
Abian tidak merasa perlu menjawab apapun pada Alice. Sebab kini kendaraan yang mereka gunakan sudah terparkir di depan rumah Abrar.
“Kita cuma sebentar.” Abian merangkul bahu sang istri yang terlihat tidak berminat untuk bertandang ke rumah itu. Entah hatinya tak suka saja.
“Malam om. Malam tante Alice.” Kaniya. Malam itu Kaniya yang membuka pintu rumah kediaman Abrar. Ia menggunakan pakaian casual terlihat seperti menunggu seseorang untuk datang menemuinya atau siap di ajak bepergian. Dan Kaniya sempat kecewa saat membuka pintu, sebab bukan hanya Abian pujaan hatinya yang berdiri di depannya. Tapi juga ada istri pria kesayangannya itu, menjengkelkan.
Tetapi, Kaniya sudah tumbuh dewasa. Ia tidak berkuliah mengambil jurusan seni peran. Namun, ia mampu memainkan peran sebagai keponakan yang baik di hadapan pasangan pengantin baru itu. Sehingga saat ia menyapa, dengan sopan dan penuh hormatnya ia menyalimi punggung tangan Abian dan Alice. Dan hal itu sangat menyenangkan hati Alice. Tentu Abian juga.
“Wah … rapi sekali. Mau keluar Niya?” kepo Abian melihat keponakannya berdandan minimalis walau hanya di rumah saja.
“Eeeh … baru pulang jalan Om.” Bohongnya untuk membuang curiga pasangan di hadapannya.
“Temani tante Alice mu ngobrol sebentar ya, Niya. Om ada urusan sama papamu” Luar biasa. Jika tadi Kaniya yang terlihat santai dan selow menghadapi pasangan itu. Kini giliran Abian yang terlihat biasa terhadap Kaniya di depan istrinya. Mungkin tak lama lagi mereka akan menjadi kandidat pemenang nominasi the best akting pada ajang grammy award.
Alice dan Kaniya memilih teras samping yang banyak di tumbuhi bunga mawar yang terlihat terawat di sana. Sedikit bertukar cerita bagaimana proses pacarannya dengan Abian sewaktu di London menjadi topik utama mereka, malam itu.
“Sebenarnya tante juga ga nyangka Om kamu itu sungguh melamar tante ketika kami di nyatakan lulus. Waktu itu.” Alice terpancing dengan pertanyaan Kaniya yang mengaku penasaran mengapa Alice bisa menikah dengan Abian, om kesayangannya itu.
“Kenapa tan …? Bukannya Tante dan Om Abi sudah lama pacaran?” Kepo… tentu saja Kaniya ingin tau.
“Iya … kami memang lama berpacaran. Tapi …” kalimat itu tidak berlanjut. Ada jeda yang Alice gunakan untuk berpikir. Apakah Kaniya layak ia jadikan teman curhat yang baik. Secara Kaniya itu anak kecil di matanya. Hanya anak kuliahan semester 5. Apakah cocok tempatnya bercerita.
“Tapi apa tante …?” desak Kaniya memandang lekak pemilik mata indah di depannya.
“Ah sudahlah. Tante merasa tidak yakin ini wajar di konsumsi publik atau tidak.” Alice memutuskan untuk bungkam saja. Merasa malu sendiri, jika tiba-tiba curhat pada gadis kecil di depannya ini.
“Oh.” Jawab Kaniya singkat. Tak ingin mencolok, jika sesungguhnya ia kepo pake banget.
“Om Abi itu nice. Om Abi itu bahkan lebih pengertian dari papa. Sejak Niya tidak punya mama, Om abi yang menguatkan dan selalu menghibur Niya. Setelah Om pergi, Niya sempat sangat merasa kehilangan. Karena Niya kehilangan tempat berbagi lagi.” Kaniya memilih curhat terlebih dahulu pada Alice, berharap istri omnya itu akan melakukan hal yang sama setelahnya.
“Oh ya. Kalian memiliki hubungan baik dan akrab dong?” respon Alice terdengar tertarik dengan kisah Kaniya.
“Lumayanlah …” Kaniya tidak mau terlihat mencolok dan mengaku mereka sangat dekat. Bahkan semalam sudah saling bertukar peluh.
“Pacar …? Hah … Om Abi dulu kuliah sambil bekerja. Mana ada waktu untuk cewek-cewek. Mungkin pernah beberapa kali dekat dengan teman kuliahnya. Tapi semua tidak pernah serius. Makanya , Niya mau kasih jempol dua buat tante. Sebab tante Alice adalah teman kuliah om Abi yang berkhir di pelaminan.” Kaniya tertawa untuk menutup sedikit sakit hatinya. Bibirnya tertawa lebar seolah sungguh bahagia atas pernikahan Abian dan Alice, tapi tidak dengan hatinya. Di dalam sana terjadi huru hara, dan tak rela atas persatuan pasangan yang ia dengkikan itu.
“Masa sih. Jujurly … tante memang wanita yang di ajak Mas Abian ke pelaminan. Tapi mengapa rasanya ajakan itu tidak sepaket dengan hatinya?” yess, akhirnya Alice mengeluarkan uneg-uneg yang tadi tertunda.
“Gimana …?”
“Heeem … mungkin perasaan tante saja. Tante merasa om kamu itu seperti tidak tulus mencintai tante. Makanya tante tanya kamu, mungkin saja ada seseorang di masa lalu Mas Abian yang masih mengganjal di hatinya.” Obrolan itu mengalir, dan celakanya Alice tidak sengaja membuka aib rumah tangganya pada anak kemarin sore itu.
“Aku dan Om Abian memang dekat. Tapi bukan berarti urusan seperti itu juga jadi bahan obrolan kami kan tante. Mana mungkin Om Abi mau curhat sama Niya.” Pintar, cerdas bukan. Kaniya bagai melempar batu lalu sembunyi tangan. Saat sudah berhasil membuka mulut Alice, kini dia berlagak tidak ingin tau, tidak mau tau bahkan seolah tidak pernah ikut campur masalah orang lain.
“Ha …Ha … iya juga sih. Secara kalian tidak sama jenis. Ya tentu tidak bisa ngobrol sedalam itu.” Alice merasa konyol sendiri atas kesilapannya yang sudah curcol pada Kaniya.
Sementara di ruang lain. Yang isinya hanya Abian dan Abrar. Keduanya terlibat obrolan serius menyangkut masa depan perusahaan dan Kaniya juga.
“Ku dengar Niya akan pindah ke London?” Abian mengubah topik pembicaraan mereka setelah td bicara soal bisnis.
“Kamu memang selalu update tentang keponakanmu itu.” Jawab Abrar dengan kilatan senang. Bahwa walau telah lama tidak berada di Indonesia, adiknya tetap memiliki waktu untuk memperhatikan anaknya. Abrar tidak tau saja, bukan hanya waktu dan perhatian yang Abian berikan pada keponakannya, bahkan benihnya pun sudah tertelan sempurna di rahim keponakannya tersebut. Br3ngsek.
“Kemarin … Niya ada chat. Isinya soal pamit, sebab dia sedang menunggu proses saja soal keberangkatannya ke London, Mas.” Jawab Abian datar.
“Mas sadar, jika selama ini abai padanya. Dua minggu yang lalu dia datang ke kantor, dan meminta untuk di pindahkan ke London. Jujur dengan keadaan kantor Mas seperti sekarang, mungkin terlalu memaksa diri untuk menguliahkannya di sana. Tetapi, mas juga tau. Selama ini dia tidak pernah menuntut apapun dari Mas.” Curhat Abrar pada adiknya.
“Bagaimana jika ku bantu, Mas. Bagaimanapun perusahaan yang ku jalani sekarang kan milik mas. Jadi wajarlah jika keuntungannya juga demi kesuksesan Niya.” Tawaran yang sangat bijaksana bukan.
“Kamu serius …? Beberapa hari ini aku sedang kacau. Soraya mana pernah setuju akan hal ini. Dia terlalu aku manjakan, sampai aku abai dengan tanggung jawabku sebagai ayah dari putriku sendiri.” Abrar merasa lega.
“Nanti semua proses kepindahannya aku yang bantu urus Mas.”
Bersambung ….