LOVE WITH MY HOT UNCLE

LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 15 : KEINGINAN LIDYA



Alice memang tidak sengaja bertemu dengan Abian yang saat itu mereka sama –sama sedang berada di perpustakaan. Tangan keduanya saling bersentuhan saat akan mengambil buku yang sama. Itulah awal pertemuan dan perkenalan mereka. Bisa berjumpa di dengan sesama warga negara yang sama di negeri orang tentu suatu yang sangat sulit dan jarang terjadi.


Abian sosok lelaki yang humble, perhatian, cerdas juga tampan. Memiliki postur tubuh sempurna idaman para gadis remaja apalagi sedewasa Alice yang seyogyanya sudah bersuami atau paling tidak memiliki seorang pria yang mau berkomitmen serius dengannya.


Pergaulan Alice tergolong bebas, tidak sekali ia kenal lalu dekat dengan beberapa pria. Hubungannya baik dan menyenangkan. Saking senangnya semua rata-rata berakhir dengan berbagi kehangatan di atas ranjang. Dengan demikian Alice menyimpulkan semua lelaki yang tergoda dengan ajakannya untuk berbagi peluh bersamanya, bukanlah pria yang layak untuk ia jadikan sebagai kepala keluarganya saat ia membina rumah tangga kelak.


Abian adalah satu-satunya pria yang tidak tergoda. Bahkan cendrung dingin, jika ia dekati. Namun, selalu mengaku bahwa ia cinta pada Alice. Untuk pertama kalinya Alice merubah pandangannya terhadap lelaki. Menurutnya, jika Abian mampu menahan diri untuk tidak tergoda meladeninya sebelum menikah. Abian pasti mampu menghalau beberapa godaan lainnya.


Namun berjalan dengan seiringnya waktu Alice merubah pikirannya. Tiba-tiba ia seolah baru menyadari. Jangan-jangan ia hanya sedang cinta sendiri. Dan berusaha mencari penyebab, kemana cinta Abian sesungguhnya berlabuh. Namun ia gagal mendapatkan bukti. Hingga akhirnya Abian sungguh melamarnya. Ia tak menemukan sesuatu yang aneh terhadap suaminya. Kurang lebih enam bulan bersama di Indonesia dan telah terikat tali suci pernikahan. Abian adalah suami yang manis. Dan selalu hangat bahkan hot menerima haknya sebagai suami di atas tempat tidur.


Alice juga sudah memastikan semuanya lewat sekretarisnya, sungguh. Abian bersih tanpa bercacat cela sebagai suami. Memilih percaya adalah hal yang tidak membuat kepalanya pusing sendiri.


***


Di sebuah rumah sakit swasta, Abrar masih berjuang melawan komanya yang tiba-tiba menyerang. Mungkin masalah di otak Abrar selama ini memang besar, terlampau pelik. Ingin menjadikan Soraya tempat berbagi, namun ia salah. Bukan ketentraman yang ia dapatkan, melainkan tekanan bertumpuk tekanan dan tuntutan yang selalu ia dapatkan.


Dan ternyata, bukan hanya Kaniya yang tidak di ijinkan masuk untuk menjenguk Abrar. Abian pun ternyata tidak di perkenankan Soraya untuk sekedar melihat kakaknya sendiri.


“Biarkan Mas mu itu istirahat dulu.” Begitu katanya dengan ketus.


“Mbak saya hanya mau lihat Mas Abrar sebentar.” Pintanya dengan sopan.


“Apa yang bisa kamu lakukan? Dia hanya diam begitu saja.” Dengan matayang di buat agak melotor Soraya berkata-kata.


“Mbak … apa benar yang di katakan Niya. Soal DNA itu?” itu adalah tujuan kedatangan Abian menemui kakanya atau istri keduanya.


“Apa aku harus mencopy memperbanyak dan menyebarkannya sebanyak mungkin soal aib kakak iparmu terdahulu itu. Abrar sendiri sampai koma setelah berita ini terungkap.” Judes dan peda sekali jawaban dari Soraya.


“Lalu mengapa mbak buka?” Abian tak habis pikir dengan kelakuan istri kakaknya ini. Itu jelas aib, lalu mengapa ia umbar.


“Hanya supaya Kaniya tau diri. Sok so’an mau kuliah di London. Bahkan dia itu hanya anak haram.” Soraya melipat tangannya di depan dada. Berbicara dengan nada yang sangat tidak bersahabat.


“Untuk apa …? Untuk membesarkan kepala anak haram itu? Kalian sama b0dohnya. Terlalu menyayangi anak seorang ja lang.” tidak ada kata-kata yang baik keluar dari mulut seorang Soraya. Semuanya mirip sampah.


“Terserah mbak berpikir apa. Yang pasti besok Kaniya tetap berangkat ke London. Saya berharap sebagai ibu Tirinya, mbak tetap memiliki atitude yang baik dalam hal mengantarnya. Paling tidak kalian memiliki foto sebagia bukti untuk besok, ketika mas Abrar sudah sembuh. Ia bangga pada Kaniya.” Setelah berkata demikian Abian pergi meninggalkan Soraya yang termangu.


Kemudian dai menemui dokter yang menangani kakaknya. Juga meninggalkan beberapa dana untuk tidak menyulitrkan istri kedua kakak tersayangnya itu. Abian ingin Abrar cepat pulih.


Walau sesungguhnya Kaniya tidak benar pergi ke London. Namun mereka tetap melakoni sandiwara itu. Untuk dengan sungguh membuat Kaniya seolah-olah tidak berada di Indonesia lagi. Demi memepermudah pertemuan mereka. Mempererat tali silaturahmi perselingkuhan mereka, syukur-syukur Abian segera dapat mencerikan Alice. Dan Soraya pun akhirnya ikut mengantar anak tirinya. Mengikuti saran Abian, agar ia tampak memberi restu atas keputusan Kaniya yang ingin hidup mandiri di negeri orang.


“Tante akan merindukanmu …” peluk Alice yang baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya. Dan langsung menyusul suaminya ke bandara. Untuk ikut mengucapkan kata selamat jalan, selamat tinggal, selamat dan sukses menggapai impiannya.


Wajah sedih menghinggapi Kaniya. Bukan karena dia berbohong atas kepergiannya. Bukan pula ia kecewa karena gagal kuliah di London. Namun, bagaimanapun. Ia tak bisa berpamitan pada Abrar yang berperan sebagi ayahnya kurang lebih hampir 20 tahun ini. Walau Abrar bukan ayah yang sempurna. Tetapi ia tetap pernah bergelayut mesra sebagai anak pada Abrar Waluya.


“Aku juga akan merindukan tante dan Om Abi.” Jawab Kaniya memeluk tubuh wangi Alice. Setelah ini ia wajib merengek pada Abian untuk membelikannya parfum yang sama dengan yang Alice gunakan. Sebab indra penciumannya merasa cocok dengan wangi yang Alice gunakan. Juga agar nantinya, tidak menimbulkan banyak kecurigaan. Jika bau parfum mereka beda. Kaniya sungguh mulai matang memikirkan kelanjutan hubungannya dengang Abian.


Kaniya siap dengan kisah cinta segitiga yang harus apik ia mainkan, di mana ia berperan sebagi pelakor. Yang harus pintar, tidak meninggalkan jejak. Agar tidak segera terendus hubungan terlarang mereka.


“Jaga diri baik-baik, Niya.” Huh … aktor kawakan Abian tak mau kalah memberikan pesan untuk si kesayangan.


“Ia … pasti dan wajib Om.” Jawab Kaniya sewajarnya.


“Tante Soraya, titip papa Abrar ya. Semoga beliau cepat sembuh, dan bisa menjengukku ke London.” Pesan Kaniya dengan terpaksa. Bagaimanapun ia harus tetap berinteraksi dengan istri pilihan papanya itu. Walau sejak pertama bertemu, hati Kaniya menolak.Tetapi pilihan sang papa tidak bisa di ganggu gugat, sudah seperti keputusan juri.


Dengan wajah sedikit malu, Bayu pun hadir dalam acara perpisahan bohongan tersebut. Jangan tanya wajah Lidya. Mukanya kaku, jelas ada rona iri dengki dan tak terima saat anak ayah tirinya itu, tetap berangkat ke London. Ia ingin mendapat fasilitas yang sama dengan Kaniya.


“Lulus SMA aku akan menyusulmu. Sampai jumpa.” Lidya mengucapkan itu bahkan dengan lantang dan penuh percaya diri. Mana dia bisa berpikir akan statusnya yang hanya anak Soraya dari suami sebelumnya. Siapa dia yang juga ingin kuliah di London. Kepergian Kaniya ini pun hanya bagian dari sandiwara.


Bersambung …