LOVE WITH MY HOT UNCLE

LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 37 : SEBUAH KEBENARAN



Soraya sebenarnya dapat melihat dari jendela rumahnya akan kedatangan Alice, istri Abian. Istri seorang yang sangat ia benci. Bagi Soraya, Abian sumber kemelaratan mereka. Abian telah mengurangi satu aset terpenting yang ingin ia kuasai. Untuk itu ia hanya menerima uang Abian untuk meringankan biaya rumah sakit suaminya. Tapi tidak dengan ijin untuk mereka saling bertemu. Soraya tidak mau suaminya saling berinteraksi dengan Abian. Dan tentu saja, pada Abrar ia berkata bahwa Abian lah yang tidak menganggap Abrar saudaranya lagi.


Soraya cukup terkejut mendengar pesan yang di sampaikan penjaga pos di depan rumahnya, perihal kedatangan Alice adalah tentang urusan penting dengannya. Dan tidak ada hubungannya dengan keingintahuannya tentang Abrar. Maka ia memutuskan untuk mau mendengarkan Alice.


“Kamu di talak Abian, lalu. Apa hubungannya dengan Kaniya?” Soraya mencoba untuk menghubungkan cerita dan pertanyaan Alice sebelumnya.


“Secara kasat mata jelas tidak berhubungan mbak. Hanya rasanya aneh saja. Kita sama-sama tau jika Kaniya itu di London. Tetapi kemarin Mas Bian itu melakukan perjalanan bisnis ke London, dan saya cek nama-nama penumpang yang satu pesawat dengannya adalah Kaniya. Itu yang ingin saya pastikan dengan mbak, mungkinkah Kaniya ada pulang dan tinggal di rumah mbak?” tanya Alice lebih jelas.


“Bahkan saat dia pergi ke London pun, Kaniya tidak jumpa dengan mas Abrar. Sebab tidak ada hubungannya. Apa kamu tidak tau, atau Abian tidak bilang sama kamu. Kalo Kaniya itu bukan anak kandung suami saya. Lalu, menurut kamu. Apakah saya masih ada urusan sama anak siluman itu?” Sumpah Alice baru ini mendengar cerita tentang Kaniya yang bukan anak kandung Abrar. Lalu apakah suaminya tau jika itu berarti bukan keponakannya juga. Lalu pembiayaan selama ini, lalu apartemen itu.


“Hah …? Kaniya bukan anak kandung Mas Abrar …? Lalu selama ini artinya Mas Bian membiayai Kaniya secara cuma-cuma bahkan bukan keponakannya?” Alice mendadak puyeng mendengar penjelasan Soraya.


“Itulah mengapa saya tidak mengijinkan suami saya mengikuti keinginan Kaniya. Siapa dia? Hanya anak haram yang di pelihara oleh suami saya.” Dengan sombongnya Soraya berucap.


“Mbak … serius. Mas Bian bahkan membeli sebuah apartement atas nama Kaniya, kurang lebih enam bulan lalu mbak.” Alice kembali membagi info pada Alice.


“Hah … atau jangan-jangan Kaniya memang tak pernah pergi ke London. Dan ia sudah jadi duri dalam rumah tanggamu. Ga mungkin kan Abian mau mengeluarkan dana banyak untuk Kaniya tanpa imbalan. Bisa jadi ia sudah merayu suamimu, Lic.” Soraya sudah tidak ketus lagi pada Alice. Ia justru berminat untuk bersekutu dengan mantan istri Abian ini.


“Tidak mungkin mbak. Mereka adalah pasangan Om dan Keponakan yang memang sudah saling akrab satu sama lain sejak dulu, bukan?” Alice membela hubungan Abian dan Kaniya.


“Astaga Alice, di mana akal sehatmu. Apa yang btidak mungkin di dunia ini. Mereka itu manusia biasa, yang imannya mudah di masuki setan. Mereka sudah sama-sama tau tidak memiliki hubungan darah. Menurutmu, apakah mereka sungkan untuk saling bersatu dan menjalin hubungan seperti itu. Sekarang saya tanya. Apakah kamu punya paman?” Soraya ganti sebagai pembicara.


“Punya.” Jawab Alice cepat.


“Menurutmu, apakah paman kamu itu mau membelikanmu sebuah apartement dan membiayai semua keperluan kuliahmu?” tanya Soraya membantu Alice berpikir jernih versi dia.


“Tentu saja tidak.”


“Nah itu dia. Tidak ada paman yang begitu berlebihan menyayangi keponakannya. Kalau bukan ada udang di balik bakwan.” Soraya sudah berhasil merusak jalan pikiran Alice tentang Kaniya yang sempat ia sukai, terlebih Abian suami yang ia cintai.


“Tadi aku sudah menemukan alamat apartemennya. Sekedar memastikan jika di sana hanya mas Bian yang tinggal.”


“Dan ternyata …?” serobot Soraya tak sabar.


“Apa kamu hanya percaya pada satu sumber? Bisa saja tetangganya itu bohong.” Soyara menyeruput minuman mineral, agar otaknya lebih cerdas lagi berpikir.


“Lalu pada siapa lagi saya bertanya mbak …?” Alice sudah merasa keren dengan tindakannya melacak apartemen dan bisa berbincang dengan tetangga Abian itu. Tetapi Soraya justru memiliki jalan pikiran yang lebih jamak lagi.


“CCTV. Apakah kamu sudah memastikan orang-orang yang berada di sana lewat alat canggih yang tidak bisa bohong itu?” Astaga, mestinya sejak awal Alice menggandeng wanita profesional ini untuk mengungkap teka-teki rumah tangganya.


“Mengapa aku tidak kepikiran sampai di situ, mbak?” Alice memamah kentang goreng di depannya dengan tatapan mata kosong.


“Karena kamu terlalu percaya pada suamimu itu. Eh sudah jadi mantan suami kan?” nada bicaranya kembali setengah melecehkan.


Alice tak perduli dengan nada ejekan itu. Ia menatap arlojinya. Waktu masih pukul 7 malam.


“Apakah ini terlalu malam untuk aku kembali ke sana, dan memeriksa CCTV?” Alica tidak sabar ingin segera tau sebuah kebenaran. Agar ia merasa lega dan tak di rundung rasa penasaran yang mungkin membuat tidurnya tak nyenyak malam ini.


“Ayo … aku temani.” Soraya dengann ramahnya menarik tangan Alice. Merasa memiliki teman baru. Untuk mengetahui keburukan rival dalam hidupnya.


Soraya itu dulu juga pernah menjadi wanita karier. Ia adalah seorang sekretaris yang berhasil merebut suami orang dengan sukses. Ia berhasil membuat Abrar menceraikan Veronia, juga kini berhasil mendepak Kaniya dari dalam rumah tangganya. Jadi, kalau hanya tentang mencari sebuah bukti perselingkuhan seperti ini, baginya hanya seperti makan sosis saja. Mau di bakar atau di goreng. Tinggal jleb. Bereskan.


Alice berada di belakang tubuh Soraya, sebab dia yang mendominasi dalam hal berurusan dan mencari alasn yang tepat agar di ijinkan memasuki kawasan ruang CCTV. Tidak lupa uang juga berperan di sini, untuk melancarkan segala seuatunya. Siapa sih di dunia ini yang tidak maudi kasih uang secara Cuma-Cuma. Hanya dengan memastikan dua wanita itu bisa melihat rentetan peristiwa yang pernah terjadi saja. Memberikan potongan file yang mereka inginkan pun tentu bisa. Pasti bisa.


Alice sudah menyebutkan nomor unit apartemen yang mau di lihat. Juga sudah menyebut hari dan tanggal berapa yang akan di lihat ulang.


“Itu tuh… ya pelankan di situ.” Celetuk Alice pada opetaror CCTV.


Mata Alice dan Soraya beradu tatap. Setelah melihat dengan jelas, jika itu memang Kaniya.


Kaniya yang di rangkul mesra oleh Abian, dengan satu tangannya memegang koper cukup besar. Sepertinya mereka sungguh akan pergi bersama dari pintu apartement yang sama pulak.


“Bisa kami lihat lagi, di tanggal sebelumnya aktivitas di unit itu.” Pinta Alice. Hanya untuk ia lebih yakin. Bahwa Kaniya itu sungguh selama ini tidak berada di London dan tetangga yang kemarin menjamunya dengan minuman kaleng itu, sudah bersekongkol dengan Kaniya dan Abian


Bersambung …