastikan jika Abrar sungguh telah sehat dan baik baik saja.


“Hah … itu bukan mas Abrar.” Abian melotot. Hampir keluar biji matanya melihat bebrapa foto Soraya yang berjalan keluar rumah menuju garasi bersama seorang laki-laki yang tidak ia kenali.


“Kamu yakin sedang syuting di rumah Lidya ?” Tian bertanya pada Rio dengan wajah bingung.


“Ya sesuai rujukanlah.” Rio menjawab dengan penuh keyakinan.


“Tapi ini bukan kakak saya.” Abian berbicara dengan awalan keras, kemudian berubah pelan. Ia tak mau Kaniya mendengar kehebohan itu. Bukan mau menyembunyikan berita terkini. Hanya istrinya sedang hamil. Abian tak mau Kaniya banyak pikiran yang akan berpengaruh pada anak yang kini di dalam kandungannya.


“Hah …?” Giliran Tian yang bingung. Tangannya terus menekan mouse untuk mengubah tampilan, berganti pada potongan pic yang banyak di dapatkan oleh Rio.


“Tapi ini benar rumah mas nya …?” Tian memastikan Rio tidak masuk dalam rumah yang salah.


“Iya … benar. Itu Soraya istri kedua mas Abrar. Tapi itu bukan mas Abrar.” Jawab Abian dengan suara tak nyaring.


“Tapi itu adalah pria yang sama, yang ku foto sedang tiduran dalam kamar utama.” Rio membela diri ding. Sudah susah payah ia di seludupkan demi sebuah misi untuk masuk ke rumah asing tersebut.


“Apa … Tidur di kamar utama? Kamu bercanda ….” Abian menarik sudut kanan bibirnya, merasa lucu dengan keterangan yang Rio sampaikan.


“Sungguh, tujuan utamaku kan ke kamar tidur itu. Untuk mengambil gambar apakah mas nya ada di dalam kamar itu. Dan benar, dia sednag tiduran sampai tak sadar aku foto. Lalu itu adalah orang yang sama, yang berangkat dengan mamanya Lidya. ‘mami papi pergi dulu ya Lid, hati-hati di rumah’ begitu pamitnya.” Rio mengulangi ucapan Soraya dengan jelas.


“Mami dan papi …? Sejak kapan mas Abrar di panggil papi. Walau Bayu anak tiri tetap memanggilnya papa, bukan papi. Lidya apa lagi.” Jelas Abian yang protes hanya perkara panggilan itu.


“Yaa … mana ku tempe. Aku hanya di tugaskan merekam, memoto dan melaporkan keadaan yang real.” Rio menggendikan bahunya. Sementara Tian tetap menekan tombol geser untuk menganti video lainnya.


“Stop … stop. Itu …, itu di ruang mana? Coba ulang.” Pinta Abian pada video yang isinya tentang ucapan berisi rayuan Rio pada Lidya yang tersipu tadi. Membuat Rio membuang muka, mungkin malu dengan gombalan recehnya pada Lidya.


Bersambung ….