
Veronia memang tidak menetap di apartement Kaniya dan Abian, karena ia juga punya Denoya yang masih butuh di perhatikan ketika di rumah. Mereka sudah berkenalan saat bertemu. Walaupun hanya Kaniya yang di kenalkan sebagai kakak kandungnya dan Abian sebagai suami kakaknya, bukan sebagai om atau saudara ayahnya, Abrar.
Sitah dan Veronia tak sengaja bertemu saat sama-sama mengais sampah untuk memilah milih sampah mana yang dapat di daur ulang kembali, untuk di jual kembali. Sebagai mata pencaharian mereka yang tidak memiliki pekerjaan tetap waktu itu.
Tapi, secara tak sengaja mereka bertemu dengan Tian. Yang saat itu juga melakukan pekerjaan tidak jauh berbeda dari Sitah dan Veronia.
Nama Ipeh itu di berikan oleh Sitah, sebab katanya nama Veronia terlalu keren untuk seorang pemulung seperti mereka. Tian tertawa saja, saat mendengar obrolan dua wanita itu. Yang kemudian bertanya pada keduanya, pekerjaan apakah yang cocok untuk nama seorang Veronia.
“Haha … nama veronia itu hanya cocok jadi pegawai kantoran Tuan Tian. Kalo Cuma mulung mah… Ipeh aja cocok.” Sejak itu nama Veronia hilang, berganti dengan Ipeh. Dan sejak itu juga, keduanya tidak lagi jadi pemulung. Sebab Tian memberikan lowongan pekerjaan untuk mereka bekerja sebagai tukang masak di rumah tahanan. Tetapi yang lebih aktif bekerja di sana adalah Ipeh. Dan Sitah memang lebih sering di panggil Tian untuk bekerja sebagai pembantu di tempat tinggalnya yang berpindah-pindah.
Kesininya akhirnya Sitah tau, jika Tian adalah seorang Perwira Polisi bagian Intelejen. Tugasnya sebagai penyelidik, pengamanan dan penggalangan di dalam negeri dan luar negeri. Pantas saja sangat mudah baginya untuk melacak soal Abian dan Alice beberapa waktu lalu. Juga tempat tinggalnya yang berpindah-pindah itu. Semua bagian dari tuntutan pekerjaannya. Ia mesti pandai merubah diri, seperti bunglon. Juga, itulah sebabnya mengapa ponselnya kadang hidup, kadang mati sesukanya.
Jangan tanya mengapa Tian tidak lagi tinggal di unit sebelah Abian dan Kaniya. Bukan karena kontraknya habis. Tetapi misinya yang sudah selesai. Jangan juga percaya tentang jobnya di Kalimantan Selatan, sebab tidak semua yang Tian katakan itu benar. Termasuk usianya yang katanya baru 25 tahun, itu hanya bagian dari skenario identitas palsunya saja.
Tian hanya sedang memancing sindikat penyaluran sugar baby yang marak beredar. Bukankah untuk menyempurnakan penyamaran, ia juga harus sempat menjadi pemain atau juga ikut 'memakai' para baby sugar seperti Anik, Bela, Mona dan lain sebagainya itu,
“Hah Kenapa Tian …?” tanya Kaniya bingung mengapa segampang itu ibunya memilih nama itu untuk menolong menyelesaikan masalah mereka.
“Ya … setidaknya ia punya teman yang bisa menghentikan berita ini agar tidak menyebar luas.” Jawab Veronia menyampaikan argumentnya.
“Mama … Arsitek seperti Tian tidak sehandal itu juga, bisa mengatasi masalah kami ini.” Bantah Kaniya merasa ibunya terlalu berlebihan akan kemampuan seorang Tian.
“Arsitek …?” ulang Veronia agak heran dengan bantahan anaknya.
“Iya … Tian itu hanya seorang Arsitek Ma. Mana ada hubungan pekerjaannya dengan masalah kami.” Kaniya tertawa dengan ide mamanya.
"Tuan Tian itu seorang Perwira Polisi bagian Intelejen, Niya. Kasus seperti yang kalian hadapi ini makanannya.” Veronia meyakinkan.
“Intel …? Mama bercanda.” Kaniya menatap setengah mengejek sang mama. Terlalu tinggi daya halu sang mama, sampai menyebut Tian adalah seorang Polisi.
“Mama tau dari mana?” Kaniya masih tak percaya.
“Kalau tidak bertemu Tuan Tian, mana mama punya uang untuk menyekolahlan adekumu Denoya. Mama lama bekerja sebagai juru masak di rumah tahanan. Itu adalah sumber keuangan mama dan adikmu selama ini. Jika bukan rekomendasi dari Tuan Tian, mama mana bisa mendapat pekerjaan itu. Walau gajihnya hanya untuk makan dan sedikit menabung untuk biaya sekolah adikmu, tapi itu halal.” Veronia menceritakan pengalaman hidupnya pada Kaniya. Demi meyakinkan sang anak bahwa Tian adalah sungguh seorang perwira Polisi.
“Hah … berarti pengakuannya sebagai seorang Arsitek selama ku kenal dia itu bohong Ma?” Kaniya mendadak gagu, sama sekali tak curiga dengan pekerjaan tetangga sebelah unitnya itu.
Iya sih, bodynya memang atletis cocok saja jika ia pernah mengenyam pendidikan secara militer. Tapi dengan rambut messy ponytall itu cukup mengecohkan Kaniya, walau pun jujur. Justru model itu yang membuat ketampanan Tian menjadi maksimal. Macho dan charming banget.
“Dia Intel, justru makin mirip dengan Polisi akan membuatnya sulit menjalankan tugasnya.” Lanjut Veronia menambahkan keterangannya.
“Huh … pantas saja Tian sangat mudah melacak keberadaan Om Abi waktu itu. Ternyata bukan karena memiliki Kolega seorang detektif. Justru dia sendiri seorang penyidik. Sialan.” Gumam Kaniya yang masih di dengar oleh Abian dan Veronia. Memunculkan senyum simpul pada wajah yang mulai menua itu.
“Tidak aktif. Inilah keburukan seorang Tian, dia tidak bis di hubungi semau kita. Ponselnya aktif hanya di saat di butuh.” Kaniya terlihat sibuk mencoba menghubungi Tian.
“Astagaa …” Sergah Abian mengusap wajahnya dengan kasar. Sejak tadi, Abian bukan tidakikut dalam obrolan yang Kaniya dan ibunya bicarakan. Tetapi ia sedang sibuk membaca grafik saham prusahaanny yng semakin turun. Itu adalah efek dari isu yang beredar. Jika sudah begini, perusahaan yang sudah dengan susah payah di kelola oleh Abian terancam bangkrut. Kemiskinan kini di depan mata.
Sepekan berlalu, tanpa tidakan apapun dari Abian. Ingin Konfirmasi perihal kebenaran akan isu itu. Jelas tidak mungkin, karena itu benar adanya. Ingin bangkit, terlalu terpuruk posisinya untuk menyelamatkan dirdan perusahannya.
Alhasil, perusahaan Abian di nyatakan pailit. Dan di ambiul alih oleh Perusahaan di mana Alice bekerja. Alice dan Soraya sudah menjadi pemegang saham untuk perusahaan Abian yang hanya tinggal namanya pernah tercacat sebagai pimpinan kurang lebih setahun berjalan.
Kehamilan Kaniya terus berjalan, sedangkan keuangan mereka tidak semulus yang mereka harapkan. Memutuskan untuk menjual aset bergerak dan menyewakan Apartement yang ia miliki adalah hal yang bis Abian lakukan. Untuk modal hidup baru bersama istri barunya tersebut.
Pulang ke desa asalnya berada adalah pilihan Abian. Setidaknya di sana masih ada rumah peninggalan orang tua mereka. Untuk ia dan Kaniya tempati. Menjelma menjadi warga kampung, menjadi orang biasa, melupakan sejenak gelas magister yang bahkan pernah ia dapatkan di London. Demi melanjutkan hidup dan kehidupannya bersama Kaniya.
Menjalani hidup sederhana demi menghindar kerumitan hubunguannya bersama Kaniya di desa. Bagi mereka, mungkin ini adalah bagian dari hukuman atas pelanggaran tata susila yang telah mereka lakukan. Dan Abian sebagi kepala keluarga sudah sewajarnya memutuskan hal penting ini.
Bersambung …