
Kaniya memang baru kenal dengan tamu yang kini duduk bersamanya di teras rumah. Tentu saja ia merasa asing dengan kedatangan bapak tua ini. Tetapi ia tak punya nyali untuk tidak menghargai kehadiran beliau yang telah susah payah datang dari desa sebelah, hanya untuk bertemu dengan suaminya. Sehingga secara alami, obrolan mereka pun mengalir dengan sendirinya juga seadanya.
“Bapak juga kenal pak Abrar …?” terpaksa Kaniya bertanya. Seolah ia yang tak kenal dengan nama lelaki yang pernah 23 tahun dipanggilnya papa itu.
“Tentu … bagaimana bapak tidak kenal dengan putra bu Indah yang satu itu. Dia sosok kakak yang sangat baik, ramah, pintar juga santun. Sifatnya persis dengan sahabat saya Waluya. Jika bukan karena dukungan Waluya, bapak tidak akan bisa berhasil terpilih jadi Kepala Desa. Dan saya tidak akan bisa bertahan lama memimpin desa ini, jika bukan karena perannya sebagai warga yang baik dan mengajak warga lainnya untuk selalu manut dengan aturan dan kebijakan yang bapak terapkan dulu.” Terdengar suara tua itu bersemangat saat menceritakan kenangan masa lalu di masa kejayaan beliau.
Deru mobil pick up terdengar, di tandai dengan sorot lampu yang semakin mendekat ke halaman samping rumah tua milik bu Indah. Itu adalah Abian. Ya, akhirnya Abian pun datang dari Kota.
Dari kejauhan Abian sudah melihat jika di teras depan rumahnya ada orang yang sedang duduk. Dan itu pemandangan yang tidak biasa baginya. Selama ini Kaniya hanya pernah bicara dengannya, juga di dalam rumah. Hampir tidak pernah mereka bertukar cerita di teras depan. Masih dalam rangka, seolah menyembunyikan status istri yang sedang hamil itu. Sehingga kini, suasana hati Abian mendadak tak suka. Baginya, Kaniya sudah lancang menerima tamu saat ia tak di rumah.
“Siapa …?” pertanyaan Abian pada Kaniya. Sorot matanya tajam tertuju pada istrinya tersebut. Kaniya buru-buru berdiri memnghampiri Abian, mengambil tangannya lalu mencium punggung tangan suaminya tersebut dengan takzim.
“Itu pak Damar. Mau bertemu dengan Om.” Jawabnya dengan suara pelan.
Damar berdiri melihat sosok tinggi yang sudah berdiri di atas lantai yang sama dengannya. Bahkan dengan jarak yang tidak jauh darinya.
“Selamat malam nak Abian. Saya Damar, teman ayah dan ibu mu.” Tanpa di minta Damar pun memperkenalkan dirinya. Sebab beliau merasa atmosfir yang tidak menerima akan kehadirannya di teras rumah tersebut.
“Oh … permisi sebentar Pak. Saya mau membersihkan diri dulu.” Pamitnya kemudian masuk di susul Kaniya juga ikut masuk ke dalam, meninggalkan tamu mereka tersebut sendiri di luar.
“Kenapa kamu terima tamu laki-laki saat Om tidak di rumah?” pertanyaan itu segera terlontar saat mereka sudah di dalam kamar, terucap dengan nada kasar, terdengar marah namun dengan suara tertahan agar tidak sampai keluar.
“Niya ga bisa usir gitu aja Om. Bapak itu harus naik sepeda 4 jam dari desanya demi untuk bertemu dengan Om. Masa iya, Niya ga terima dia.” Kaniya bukan membela, hanya dia sungguh iba. Saat melihat raut letih Damar saat tiba di depan rumahnya senja tadi.
“Semudah itu kamu percaya dengan orang yang baru kamu kenal, Niya …?” hardiknya masih dengan suara yang seolah terjepit. Agar tidak terdengar keluar rumah.
“Om … ngapain orang setua itu mau berbuat jahat?” Kaniya ikut emosi dengan pikiran suaminya yang begitu picik.
“Ya … bukan jahat juga. Tapi … iih. Kenapa sampai duduk ngobrol begitu di luar.” Tuduhnya cemburu tak beralasan.
“Om … Niya ngobrol di luar itu bukan mau pamer ke tetangga ya. Tapi justru untuk memudahkan jika orang itu berbuat jahat, Niya tinggal teriak dan bisa di tolong warga sekitar. Lagian ngobrol di dalam, bukannya akan jadi fitnah.” Kaniya menjelaskan pada Abian sudah tidak dengan nada yang halus. Ia tak suka suaminya seperti orang cemburu buta, bahkan dengan orang yang lebih pantas dipanggil kakek.
“Mandi sana … cepat hadapi tamu itu. Supaya jelas maksud kedatangannya apa!” Ibu hamil itu tingkat emosinya tentu lebih besar daripada orang normal kan. Percuma Abian berlagak cemburu. Toh dia tidak tau apa maksud kedatangan kakek itu.
“Maaf menunggu lama, Pak.” Abian akhirnya duduk menggantikan posisi Kaniya tadi. Sedangkan Kaniya hanya berada di dalam rumah. Membuka kresek berisi makanan pesanannya dari kota. Tak lupa, Abian juga membawakan makanan buatan Veronia, sebab tadi mereka sempat membuat janji temu untuk mengirim makanan kesukaan Kaniya.
“Ah … tidak lama. Hanya kurang lebih 30 menit.” Jawab Damar bmemandang nke arah Abian dengan tatapan penuh kerinduan.
Abian kikuk. Tak tau harus menanggapi dengan jawaban apa.
“Saya tidak menyangka memiliki kesempatan bertemu denganmu. Tadinya saya hampir putus asa, takut tidak bisa menyampaikan amanah sahabat saya.” Ucapnya pelan, memandang langit malam yang makin kelam, bahkan tanpa bintang.
“Gimana …?” Abian tak bersimpatik pada lelaki tua yang sempat bicara berdua dengan istrinya tadi.
“Tak salah dulu Waluyo mempercayai saya yang lebih muda 5 tahun darinya. Sebab kata beliau, karena saya lebih muda. Kemungkinan matinya akan lebih lambat darinya. Maka, dia menitipkan kalian pada saya. Jika, ada umur panjang. Usahakan pastikan kalian tumbuh menjadi adik kakak yang rukun layaknya saudara kandung pada umumnya.” Ungkap Damar dengan suara tak nyaring namun sangat jelas di dengar oleh Abian.
Ungkapan itu membuatAbian terperenggah.
“Maksudnya …?”
“Dulu kami bagai tiga serangkai di desa ini. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pekerjaanpun tak pernah sama, namun cara pikir kami yang mirip. Sehingga kami bisa menjadi sahabat. Saya, Waluya dan Wiguna. Saya, berhasil menjadi seorang Kepala Desa, Waluya menjadi pendidik dan Wiguna menjadi pedagang. Persis seperti kamu sekarang, ya. Saya sangat percaya. Darah pengusaha Wiguna yang kini mengalir di tubuhmu. Hanya, semoga nasib mu tidak seperti almarhum ayahmu.” Cerita Damar.
“Bukankah ibu saya Indah dan Waluya yang bapak sebutkan itu adalah nama ayahku.” Abian merasa bingung dengan untaian cerita yang dapat ia dengar dari lelaki tua ini.
“Jika kamu anak Waluya, lalu kenapa namamu Wiguna?” tanya pria tua bernama damar itu pada Abian.
“Kata ayah, sengaja dia tidak memberikan nama Waluya di belakang namaku. Karena dulu ia pernah punya teman bernama Wiguna. Sosok Wiguna begitu berkesan untuknya, hingga nama itu ia pakai sebagai penghargaan, dan kenangan agar tak ia lupakan. Aku sudah pernah protes dengan perbedaan namaku dan mas Abrar.” Abian tak mau lagi menelan bulat-bulat cerita yang bisa saja mengandung kadar halu atau hanya kebohongan semata.
Bukankah, hasil tes DNA pun bisa di palsukan, apa lagi hanya berdasarkan cerita orang tua ini. Mungkin saja dia pikun. Sehingga bisa dengan mudah memutar balikkan fakta.
Bersambung ….