LOVE WITH MY HOT UNCLE

LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 48 : KERTAS LUSUH



Di awal perjumpaannya dengan Damar, lelaki tua yang mengaku teman Indah dan Waluya ayahnya itu. Sudah tidak nyaman, di tambah lagi dengan cerita yang ia sampaikan. Bagi Abian, bisa saja. Dan Mungkin itu bagian dari khayalan Damar saja. Abian bahkan sudah tidak perduli dengan pertalian darahnya dengan Kaniya. Harta, dan tahtanya telah hilang, Abrar saudaranya pun tak tau kabarnya. Kini ia tak ingin sampai kehilangan wanita yang amat di cintainya. Dan bagi Abian, ini bagian dari hukuman dan konsekuensi drama kehidupannya yang melawan adat istiadat sebagi manusia pembangkang. Seolah ia adalah manusia yang tak tau tatakrama dan tata susila.


”Aku sudah pernah protes dengan perbedaan namaku dan mas Abrar pada ayah waktu kami kecil dulu. Kenapa nama mas Abrar sama dengan ayah?” Ulang Abian seperti dialognya waktu itu.


“Karena Wiguna itu nama teman baik ayah. Dan ayah mau, kalian nanti juga akan seperti teman yang saling setia antara satu sama lain.” Kenang Abian pada alasan sang ayah.Waktu itu ia dudik di bangku kelas 2 SD. Mana dia tau, apa maksud alsan di balik itu.


“Itu tidak salah. Itu bagian dari harapan Waluya. Bagaimanapun, kami sangat terpukul atas kecelakaan yang Wiguna alami. Saat itu ibumu Laras sedang mengandung kamu. Di usia kandungan yang sudah sangat tua. Hari itu sangat naas bagi kalian. Ayah kandungmu Wiguna meninggal di tempat, dan ibumu patah kaki. Indahlah yang membantu merawat luka patah tulang itu, hingga melahirkan kamu. Namun, sepeninggalan Wiguna, Laras bagai hidup segan mati tak mau. Kepergian Wiguna bagai telah merenggut separuh dari nyawanya. Ia tak memiliki semangat untuk sembuh, bahkan takut menjalani hidup berdua saja denganmu, tanpa suami.” Damar terlihat letih menyampaikan cerita itu. Sakit dadanya menahan sesak, akan kenangan masa lalu yang pedih nan sedih tersebut. Dari dalam sakunya, ia mengeluarkan sepucuk kertas lusuh, warnanya tidak putih. Lusuh dan telihat sudah sangat tua.


“Ini … tulisan tangan ibumu, Laras. Sebelum ia menghembuskan nafas terakhir.” Damar menyerahkan kertas itu pada Abian. Sehingga kini, kertas itu sudah berpindah tangan.


^^^Maaf …^^^


^^^Bukan aku tidak menginginkan anak yang baru ku lahirkan ini. Hanya, membesaraknnya tanpa Mas Wiguna, bagiku seperti sebuah hukuman. Tolong, asuh dan didik Abian Wiguna ini seperti kalian menyayangi anak kalian sendiri. Aku percaya kalian berhati mulia, yang tidak akan membedakan kasih sayang. Aku ingin menyusul Mas Wiguna, yang semalam hadir dalam mimpiku. Dengan kereta kencana, dia telah menjemputku. ^^^


^^^Sekali lagi maaf dan Terima kasih.^^^


^^^Laras – Wiguna^^^


Itu isi tulisan tangan dengan jenis huruf tegak bersambung, khas jaman dulu. Sepertinya nama Abian Wiguna itu bahkan pemberian dari kedua orang tua asli Abian. Melainkan memang telah di buatkan oleh ayah dan ibu kandungnya.


“Bagaimana aku tau jika ini asli …?” Abian tidak serta merta percaya begitu saja akan coretan di atas kertas lusuh tersebut. Walau tangannya masih memegang kertas tersebut.


“Kedua orang tua kandungmu telah meninggal. Bahkan kini kedua orang tua angkatmu juga sudah menyusul. Satu-satunya yang bisa membuat mu yakin, mungkin kakakmu Abrar. Dia sudah tau semuanya. Ayahmu, Waluya sudah menjelaskan padanya. Sebab, saat kamu di bawa dari rumah Wiguna, dia sudah berusia 6 tahun. Ia sempat cemburu dengan kehadiran bayi di rumah kalian. Sebab semua perhatian tercurah untuk kamu, dan dia seolah di nomor duakan. Hanya, Waluya memang sangat baik mendidik kalian, sehingga sampai kalian dewasa. Ia tak pernah membongkar identitas aslimu. Ya kan …?” tebak Damar pada Abian.


Sungguh, sedikitpun Abrar tak pernah terlihat tak menyayangi Abian. Bukankah, perusahaan pun di berikannya untuk Abian. Pendidikan terbaik ia berikan pada adik satu-satunya ini. Lalu, apa alasan Abian untuk percaya jika Abrar bukan kakak kandungnya.


Indah ibunya, yang merawatnya hingga SMP pun, tak pernah sedikit pun menyinggung tentang dia yang bukan anak kandung di keluarga tersebut.


“Begini … tentang apakah kamu percaya atau tidak akan sebuah kebenaran ini. Semua terserah padamu. Hanya, surat ini ada di saya. Karena Indah yang pernah menitipkannya saat penyakit diare itu, sungguh membuatnya banyak kekurangan cairan dan terlambat di tangani tim medis. Dan itu sungguh telah merenggut nyawa beliau.” Ya … Abian ingat betul, betapa nelangsa hatinya, saat melihat sang ibu yang berangkat dari rumah di bantu tetangga dalam keadaan lemah, dan ke esokkan harinya, saat pulang sudah menjadi jasad tak bernyawa.


Abian hampir gila di buat oleh keadaan. Merasa hidupnya sebatang kara di desa. Tak punya ayah, ibu juga pergi untuk selamanya. Beruntung hanya selang sebulan ia hidup sendiri, kemudian Abrar datang menjemputnnya, untuk hidup bersama di kota. Menimba ilmu dan ternyata mendapatkan cinta sejatinya pulak.


“Maaf Pak. Saya bukannya tidak percaya. Hanya rasanya seperti mimpi saja semuanya.” Jawab Abian yang nada bicaranya sudah jauh lebih bersahabat dengan Damar.


“Saya sudah tua, sebelah kaki saya sudah di kubur. Badan saya juga sudah bau tanah. Sia-sia masa muda saya berjuang untuk hidup. Jika di akhir waktu hanya saya habiskan untuk menipu. Bahkan tiap doa, saya lantunkan. Jika Allah ingin memanggilku pulang. Ijinkan saya bertemu denganmu terlebih dahulu, untuk menyampaikan amanah ini.” Papar Damar lega memiliki kesempatan untuk menyampaikan sebuah kebenaran.


“Saya tidak menuduh bapak menipu ataupun mengarang cerita. Hanya rasanya ini sesuatu yang sangat baru saya dengar. Dan untuk apa di ungkapkan.” Bohong saja Abian tidak suka dengan cerita yang Damar sampaikan untuknya. Sebab ini akan menjadi jalan. Jika hubungannya dengan Kaniya tidak tabu seperti yang di tuduhkan dan menyiksa pikiran mereka.


Namun, masih bertalian darah atau tidak. Abian sudah terlanjur cinta pada Kaniya. Bahkan rela mendapatkan hukuman dari alam juga Tuhan. Lelah hatinya untuk percaya lagi dengan kenyataan yang ia dapatkan hanya dari secarik kertas lusuh.


“Baik atau tidak isi sebuah kebenaran tergantung orang yang menerimanya. Hanya semua akan menjadi salah, jika orang yang sudah di berikan mandat untuk menyampaikan sebuah pesan. Namun tidak di sampaikan. Tentang apakah itu di percayai, sudah bukan urusan si penyampai pesan.” Lanjut Damar yang tak mau berlama-lama bicara dengan Abian. Yang menurutnya tidak menganggap ceritanya benar.


Damar memilih pulang dan bermalam di sebuah rumah salah satu warga di desa itu. Untuk menunggu pagi datang dan sungguh pulang ke desa sebelah.


Sepeninggalan Damar, Abian termenung. Menatap langit kamar dengan Kaniya yang sudah mengantuk, dan akan pergi ke alam mimpinya.


“Apa Om harus pergi ke kota lagi ya Niya …?” tanya Abian dengan suara pelan pada Kaniya.


“Ngapain …?”


“Om sepertinya harus bertemu dengan mas Abrar.”


Bersambung ...