LOVE WITH MY HOT UNCLE

LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 55 : ABRAR HILANG



Benar, tujuan di utusnya Rio adalah melakukan pendekatan dengan Lidya, agar ada yang bisa dengan leluasa untuk memastikan keberadaan Abrar di dalam rumah tersebut. Perkara apa yang terjadi di dalammya, itu bukan kesalahan Rio. Ia juga tak kenal mana Abrar. Menurut informasi, Abrar adalah pemilik rumah itu, yang merupakan suami Soraya. Menurut Rio, lelaki yang tidur dalam kamar utama adalah suami Soraya. Panggilan mami papi itu juga menurut Rio valid. Bahwa itu menandakan sebuah hubungan pasangan suami istri.


“Yang mana … ini?” Tian mengulang adegan Rio merayu Lidya waktu gadis itu sedang memilih obat untuk perut Rio yang katanya sakit itu. Tetapi Abian tidak fokus pada rayuan tak penting itu. Matanya tertuju pada tubuh yang tertelentang di atas kasur sebagai background Lidya berada.


“Itu … yang sedang rebahan, Bisa di zoom.” Abian menujuk arah belakang.


“Oh … kalo yang itu. Fotonya sendiri sempat ku ambil. Coba pindah ke file foto bang." Perintah Rio pada Tian yang bertindak sebagai operator.


“Ini … ?” tanya Tian membuka beberapa picture.


“Nah ini .. ini di kamar mana? Ini Mas Abrar. Astaga … kenapa kurus sekali.” Mandadak hati Abian nyeri, tak tega rasanya melihat tampang sang kakak terlihat begitu renta dan terlihat tak berdaya.


“Jadi ini Mas nya …? Lalu yang panggil mami papi tadi siapa?” Tian mendadak bingung.


“Fix … Soraya menikah lagi. Dan menyia-nyiakan mas Abrar.” Abian segera menganalisa. Sambil mengepalkan tinjunya.


Tian selanjutnya mengalihkan pandangan pada Rio. Tentu saja tugasnya bertambah lagi, selain memastikan Abrar masih berada di sana. Ia juga harus memastikan siapa lelaki yang keluar dari kamar utama. Dan Rio tak punya alasan untuk menolak, kecuali ia sudah bosan hidup nyaman. Dengan segala fasilitas yang Tian berikan padanya sebagai imbalan.


Hari terus berlalu, progres untuk mendapatkan info seputar isi rumah Abrar tidak lah sulit. Sebab Rio memang mahir berakting. Seolah ia memang sangat antusias melakukan pendekatan dengan remaja yang akan lulus SMA itu. Dan benar saja, pria itu adalah Handoko. Yang menurut Lidya adalah papinya.


Iya, Handoko itu adalah ayah Lidya. Menurut cerita mamanya, Handoko adalah ayah biologisnya. Dan Abrar hanya jalan untuk mereka dapat hidup enak. Mereka rela hidup terpisah untuk sementara, agar bisa mengumpulkan pundi pundi keuangan. Soraya tidak malu menceritakan hal itu pada Bayu dan Lidya. Bahwa Handoko sungguh ayah mereka. Karena itulah, sejak Abrar sakit. Semua akses di tutup oleh Soraya. Agar misinya kembali bersatu dengan suaminya itu tidak terhalang.


Abrar di biarkan sakit tanpa perawatan intensif. Bahkan Soraya sangat geram, dengan kekuatan Abrar yang tidak mati-mati. Baginya Abrar hanya mengganggu kebersamaan mereka membina rumah tangga harmonis dan lengkap.


Abian tak habis pikir dengan segala kejahatan yang Soraya lakukan pada Abrar. Beruntung, kasus ini di tangani oleh tangan yang tepat. Walau dengan cara yang sedikit ekstrim, Tian terus saja melakukan apapun untuk membuktikan semua kejahatan yang Soraya lakukan.


Tian masih punya stok wanita cakap untuk bisa bekerja di perusahaan yang kini di pegang oleh Handoko yang segera menjabat sebagai manager dan Soraya sebagai CEO sementara. Degann dalih mengantikan Abrar yang sedang tidak sehat. Dan wanita yang Tian kirim bertugas untuk meretas semua info keuangan dan apa pun yang berkaitan dengan kepemilikan perusahaan milik Abrar.


Hingga semua data terkumpul dengan lengkap, langkah selanjutnya adalah menculik Abrar dari rumahnya sendiri untuk di rawat dengan intensif. Tentu saja masih dengan bantuan Rio yang sudah semakin sering bertandang ke rumah tersebut. Kali ini dia memastikan jika Soraya dan Handoko tak ada di dalam rumah. Dan dalam mobilnya sudah ada beberapa orang yang akan memperlancar kegiatannya untuk menculik Abrar dari pintu samping. Tak jauh dari ia memarkirkan mobil yang ia bawa lebih besar dari biasanya.


“Mas … mas Abrar masih mengenali Abian kan?” ada Abian di dalam mobil yang menculik Abrar itu. Tentu saja bertujuan agar Abrar tidak merasa takut di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.


Abrar tak bisa bicara, pembuluh darahnya pecah mengenai sarap bicara. Tapi tidak dengan air matanya. Mata itu sudah bagai bendungan jebol. Abrar menangis sesungukan dalam pelukan Abian.


Mobil penculik itu tak jauh melaju. Hanya beberapa ratus meter, sudah berhenti. Sebab Tian sudah menyiapkan mobil ambulan yang berisi dengan tim medis dan peralatan lengkap. Agar Abrar segera mendapat penanganan yang baik sedini mungkin. Juga, di antarkan ke rumah sakit yang tidak satu kota dengan mereka. Agar Soraya sulit melacak keberadaan Abrar yang tiba-tiba hilang.


“Lidya … makanan sudah kamu antar buat Abrar?” Soraya sudah tiba dari jadwal pekerjaan yang padat hari itu. Dan itu sudah pukul 8 malam.


“Males … besok aja. Lidya ngantuk.” Begitu jawaban Lidya yang kadang memang bertugas untuk mengantar makanan untuk ayah tirinya. Hanya mengantar makanan, bukan menyuapinya. Sedangkan Abrar itu tidak mampu mengerakan sebelah tubuhnya dengan sempurna, makan dan mandi hanya di bantu Kimin, tukang kebun yang kadang masih setia menjenguknya ke kamar. Itu pun tidak tiap hari. Malangnya nasib Abrar.


“Nyah … nyonyah.” Teriak pak Kimin yang biasa membantu memandikan dan menyuapi Abrar di kamar belakang.


“Ada apa sih. Pagi-pagi sudah heboh! Saya belum tuli ya …” Ketus Soraya yang baru saja akan duduk untuk menikmati sarapan paginya.


“Tuan Abrar kemana?” tanya Kimin yang terkejut, sebab tak mendapati majikannya di kamar belakang.


“Pertanyaan b0doh macam apa itu Kimin. Kamu kan tau tuan kamu itu cacat, tidak bisa berjalan. Bercanda kamu tanya dia kemana? Coba lihat di bawah kolong, mungkin dia jatuh terguling ke bawahnya. Ha … ha …” Soraya akan bersorak kesenangan, jika Abrar jatuh. Kemungkinan matinya pasti akan lebih cepat kan. Dasar siluman ular.


“Sudah nyah … saya sudah mengeledah seluruh kamar, di bawah kolong juga. Tapi Tuan Abrar tidak ada di kamar belakang.” Kimin dengan semangat berapi-api menyampaikan informasi itu.


“Masa siih…?” Soraya akhirnya terusik. Dan melangkah menuju kamar, di mana ia meletakan Abrar. Untuk di ungsikan dan tidak mengganggu kemesraannya dengan Handoko. Ayah dari dua anaknya tersebut.


“Hah … sejak kapan Abrar hilang ? Cepat geledah dan periksa CCTV di rumah ini.” Soraya geram merasa aneh dengan raibnya sang pemilik rumah. Dan menggunakan seluruh pikirannya untuk memikirkan siapa pelaku dan dalang di balik semua ini.


Bersambung …