LOVE WITH MY HOT UNCLE

LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 19 : OBROLAN SERIUS



Drama ngambek di tempat makan Mie Ayam berakhir damai. Bukankah Kaniya cinta Abian, sehinnga ia tak tega berlama-lama marah bahkan sempat kejar-kejaran karena ia tak suka mendengar dialog Abian dan istrinya bervideocall tadi. Tapi Abian lapar, ia berhasil merayu Kaniya yang sudah sangat ia hapal wataknya bahkan sejak dari usianya 10 tahun.


Tetapi, kemarahan Kaniya tidak langsung hilang begitu saja. Hanya terjeda selama menemani Abian menyantap Mia Ayam yanga sudah di pesan.. Setelah mereka berada di apartemen. Lagi, tentu gadis yang belum genap berusia 20 tahun itu akan melanjutkan aksi ngambeknya. Namun gagal dengan sendirinya.


“Dad …”Begitulah Kaniya yang masih labil. Setelah di tempat makan tadi sempat marah dengan Abian. Lalu mengalah demi kekasihnya bisa menikmati makan malam. Kemudian ia melakukan mogok bicara selama di perjalanan pulang, hingga kini. Ia merasa bosan sendiri mendiamkan Abian yang memilih tidak meladeni sikap kekanak-kanankan Kaniya itu.


Abian tau, Kaniya tidak akan pernah lama marah padanya. Belum satu jam mereka berada di atas tempat tidur yang sama, Kaniya sudah duluan yang mulai bicara.


“Heem…” Abian hanya mendehem. Pura-pura ngantuk, agar Kaniya lebih gemas lagi padanya.


“Daddy ngantuk …?” tanyanya menarik punggung Abian agar menghadapnya.


“Ada apa lagi, udah selesai marahnya?” tanya Abian berbalik dan memeluk guling dengan erat. Sambil menatap intens wajah Kaniya.


“Bukan soal marah, tapi … ada yang mau Niya tanya.” Lanjutnya pelan dengan wajah agak serius.


“Bukan tanya juga. Hanya mau tau aja …” lanjut Kaniya pelan sedikit ragu.


“Mau tanya aja atau mau tau banget …?” Abian mendusel pucuk rambut Kaniya, agar kekasihnya itu tau. Dia hanya sedang bercanda meladeni Kaniya.


“Kenapa Om Abian membeli ponsel khusus untuk menghubungi Niya.” Keadaan mereka memang sedikit santai. Tapi isi pertanyaan Kaniya justru serius.


“Supaya Om bisa lebih fokus menghubungi mu.”


“Kenapa butuh fokus hanya untuk menghubungiku ?” tanyanya lagi.


“Ya … Om hanya tidak mau suatu saat hubungan kita di ketahui oleh Alice.” Jujur Abian.


“Kenapa menghindar? Bukankah jika hubungan kita di ketahui tante Alice, akan mempercepat proses perceraian Om dengannya?”


“Baby … om bahkan belum setahun menikah dengannya. Masa harus cerai?”


“Kan Om sendiri yang janji sama Niya, akan menceraikan tante Alice. Om tidak sedang bohongkan bicara seperti itu?” tanyanya memastikan.


“Om akan menceraikannya. Tapi tidak sekarang, Niya. Tidak semudah itu.” Jawab Abian membela diri.


“Om tau … kenapa Niya jatuh cinta sama Om ..?” tanya nya dengan nada pelan, berusaha mengajak lawan bicaranya sedikit serius dengan arah pembicaraan mereka.


“Bukan hanya itu Om. Niya cinta sama Om, karena perhatian Om. Karena perlakuan manis Om pada Niya. Dan ucapan gut nite, selamat tidur, mimpi indah ya, bangun dengan sehat dan bla … bla … bla itu bagi seorang wanita, sudah mewakili dari kata aku cinta padamu, Om.” Kaniya tidak ingin hilang kesempatan untuk mencecar Abian agar lebih pandai bersikap pada istrinya.


Abian hanya diam, membiarkan Kaniya mengeluarkan unek-uneknya.


“Kalau Om memang mau bercerai atau menceraikannya. Untuk apa bersikap manis padanya. Untuk apa panggil dia sayang, untuk apa harus menggunakan ponsel lain untuk menghubungiku? Apa itu demi untuk menjaga hatinya? Agar tidak terluka saat tau om berselingkuh di belakangnya? Mengapa Niya merasa, om sekarang lebih ingin menjaga perasannya dari pada Niya?” Pertanyaan Kaniya bertumpuk-tumpuk, dan Abian lebih memilih tetap diam. Tidak mau menjawab, memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk Kaniya melepas semua pikiran yang ada di kepalanya.


“Mengapa di depan Niya, Om bahkan berani merayunya dengan mesra. Sedangkan Niya … harus di hubungi dari kantor saja, dengan ponsel berbeda? Om takut ketahuan? Om … semakin hubungan kita di simpan rapat, kemungkinan kalian bercerai itu mustahil Om.” Kaniya berbicara sudah tidak dengan kata yang jelas. Ia mulai terisak. Sedih hatinya, mengira-ngira ia sungguh di nomor duakan oleh kekasih hatinya.


“Niya … dengarin Om. Jika Om tidak cinta sama Niya, ngapain Om beli apartement ini buat Niya? Ngapain kita pakai acara bersandiwara tentang kepergianmu, kemudian kita hanya berada di sini? Kamu sendiri yang bersedia mau jadi simpanan Om, jadi apa itu …? Sugar baby atau baby sugar, apapun itu. Sehingga, konsekuensinya ya begini. Niya harus siap dulu menjalani hubungan kita yang seperti ini, sementara Om mencari cara untuk nantinya menceraikan Alice.” Abian tidak melepas pelukannya pada tubuh yang sudah bergetar menahan tangisan yang makin mendesaknya.


“Bagaimanapun, Alice itu istri Om. Kami bangun hubungan juga tidak sebentar, banyak waktu yang kami lalui. Terlalu konyol alasan Om, menceraikannya hanya karena Om mencintai keponakan om sendiri kan.”


“Itu dulu Om. Hanya masa lalu jika Niya adalah keponakan Om.” Jawab Niya dengan lugas.


“Oke … itu dulu saat cinta kita tabu. Dan sekarang kita ternyata bukan om dan keponakan sungguhan. Tapi tetap saja, tidak semudah itu melepaskan Alice.”


“Tentu tidak mudah .. jika om masih banyak memberi perhatian dan manis padanya.”


“Lalu Niya mau Om bagaimana?” tanya Abian meminta pandangan.


“Tidak usah baik lagi padanya. Hubungi seadanya saja. Untuk info posisi terakhir Om. Jangan pulang satu minggu ke rumah. Jangan buat dia seolah menjadi wanita yang Om sayang. Dengan begitu ia sadar, jika suaminya tidak cinta padanya. Dan ia sendiri nantinya merasa bosan dan meminta untuk di cerai." Ketus Kaniya memaparkan inginnya.


Abian tertawa di dalam hati. Ia merasa aneh dengan segala permintaan kekanak-kanakan kekasih gelapnya ini. Saran Kaniya itu tidak masuk akalnya. Bukankah Abian masih sangat apik memainkan peranya yang kadang menjadi suami Alice lalu kadang menajdi kekasih Kaniya. Dan itu sangat menyenangkan bahkan menguji adrenalinya. Sensasi hati yang tiba-tiba panik takut ketahuan itu baginya menyenangkan, konyol memang.


“Om memag sudah menikahi tante Alice. Dan ternyata kita tidak sedarah, hal itu membuat kita tidak tabu lagi untuk bersatu. Dan Om, tidak Niya ijinkan memiliki keduanya. Niya hanya mau sama Om. Cinta itu egois Om. Jangan lupa.” Tegas Kaniya, hilang sudah linangan air yang keluar dari bola matanya, kini nyasar ke pipinya.


“Cinta juga harus berkorban Niya …” Balas Abian.


“Yes … dan Om mau minta kali ini Niya yang berkorban untuk rasa cinta kita ini?” tanya Kaniya kemastikan.


“Tidak … bukan berkorban. Hanya om minta Niya bersabar. Om pasti akan mencari cara terbaik untuk menceraikannya dengan cara yang baik.” Abian mengikrarkan janjinya lagi.


“Sebaik-baiknya cerai itu tidak ada yang baik.”


Bersambung …