LOVE WITH MY HOT UNCLE

LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 27 : KEDATANGAN ABIAN



Tian tetangga baru yang hanya beberapa bulan di kenal Kaniya. Tapi cara bicara dan gayanya mendekati Kaniya termasuk unik. Sehingga secara tidak sengaja Kaniya cepat merasa akrab dengannya. Walau kadang sering terkesan memaksa, tapi Kaniya suka. Juga selalu gagal menolak semua ajakan Tian. Entah, Kaniya terlalu lama terkurung dalam rasa cintanya pada Abian, sehingga tak punya waktu untuk keluar dari cangkanngnya. Untuk sekedar melihat keluar, bahwa Abian bukan satu satunya pria di muka bumi ini. Atau Tian memang charming, sehingga sulit untuk di tolak. Usia Kaniya dan Tian itu hanya berjarak dua tahun, sebab kini Tian di usia 25 tahun. Sehingga dari segi usia, tentu Tian lebih muda dari Abian. Tapi, bukan berarti Abian kalah macho dari Tian. Walau kini Abian akan memasuki usia kepala tiga. Kedua laki-laki itu memiliki ketampanan dan pesonanya masing-masing. Celakanya Kaniya merasa mulai oleng atas keberadaan keduanya.


“Mikirin apa sih, serius banget?” itu suara Lula. Yang sedang melarutkan bubuk minuman jahe yang ia rasa perlu untuk merelaksasi pikiran dan memperlancar aliran darahnya. Dan kini, Apartement Kaniya bagai kost kedua baginya. Sesantai itu dia berleyeh-leyeh di ruang tengah unit tersebut.


“Skripsi.” Jawab Kaniya singkat. Dan itu bohong, bohong besar. Sebab yang benar adalah ia kini tengah berada di balkonnya. Bahkan sudah satu jam Kaniya duduk di situ, hanya sekedar ia habiskan waktunya untuk memandang balkon unit Tian yang sungguh mulai berdebu akibat tak berpenghuni. Sepuluh hari sudah Tian tak berkabar.


“Skripi itu di kerjakan, bukan hanya di lamunkan.” Lula tau, beberapa hari terakhir sahabatnya ini seperti kehilangan semangat. Tak bergairah, tidak lagi ceria. Dan, Lula tidak pernah sekalipun menanyakan apapun lebih dahulu. Lula bukan miss kepo, juga bukan tipe teman yang mau tau urusan orang lain. Lula adalah pendengar yang baik, yang tidak pernah memprovokasi apapun yang pernah ia dengar dari Kaniya. Kupingnya lebih mirip dengan fungsi telinga panci. Hanya untuk cantelan, sebagai pusat menggantung sesuatu. Dan itu nyaman bagi Kaniya, dia merasa bagai memiliki tong sampah yang selalu kosong. Bebas mau di isi apa saja.


“Emang punya kamu sudah selesai?”


“Sudah donk. Kan aku tinggal nunggu jadwal seminar.” Jawab Lula cepat.


“Ya sama kalo gitu.”


“Kaniya … kalo udah tinggal nunggu jadwal itu. Ya Fix. Ga usah di pikirin lagi. Mikirnya tunda aja, pas udah di revisi para penguji.” Lula benar. Yang salah adalah jawaban Kaniya. Sebab sesungguhnya ia tidak seserius itu memikirkan TA-nya. Melainkan, ternyata ruang hatinya sedang penuh. Bahkan berdesakan. Ada nama Tian juga Abian di sana.


Hey … kenapa ada nama Tian juga nongkrong di dalamnya.


Kaniya tidak sadar. Kalimat pamit Tian ternyata ampuh. “Setelah ini jangan resah, gelisah atau merana karena kehilangan aku, tetangga baru yang baik dan ramah ini.”


Awalnya Kaniya cuek saja dengan tuduhan bahwa ia akan merasa kehilangan Tian. Tapi mengapa itu seperti kutukan. Lihatlah kini, ia seperti sungguhan kehilangan Tian. Lalu apa kabar Abian dalam relung hatinya? Apa sudah berubah kiblat. Semudah itukah hati Kaniya berpaling.


[Babby … gimana progres TA mu. Om kangen, sumpah!] isi chat yang begitu tiba-tiba datang dari lelaki yang sepertinya tidak sedang Kaniya harapkan. Kaniya sekarang di balkon, agar matanya bisa dengan puas memandang balkon unit Tian. Setidaknya dari tempat duduknya itu. Ia bisa merekayasa ingatannya, agar kedekatannya dengan Tian terbayang lagi di pelupuk matanya.


[Belum selesai Om.] Balas Kaniya singkat juga cepat.


Selanjutnya tidak ada balasan. Sepi, ponsel Kaniya selanjutnya sunyi. Lula hanya memandang sahabatnya dari dalam. Ia tidak berani menebak, jika saat ini Kaniya sedang memikirkan sesuatu yang lebih berat dari urusan Tugas Akhir. Ya iyalah, bukankah kata Dilan. ‘Rindu itu berat’. Dan Kaniya berada dalam posisi itu sekarang.


Lula kaget hampir jatuh dari atas sofa. Celananya terlampau pendek, terlalu banyak potongan paha yang ia umbar sebab itu ukuran celana ternyaman yang biasa ia pakai di rumah, tak terkecuali apartement Kaniya tempatnya bermukim sekarang. Ia tidak menyangka, jika pintu unit itu bisa tiba-tiba di masuki laki-laki yang tidak ia kenal.


Kepala Lula berputar mengikuti kemana kini Abian menuju. Dan itu ke arah balkon yang terbuka, menyapa dengan satu kata, kemudian lidah keduanya yang saling ngobrol dalam rongga mulut. Lengket juga agak lama. Sampai Kaniya yang berusaha melepas, sedikit mendorong pelukan posesif yang ternyata juga ia rindukan.


“Ada Lula …” Bisiknya melepas ciuman yang mebuat aliran darahnya terasa lebih cepat mengalir, seirama dengan degub pompaan jantung yang lebih cepat bekerja.


Lula bagai nyamuk di tengah ruangan unit itu. Ingin lari tidak mungkin. Melongo saja, saat indra pengelihatannya di suguhkan adegan ciuman secara live.


“Maaf Lul … membuat matamu ternoda.” Kaniya masuk dan menyapa Lula yang masih bingung. Lula sungguh tidak tau sahabatnya memiliki kekasih. Dan dari yang Lula lihat, mereka terlihat lihai melakukannya. Menurut Lula, itu sesuatu yang biasa mereka lakukan. Buktinya tanpa ada aba-aba keduanya main nyosor saja.


“Saya Abian, calon suami Niya.” Abian dengan lantang memperkenalkan diri pada Lula yang bagai terpaku dalam posisi berdirinya sejak tadi.


Mulut Lula seketika membentuk huruf O. Sesuai dengan suara yang keluar dari mulutnya. “Oh”.


“Maaf … Kaniya tidak pernah cerita kalo sudah punya calon suami.” Setelah berhasil menata hatinya. Lula pun bisa berbicara dengan normal.


“Sudah makan …?” Kaniya tidak ingin memperjelas hubungannya pada Lula. Ia biarkan saja Abian memperkenalkan dirinya sebagai siapanya pada sahabatnya itu.


“Belum makan kamu saja.” Jawab Abian tanpa filter. Dan anehnya itu justru membuat wajah Lula bersemu merah. Lula malu mendengar ucapan Abian. Lalu, otaknya berkata. Lebih baik ia batalkan niatnya untuk menemani Kaniya tidur malam ini.


Bukankah pasangan itu butuh privacy. Bisa jadikan, selama ini Kaniya mungkin sedang menjalani proses pacaran jarak jauh. Sehingga sekarang waktunya untuk menuntaskan rindu yang menderu.


“Aku pulang saja Kaniya.” Lula meraih mantel panjangnya. Juga tas ransel kecil. Ia paham, ini waktunya kabur. Cukup adegan ciuman panas yang ia lihat, jangan sampai aksi memakan dan di makan manusia ia lihat secara langsung lagi. Lula bergidik, tak menyangka Kaniya yang selalu terlihat sopan masih menyimpan banyak rahasia yang belum ia bagi dengan Lula.


Tidak menunggu persetujuan, Lula sudah berlari meninggalkan unit itu dengan pertanyaan yang banyak dalam pikirannya.


“Om akan tinggal di sini.” Abian mengucap itu dengan nada datar.


Bersambung …