
Obrolan antara ibu dan anak itu berakhir dengan pengakuan Tian yang sempat membuat mamanya shock. Padahal fix, itu hanya rekayasa Tian saja. Mana mungkin tian berani buntingin anak Jendral. Boro boro nitip benih, nitip salam aja kadang Tian sungkan. Cindy terlalu tinggi untuk di gapai. Dan Tian terlanjur mencinta denga rasa yang dalam pada gadis yang ia temui di suatu tempat. Saat ia memecahkan sebuah kasus. Dan Cindy sedang menyelesaikan Tugas akhirnya.
Waktu itu Cindy terlihat seperti wanita biasa saja, layaknya mahasiswi sederhana yang sangat menikmati letihnya mencari data dan mengembangkan tulisan itu pada Skripsinya. Persis seperti Kaniya yang ia temui beberapa bulan lalu. Cindy memiliki kemiripan perihal keseriusan mereka dalam menyelesaikan tugas akhir juga kemandiriannya menjalani hidup sendiri.
Saat Tian sudah menyatakan cinta, dan itu adalah saat Wisudanya Cindy. Saat itulah Tian baru tau. Ternyata Cindy anak seorang Jendral bintang lima. Sejak itu nyali Tian menciut. Sadar akan pangkatnya yang belum berbintang bintang. Di tambah lagi, saat wisuda itu sang ayah tidak datang sendiri, tetapi di kawal seorang pria yang di gadang-gadang akan menjadi suami wanita idamannya itu. Dan Tian sangat kenal dengan kakak tingkatnya itu. Secara pangkat dan prestasi sangat jauh darinya.
Sejak itu, Tian bertekad akan menjadi orang lebih sukses dari si kakak tingkat. Demi mendapat restu dan bisa mensejajarakan pangkat dengan calon suami pilihan papa Cindy. Padahal, itu hanya perasaan Tian saja. Toh, Cindy juga udah cinta mati padanya. Tak perlu berjuang sekuat tenaga juga, asal sanggup menunggu ia menyelesaikan studinya. Restu sudah tentu di kantongi. Sebab hanya itu syarat yang pak Jendral minta dari sang anak. Sehingga mereka hanya menunggu sang waktu. Buat readers, di larang patah hati. Tian sudah punyta calon istri, anak Jendral pulak, banyakin stok sabar aja.
“Tuan Tian … Bik Sitah boleh pulang?” Obrolan iseng berakhir serius itu pun terusik karena pertanyaan dari bik Sitah. Ia ingin pulang sejak tadi, namun belum menemukan momen meng cut. Obrolan seru sejak tadi.
“Oh … iya Bik. Hari ini mama juga sudah boleh keluar kok. Tadi Tian sudah urus semua adminstrasinya. Tinggal tunggu lepas jarum ini saja.” Tian menunjuk infus yang sedikit lagi kering itu.
“Syukurlah …” Jawab Bik Sita mengemasi barangnya akan pulang ke kontrakannya.
“Bik … salam buat Kaniya ya.” Sebelum tubuh itu sungguh pergi. Tian menyempatkan menitip salam untuk Kaniya. Iya … Tian berani menitip salam buat Kaniya, toh Kaniya juga bukan anak Jendral, biasa aja kali.
“Siap Tuan …” Jawab Bik Sitah singkat.
“Eh … emang mereka masih di sini?” tanya Tian lagi. Bukannya dua hari ini Bik Sitah bersama sang mama di rumah sakit.
“Iya Tuan. Ipeh masih ada chat. Pamit non Kaniya masih pinjam tempat tidur bibik.” Sitah batal pulang jadinya, kalo udah di ajak ngobrol oleh si charming.
“Wooh … lumayan lama mereka di sini Bik ..?” Tian curiga, sedikit aneh dengan Kaniya yang mau berdesak desakan tingal di kontrakan Ipeh. Mana apartemen mereka?
“Sepertinya mereka sedang ada masalah Tuan. Hanya bibik ga tau apa masalahnya.” Ujar Sitah menerka. Ya … kan Sitah ga bersama mereka, juga Ipeh tidak mungkin mengisahkan semua beban hidupnya pada Sitah.
Tian hanya menarik nafas dalam. Entah, naluri kepolisiannya mendadak curiga. Ada apa dengan Kaniya, mantan tetangganya tersebut.
“Huuum… nanti deh. Kalau ada waktu Tian sempatin ketemu.” Tian mengambil keputusan sendiri. Hatinya bilang, kalau ia harus bertemu Kaniya atau Abian dalam waktu dekat.
Sitah sudah tiba di kontrakan, mendapati kamar itu sepi. Hanya ada Kaniya di rumah, sedang bercanda dengan peralatan dapur. Ia sedang membuat pisang goreng. Mungkin untuk memenuhi selera kidamannya atau sekedar untuk menyambut kedatangan orang-orang yang pergi dengan tujuan masing-masing. Mama Vero yang sudah pergi ke Rutan untuk melaksanakan tugasnya sebagai tukang masak di sana. Dan Denoya yang pergi ke sekolah juga Abian yang melanjutkan misi pengintaiannya terhadap rumah Abrar.
“Siang bik …” Sapa Kaniya ramah pada pemilik kamar yang sudah dua malam ia tempati.
"Eh ... Non. Sedang apa?"
"Coba buat pisang goreng, Bik." Jawab Kaniya dengan senyum manisnya.
"Kayaknya enak. Oh ya... Non. Dapat salam dari Tuan Tian." Sitah langsung menyampaikan pesan si charming.
"Tian ...? Dia sudah di sini?" tanya Kaniya antusias.
Kaniya tidak lagi mendengar penjelasan Sitah. Tetapi mengambil ponselnya. Untuk menghubungi lelaki yang sudah menipunya tersebut.
"Kaniya ...?" suara di seberang sana terdengar ceria.
"Aku ganggu, ga?" tanya Kaniya menerka. Mungkin saja lelaki itu sedang sibuk.
"Ga ... Aku free. Apa kabar bumil?" Benar saja, Tian baru saja tiba di rumah. Setelah memastikan sang mama sudah masuk kamarnya dan beristirahat.
"Baik sih ..."
"Kok ada sihnya. Kek ga baik banget gitu." Tebak Tian, sambil mencari tempat nyaman untuk ngobrol lama dengan Kaniya.
"Iya siih. Ku boleh curhat ga?" Kaniya merasa perlu berbagi kesahnya pada pria ini. Apalagi setelah tau jika, lelaki ini adalah seorang perwira Polisi.
Saat dia mengaku sebagai Arsitem saja, Tian nyaman di ajak ngobrol. Apalagi sekarang, mungkin bisa di andalkan untuk memecahkan masalahnya.
"Aku boleh culik istri orang ga sih?" Tian balik bertanya. Tak puas rasanya berbicara lewat telepon dengan Kaniya.
"Ga usah di culik. Nanti aku yang pamit sama Om Abi." Jawab Kaniya tak ingin menunda waktu untuk bertemu si charming.
"Oke ... Sharelok ya. Aku boleh jemput di mana " Tian mengakhiri panggilan dengan permintaan, pemberian alamat yang bisa ia datangi untuk bertemu mantan tetangganya.
Kaniya sudah ijin pada Abian, tapi bukan ijin yang di dapatkannya dari sang suami. Akan tetapi justru permintaan untuk ikut bergabung. Abian merasa perlu meminta pertolongan orang lain, atas masalahnya ini.
Di sebuah caffe yang tergolong keren dan unik. Sudah tampak seorang lelaki nan menawan tengah duduk dengan mata yang ia tutup dengan kacamata berwarna gelap. Bisa jadi ia sedang mengkamuflase dirinya, agar tak di kenali oleh orang awam.
"Maaf lama menunggu." Kaniya dan Abian sudah berdiri di belakang tubuh Tian, yang sangat dapat mereka kenali.
"Waaaw ... Itu perut sudah besar saja." Sapanya menoleh ke asal suara yang menyapa dirinya tadi. Kaniya hanya tersenyum lebar sambil mengelus perutnya.
Di lanjutkan jabatan tangan pertanda rindu antar ketiga insan yang memang tak pernah memiliki masalah di waktu lalu.
"Tian ... Ternyata kamu seorang Polisi?" Abian tak sabar meminta konfirnasi langsung dari lawan bicaranya tersebut.
"Stt ... Maaf. Demi kelancaran misi, Om." Jawabnya dengan suara pelan, memohon pengertian kedua orang di depannya.
Bersambung ...