LOVE WITH MY HOT UNCLE

LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 22 : TERGODA



Tian adalah seorang pria cukup dewasa berpenampilan lumayan menarik, dengan kulit agak gelap. Sangat cocok dengan parasnya. Ia mengaku seorang Arsitek yang lebih sering bekerja di dalam ruangan. Membiarkan dirinya terpenjara dalam ruangan berisi peralatan gambarnya. Juga seperangkat alat dengar musik yang baginya akan sangat banyak membantunya mendatangkan inspirasi.


Tian memiliki tingkat kepercayaan diri tingkat dewa. Tanpa permisi ia sudah menjalin keabraban dengan Kaniya yang masih kagok dengan tamu mendadaknya ini. Hanya saja Kaniya tidak punya alasan untuk mengusirnya, sebab sepanjang pertemuan ini tidak ada hal yang terasa janggal juga menyimpang. Tian adalah tamu yang sopan. Juga mengaku pernah berkenalan dengan lelaki yang pernah menginap sebelumnya di apartement ini.


Tentu saja itu Abian, siapa lagi. Namun, tentang apa hubungan antara mereka Kaniya dan Abian belum bisa memastikannya. Tapi bagaimana dengan pertanyaan tamu dadakan ini, tentang siapa Abian.


“Dia siapamu …?” pertanyaan itu memang terdengar kepo. Siapa dia orang baru beberapa menit kenalan sudah mau tau saja hubungannya dengan Abian.


Kaniya mau bilang kalau Abian itu Omnya. Tapi itu dulu, Kaniya mau bilang kalau Abian itu calon suaminya, hah? Kaniya sendiri ragu, kapan akan di persunting oleh pria beristri itu.


“Harus di jawab?” tanya Kaniya dengan sedikit ketus dan nada yang tidak bersahabat.


"Ga wajib siih. Skip aja klo ga penting." Tian menanggapi dengan ogah-ogahan. Seolah surut keinginannya ingin banyak tau tentang gadis tetangganya ini.


"Kamu capek banget ya ... ? Istirahat gih, aku pulang." Tian sudah kembali mengangkat kotak yang berisi stok bahan makannya.


"Iya ... Lumayan capek. Maaf ya." Entah Kaniya merasa jika Tian tau dia tidak welcome atas kedatangannya.


"Santai saja. Bisa tolong aku bukakan pintu?" pintanya pada Kaniya sebab kotak itu memenuhi tangannya.


Kaniya tidak menjawab, namun patuh pada permintaan Tian.


"Terima kasih. Jangan abaikan chatku ya ..." lanjutnya sebelum Kaniya menutup pintu unitnya. Sembari mengangguk.


Kaniya baru saja akan mandi. Namun, tersadar jika sejak tiba di unitnya, ia tak memegang ponselnya. Tadi ia menyalin secara manual saja pada ponsel Tian.


Dan ternyata ponsel Kaniya sudah di penuhi dengan notifikasi panggilan tak terjawab dari sang pangeran hati. Abian, siapa lagi.


"Ada apa?" sapa Kaniya agak malas, pada panggilan VC yang ia lakukan sendiri sambil merendam tubuhnya dalam bath up.


"Kenapa baru aktif?" tanya Abian yang dapat melihat dengan jelas jika kekasih gelapnya itu baru saja masuk dalam bak besar yang biasa mereka gunakan mandi bersama. Mandi versi mereka yang kadang 1 jam aja ga kelar.


"Ku baru pulang. Terus ada tamu." Jawab Kaniya masih asyik merendam tubuhnya.


"Tamu ...? Siapa?"


"Tetangga sebelah. Namanya Tian. Katanya pernah kenalan sama Om Abi." Kaniya tidak memandang kearah Abian. Ia menutup matanya untuk mendapat sensasi relax yang ia ciptakan sendiri. Dengan VC yang Abian lakukan, membuatnya tidak merasa sendiri dalam kamar mandinya itu.


"Oh ... Iya. Namanya Tian. Dia seorang Arsitek."Jawab Abian mengingat perkenalannya hari itu.


"Tadi dia tanya... Om siapanya Niya." Lanjut Kaniya memancing statusnya pada Abian.


"Kamu jawab apa?" semangat Abian penasaran.


"Hah ...? Kok gitu?"


"Oh .... salah ya? Besok deh Niya bilang, kalo Niya tadi cuma ngePrank dia." Kaniya berkata dengan santainya.


"Ya ga gitu juga." Abian bingung sendiri.


"Trus ... Gimana yang benar? Niya kan emang mau jadi istri Om. Mau banget malah? Maksud Niya bilang kalo Niya istri Om itu biar besok besok ga di ganggu. Ya ... Walau ini hanya halunya Niya aja." Suara itu berubah lirih.


"Maaf Babby. Malam ini om tidur di situ deh. Calon istri om udah berendam, pasti wangi." Hah ... Abian memang pintar merayu Kaniya yang memang sudah bucin akut padanya.


"Om ga usah ke sini. Kalo ga pamit sam tante Alice. Niya ga suka om telponan sama dia di deket Niya. Kalo om lagi sama Niya harus fokus sam Niya aja. Sama kaya Om yang sedang sama tante Alice, yang ga mau Niya ganggu." Tegasnya, sambil keluar dari bath up. Dengan tubuh yang masih basah juga tanpa penutup apapun. Dan itu tidak luput dari pengelihatan lawan bicaranya.


"Niya ... Lagi menggoda Om?" pake nanya lagi. Ya iyalah...


"Niya lagi mandi Om." Jawabnya menyalakan shower untuk membilas tubuhnya. Dan itu lebih menunjukkan lebih jelas lagi lekukan tubuhnya, yang membuat Abian gelisah. Abian yang selalu berhasrat tiap melihat Kaniya. Bukan hanya saat ia tidak menggunakan apa-apa. Tetapi saat hanya memandang wajahnya saja bagi Abian, Kaniya adalah santapan menggiurkan. Aneh.


“Niya sarankan Om tidak usah ke sini, Niya capek. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan.” Kaniya kini menghadap kamera dengan benar. Sebab ia sudah membalut tubuhnya dengan handuk, lalu membawa ponsel itu ke kamar. Ia kemudian akan melanjutkan ritual selesai mandinya, yaitu mengoles lotion pada seluruh permukaan kulitnya, seperti kebiasaan rutinnya.


Abian tidak menjawab lagi, bahkan memilih memutuskan panggilan itu. Kaniya tau, jika demikian Abian akan bagai hantu yang dalam sekejab tiba-tiba muncul di hadapannya.


Ting tong


Suara bel berbunyi. Kaniya merasa kali ini Abian agak monyol, tak biasanya prianya itu membunyikan bel untuk masuk unitnya. Bukankah ia pun tau sandi pintu itu, lalu mengapa kali ini ia bercanda senorak itu.


“Kenapa ga langsung masuk aja sih Om, pake pencet bel segala.” Semprot Kaniya tepat ketika membuka pintu. Namun wajah cerianya seketika kaku, sebab ternyata itu bukan Abian, melainkan Tian.


“Maaf, aku belum tau sandi pintumu, makanya pencet bel.” Kekeh Tian yang senang melihat wajah ceria Kaniya menyambutnya di depan pintu.


“Oh … ku kira Om Abian.” Jawab Kaniya salah tingkah.


“Oh … dia Om kamu.” Jawab Tian yang akhirnya mendapat jawaban akan hubungan Kaniya dan Abian.


“Bisa bantu aku sebentar …?” tanya Tian tanpa menunggu respon Kaniya setelah ia meyimpulkan sendiri hubungan Kaniya dan Abian.


“Bantu apa?” Kaniya hanya sempat bertanya sebentar. Sebab kini tangannya sudah di tarik Tian menuju unitnya di sebelah. Untungnya pintu unit Kaniya jika tertutup, langsung terkunci otomatis. Sama dengan posisinya sekarang yang tiba-tiba mendarat di unit sebelahnya.


Ya kini Kaniya berada dalam unit Tian. Waw. Unit mereka memiliki ukuran yang sama, tapi tidak dengan interiornya. Isinya sangat astetic, sedikit neyentrik dan Tian jelas penyuka warna cerah, terlihat dari cat dinding yang lebih mirip dengan dinding Taman Kanak-kanak di penuhi warna abstrak. Memang menbuat kesan sempit semua ruangan itu, tapi semuanya tertata rapi dan suasana berbeda saat berada di dalamnya.


“Aku bisa bantu kamu apa …?”


Bersambung ...