
Kondisi terkini mama Tian sudah jauh lebih baik. Kadar gulanya tinggi hanya karena pola makannya yang kadang bandel. Tidak heran sih, untuk orang secomel mama Tian, pasti banyak punya teman yang tentu sering melakukan pertemuan yang akan berakhir di meja makan dengan alasan reunian. Di tambah lagi posisinya sekarang adalah sebagai janda kaya yang cukup kesepian. Punya anak tiga, tetapi tak bisa senantiasa di dekatnya karena tugas dan cintanya masing masing. Jadilah dia, hanya berkawan pembantu. Sebab anak yang masih jomblo pun punya segudang kesibukan yang tak teruraikan. Jarang di rumah dengan alasan sibuk.
Wajar saja Mama Tian mengharap punya menantu dari Tian sebab usia Tian sudah 33 tahun. Dan karena ke charmingannya saja, ia berhasil membuat Kaniya percaya jika ia adalah seorang yang berprofesi sebagai Arsitek berusia 25 tahun. PeDe banget kan.
Tapi itulah Tian, yang harus selalu punya trik jitu untuk menjadi bunglon demi pekerjaan dan misi yang harus ia pecahkan. Urusan cintanya jangan selalu di tanya. Sebab Tian sesungguhnya sudah punya kekasih. Hanya mereka sedang LDRan saja.
Cindy, begitu nama kekasih yang bahkan sudah 5 tahun ini di tunggunya. Sedang kuliah di Luar Negeri sedang menyelesaikan Pasca Sarjananya. Yang kemungkinan nantinya akan menjadi seorang Psikolog. Mama Tian tau, kalau anaknya sudah punya kekasih. Sebab dulu Cindy pernah di perkenalkan dan di ajak ke rumah. Dan memang Cindy lah satu-satunya wanita yang pernah di ajak Tian ke rumah. Tetapi hanya sekali. Sehingga mama Tian menyimpulkan, jika kini hubungan anaknya itu sudah kandas. Dan Tian tidak pernah memberikan informasi apapun padanya. Juga tak pernah lagi menyebut nama wanita itu di hadapannya.
Lalu, dari ekspresi Tian kali ini. Mama Tian cukup tergelitik saat bik Sitah menyebut nama Kaniya. Walau sejak awal ia sempat mendengar jika Kaniya itu sudah bersuami. Tapi, sebagai mama yang super kepo dan kebelet mantu. Tentu saja strategi tebak tebak buah manggis menjadi pilihannya. Syukur jika benar, besok juga ia siap ngawinkan anak tengahnya ini.
“Kamu suka dia?” tebaknya dengan tatapan mata penuh harap. Berharap Tian mau jujur padanya.
“Ya suka lah … anaknya asyik kok.” Tian sudah tidak ber O lagi. Dia sudah akan bermulai dengan segala celotehannya.
“Suka aja … ga cinta atau sayang gitu?” mama Tian mulai ngelunjak, udah Tian kasih jawaban agak panjang, sekarang mintanya yang lebih dalam.
“Yaaah … mama. Ngapain cinta cintaan sama istri orang. Mama mau Tian di kasih gelar Pebinor?” Ganti Tian sekarang yang mendekatkan wajahnya ke wajah sang mama, seolah mengancam.
“Pebinor itu apa ?” tanya mama Tian sok lugu.
“Perebut Bini Orang, mama?” Hah… pasangan mama dan anak ini kenapa siih, kok jadi geli ngebayainnya.
“Emang kamu ngerebut dia dari suaminya? Kalo sama sama cinta itu ga ada rebut rebutan, Tian.” Mama Tian menjawab sesuka hati.
“Mama … kadar gulanya udah normal. Tapi kenapa halunya yang masih ketinggian.” Tian tak habis pikir dengan sang mama yang menuduhnya cinta pada Kaniya. Sama nih kayak tebakan reader yang nuduh kalo Tian suka sama Kaniya. Tian itu cintanya sama nyak Emel, wkwkwkwk.
“Mama ga halu. Mama cuma nanya…?”
“Iya … awalnya nanya. Lalu praduga tak beralasan ujung ujungnya terjadi pemaksaan kan, biar Tian cepat kawin. Udah sering kali maaa…” Somplak nih si charming.
“Jangan kawin aja dong, Tian. Nikah gitu.” Mama Tian merengut lagi.
“Iya … dua bulan lagi Cindy pulang. Udah siap jadi my everything juga. Puas buk…?” tau … ini kenyataan atau gantian, Tian yang sedang halu.
“Ga usah nikah deh, ralat aja.” Kenapa lagi si emak, tadi kebelet mau punya mantu, giliran di kasih kepastian malah belagu ga mau anaknya nikah.
“Janji dulu, kalo nikah istrinya harus tinggal di rumah mama.” Mama Tian mengangkat jari kelingking, minta perjanjian pada sang anak.
“Ya … mama nego sama Cindy aja nanti kalo udah di Indonesia.” Jawab Tian tidak menanggapi jari kelingking tanda janji.
“Eh … kalo ga bisa janji. Itu calon bini kamu ganti aja.” Busyeeet… ini emak horor banget yak.
“Hedeeeeeh… mama kira Cindy itu baju. Bisa seenak Tian buang, bosan lalu di ganti. Bisa dapeti dia dan bertahan sampai sekarang aja butuh perjuangan. Hampir sama gigihnya kayak Indonesia bisa proklamirkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Jepang lho.” Sama aja sih, ibu dan anak ini lebay akut.
“Halaaah … apasih istimewanya Cindy. Kecantikan standar, pendidikan juga biasa aja. Kamu aja yang malas nyari di Indonesia ini juga masih sering di jumpai wanita sepertinya.” Mama Tian mencebikkan bibirnya.
“Standar mama ketinggian cari mantu, kalo Cindy itu biasa aja di mata mama. Jangan bilang mama sudah siapin cewek yang mau di jodohin buat Tian ya… basi banget.” Tian beranjak mengambil buah apel untuk ia makan. Sedangkan Bik Sitah masih sebagai kambing congek. Jadi pendengar yang setia akan drama pengajuan proposal mama Tian pada anaknya yang menurutnya sudah sangat amat layak nikah.
“Sorry ya … sekarang udah jaman Pelakor. Masa iya mama mau cariin jodoh buat kamu. Nanti alasan ga ada cinta dalam rumah tangga, lalu jadi alasan suami selingkuh, sang istri balik ke mantan. Cuuh. Basi.” Lhaaa … kok mereka jadi tengkar sendiri sih. Bik Sitah hanya mengulum senyum melihat tingkah keduanya, kayak Tom & Jerry saja.
“Ha haha … mama. Beneran. Dua bulan lagi Cindy pulang. Dia sudah menyelesaikan pendidikan magisternya. Dia juga sudah bersedia menjadi istri Tian. Dan restu sang ayah yang selama ini membuat kelabu hubungan kami, juga sudah Tian kantongi. Jadi mama yang sehat. Biar sempat urus anak - anak Tian, oke?” Suara Tian terdengar lembut dan meyakinkan.
“Mang selama ini, ayahnya tidak setuju dengan hubungan kalian?” Kepo kembali kepengaturan awal.
“Bukan tidak setuju. Hanya masih berharap anak gadisnya mendapat lelaki lebih baik dari Tian saja.” Jawabnya masih dengan nada serius.
“Oh … lalu sekarang kenapa ayahnya memberi restu?” Keponya mulai lebih kenceng lagi.
“Karena beberapa waktu lalu Tian sempatkan jenguk Cindy ke LN dan sekarang udah bunting 2 bulan.” Masih dengan nada suara pelan dan setengah berbisik saja di telinga sang mama.
“Kamu GILAK Tiaaaan. Ga gitu juga.” Mama Tian keget dong, dengan pengakuan sang anak. Ini sungguhan atau halu sih. Mama Tian geram.
“Mama pernah ngajarin gitu ga …?” tanya Tian pada sang mama.
“Ga … ga pernah. Itu hanya inmprov mu saja. Malu banget mama, br3ngsek kamu. Ga bisa menghormati wanita.” Jengkelnya mama pada Tian.
“Emang mama percaya ?”
Bersambung …