
Abrar sesungguhnya merasa jika ia telah menciptakan jarak dengan putri kandungnya itu. Bagaimanapun perselingkuhan Veronia dengan mantannya. Tentu tidak ada hubungannya dengan tanggung jawabnya sebagai ayah. Mestinya Abrar bijaksana. Saat Kaniya sudah tak ber ibu, maka ia harus bisa menjadi sandaran tempat Kaniya bertopang dengan segala kekosongan figur seorang ibu bagi Kaniya.
“Papa … boleh minta waktunya sebentar?” Siang itu Kanitya bahkan memberanikan diri menemui ayahnya di kantor. Ia tidak merasa aman jika terlihat berbincang dengan ayahnya sendiri jika di area rumah mereka. Miris memang.
“Kaniya … ada apa. Duduk sini nak.” Jawab Abrar lembut menyambut putri semata wayangnya tersebut.
“Papa … selama ini Kaniya tidak pernah meminta apapundari papa. Bahkan sejak tak bersama mama lagi.” Ujarnya sendu, sembari menunduk … memandang ujung sepatu kanvas yang ia gunakan.
“Iya … maafkan papa yang kurang perhatian padamu. Lalu sekarang kamu mau minta apa?” penasaran Abrar saat melihat raut serius terpasang di wajah cantik putrinya.
“Apakah aku boleh pindah kuliah, Pa?” Kaniya mendongakkan kepalanya. Lurus menatap sepasang mata yang sejak tadi mencari kejujuran pada mata lawan bicaranya.
“Kamu mau pindah kampus? Atau pindah jurusan?” Abrar merasa perlu meluruskan versi pindah yang di maksud sang putri.
“Jurusanku tetap saja. Kampusnya Pa. Aku mau pindah kampus.” Kaniya lebih menjelaskan pada sang ayah.
“Kemana?”
“London”
“Kenapa London?” Abrar makin penasaran dengan pilihan anaknya.
“Pengen aja. Nanti Aku tidak hanya mendapat gelar strata satu dari Luar Negeri, tapi tingkat kemahiranmu berbahasa asing juga pasti akan makin terasah bukan?” Jelas Kaniya meyakinkan ayahnya. Walaupun Abrar belum tentu dapat di yakinkan.
“Heeem..” Abrar berdehem sebentar. Untuk memikirkan kalimat apa yang pantas untuknya menolak permintaan putrinya. Namun tidak menyakitkan.
“Maaf jika selama ini seolah mengabaikanmu. Dan papa akui selama ini kamu memang bukan tipe anak yang suka merengek dan meminta apapun dari papa. Baiklah, nanti papa akan penuhi keinginanmu.”
Setelah obrolan singkat yang di lakukan oleh Kaniya dan Abrar di kantor beberapa waktu lalu. Sejak itu pula hubungan Soraya dan Abrar tak baik di rumah. Istrinya itu tidak suka akan kemajuan prestasi anak tirinya tersebut. Bahkan ia selalu dengan sengaja memberi informasi untuk suaminya jika Kaniya adalah anak yang baik. Yang selalu berada di rumah. Padahal tidak, Kaniya tidak hanya sekali ini tidak pulang kerumah. Ia memang lebih sering menginap di kost Melan, teman baru yang ia kenal sejak sama-sama menjadi mahasiswa.
Cukup sekali Abrar mengecewakan Kaniya, dengan menikahi Soraya dalam waktu singkat. Tepat setelah resmi menyandang status duda. Dan kali ini hati kecilnya berkata, untuk memenuhi saja keinginan anak semata wayangnya bersama Veronia. Sebab permintaan Kaniya juga tidak berat dan wajar untuk seorang anak pengusaha sesukses Abrar.
Mentari sungguh telah bersinar terik. Tubuh Kaniya masih terasa linu setelah pergulatan yang tak berjeda semalam. Kaniya puas, tak ada kalimat lain yang bisa mewakili perasaannya sekarang.
Bahagia
Ya … kata itu yang kini menyambangi hati Kaniya. Yang dengan penuh kesadarannya melepaskan kegadisannya untuk pamannya sendiri. Mitos yang beredar adalah jika ada pernikahan masih dalam ikatan pertalian darah, kemungkinan, eh bukan. Kecendrunganya adalah cacat. Bisa cacat fisik, juga mental. Semacam down sindrom dan semacamnya. Tapi Kaniya tidak perduli. Kaniya adalah gadis egois. Dia tidak merasa perlu memiliki rasa takut untuk melakukan hal itu. Toh, hidupnya sudah sangat jauh lebih menyeramkan ketika dua bola matanya melihat kepergian ibunya, yang sungguh bagai gelandang di usir dari rumah suami sendiri.
Bagi Kaniya kebahagaian itu wajib ia capai sendiri, dengan cara apapun. Termasuk memberanikan diri untuk mempertahankan rasa yang tak dapat ia bendung dalam hatinya. Kaniya ingin memiliki dan dimiliki seutuhnya oleh saudara ayahnya. Gilak … Kaniya memang sudah gila. Dan kegilaan itu, kerennya. Tidak bertepuk sebelah tangan. Abian lebih binatangnya lagi. Sebab tak mampu menghalau godaan yang di persembahkan oleh keponakan kecilnya itu.
Sementara di kediamannya, Abian sudah memasang akting menjadi suami super baik, hangat dan sayang pada Alice istrinya. Ia sungguh hanya di rumah saja dan siap mengantar alice kemana ia suka. Alice bukan pengangguran. Bukankah mereka bertemu saat sama-sama berkuliah di london. Sehingga alice pun memiliki jabatan penting di sebuah perusahaan yang berbeda dengan Abian. Mengantar istri pergi ke kantornya. Kemudian pulang untuk tidur seharian adalah hal yang di lakukan Abian sekarang. Bukan tidur, tetapi membayangkan kembali proses kebersamaannya dengan keponakan manis yang bersedia jadi madu dalam rumah tangganya. Verry Nice.
[Om Abi … Niya sudah di rumah] tangan Kaniya gatal untuk mengetik di gawainya. Sebab selalu rindu ingin bertemu dengan paman kesayangan.
[Yess, baby.] Huh ... Room chat yang jelas sedang online itu tentu tidak menunggu waktu lama untuk membalas chat dari yabg tersayang.
[Om …] ketik Kaniya lagi.
[Apaaaa …?]
[Kangeeeeen] Kata itu di sertai emot peluk dan cium.
[Sama] Balasan itu singkat. Namun mampu mendebarkan jantung Kaniya lebih cepat. Kaniya senang.
[Om kerumah. Biar Niya bisa liat wajah Om lagi.] Pintanya penuh harap pada sang paman.
[Nanti malam ya] semudah itu Kaniya meminta dan Abian segera menyanggupinya.
Ada senyum lebar di wajah Abian dan Kaniya di tempat yang berbeda. Tubuh meraka terpisah, tapi tidak dengan hati keduanya.
Begitulah insan yang di mabuk cinta, dari tempat yang tidak satu, pun mampu melakukan hal yang sama, saking sehatinya mereka kini.
Abian dan Alice baru saja keluar dari sebuah pusat perbelanjaan. Sekedar membeli parfum dan duduk menikmati kopi di sudut tempat yang nyaman. Tidak ada yang salah dari hubungan pengantin baru itu. Mereka tampak bagai pasangan suami istri pada umumnya, yang saling memegang tangan saat menyusuri tiap etalase yang mereka lewati, berhenti jika mata mereka menangkap sesuatu yang di rasa menarik. Bahkan saling goda dan berbagi tawa jika berhadapan dengan sesuatu yang di rasa tepat untuk di tertawakan bersama. Normal, mereka adalah pasangan yang hangat, mesra dan harmonis.
“Sayang, sebelum pulang kita mampir ke rumah Mas Abrar ya.” Infonya pada sang istri.
Tentu Abian akan menepati janjinya pada sang keponakan, yang siang tadi mengaku sudah rindu lagi padanya. Hah … bahkan mereka belum 24 jam saling berpisah. Ralat, bukan hanya Kaniya yang rindu. Abian juga, makanya bela-belain mampir bersama istri untuk melihat si jantung hati.
“Tumben ga ada acara keluarga Mas mau main ke rumah Mas Abrar.” Celetuk Alice merasa tak biasa.
Bersambung …