
Satu demi satu kenyataan terungkap dengan sendirinya. Saat ternyata Bik Ipeh itu adalah Veronia yang tidak lain adalah mama kandung Kaniya. Pantas saja, setiap kali memakan masakah di rumah Tian, Kaniya merasa tidak asing dengan masakan itu. Karena itu adalah buatan ibu kandungnya.
Lalu bagaimana dengan saran Veronia untuk Kaniya dan Abian yang sebaiknya menjauh dari kota itu. Tidak sepenuhnya salah yang Veronia sampaikan. Lambat laun isu pernikahan mereka pasti akan tercium juga. Lalu bagaimana mereka menjelaskan hubungan yang jelas dan nyata tentang silsilah kekeluargaan yang semua orang tau, jika Abrar dan Abian itu bersaudara kandung.
Saran pindah domisili pun sebenarnya tak menghapus silsilah darah yang mengalir di tubuh mereka. Sekedar menjauh, untuk menipu orang sekitar, namun bukan solusi yang tepat. Karena berpisah adalah satu-satunya jalan untuk hubungan terlarang ini.
Dan benar saja, selepas menyandang status janda. Alice tak tinggal diam. Ia menggunakan potongan CCTV di apartemen yang sempat ia simpan. Untuk membuat berita yang menggemparkan dunia, terutama kalangan mereka sesama pebisnis. Yang tentu saling sikut dan memiliki kepentingan pribadi masing-masing.
Alice merasa kecewa dengan perceraian ini. Melakukan banding jelas hanya membuang uang dan waktu saja. Maka Alice memilih menerima status jandanya dalam tempo yang cepat. Tapi, kini ia sedang berteman akrab dengan Soraya. Tentu saja wanita ular itu sudah berhasil memprovokasi Alice agar ikut menjelma menjadi siluman ular.
“Kalau Abian tidak bisa kamu miliki dalam waktu yang lama, setidaknya saat dia tidak menjadi suamimu lagi kamu harus bisa membuat hidupnya tidak tenang bersama wanita yang telah merebut kebahagiaanmu itu.” Itulah bisikan penguatan dari seorang Soraya untuk Alice.
That rigth. Alice termakan bisikan itu. Dia setuju. Jika dia tak bisa memiliki Abian, setidaknya Abian tidak boleh hidup bahagia bersama keponakannya itu. Sebab saat ia kecewa, Abian pun harus menderita karena ulahnya.
‘MENJADI JANDA SETELAH DI TIKUNG KEPONAKAN SENDIRI’ judul itu sengaja di buat dengan caps Lock agar terlihat lebih jelas dan menarik perhatian. Disertai gambar pernikahan Abian dan Alice, juga tempelan foto Abian dan Kaniya berpelukan keluar dari salah satu pintu sebuah unit Apartemen. Selanjutnya pada bagian bawah adalah sebuah uraian secara runtut bagaimana rumah tangga Abian dan Alice yang mendadak kandas akibat hadirnya orang ketiga yang tidak lain adalah anak dari kakak kandung Abian sendiri.
Awalnya publik menafsirkan ‘keponakan sendiri’ yang di maksud Alice adalah keponakannya. Namun setelah di cermati, ternyata yang di gandeng Abian adalah anak kakaknya Abrar Waluya. Berita ini sengaja di kirim berkali-kali dengan target sasaran adalah rekanan bisnis dan pemegang saham yang berhubungan dengan perusahaan yang di pegang oleh Abian sekarang.
“Pak … apa isu yang tersebar itu benar …?” Vinda yang sejak tadi gelagapan setelah membaca berita terbaru yang begitu cepat menyebar.
“Isu apa ?” Abian yang sejak tadi terlihat sibuk dengan aneka dokumen yang harus ia pelajari, cermati juga setujui itu pun tidak begitu memperhatikan isu yang berkembang.
“Ini …” Vinda buru-buru menyerahkan ponselnya pada Abian yang terlihat benar tidak tau apa-apa.
“Hah … ini ulah siapa?” Abian kaget. Sungguh tidak mengira jika ia tak lama lagi akan menjadi tranding topik dalam lama gosip seperti sekarang ini. Vinda hanya menggendikkan bahunya. Pun tak tau siapa pelaku pembuat isu tersebut.
“Apa ini ulah Alice …?” Abian mencoba menerka. Siapa lagi rivalnya kalau bukan mantan istri yang merasa teraniaya oleh perbuatannya. Tapi, Abian mana tau jika Alice akan berbuat senekat ini.
“Pertanyaan saya Pak, apakah isu itu benar?” tanya Vinda meminta kepastian dari Abian.
“Gimana …?” Abian mendadak beg0. Dahinya berkerut tidak mengerti dengann maksud pertanyaan sekretarisnya.
“Bapak tinggal melakukan konfimasi pers terkait isu itu, juga melaporkan pada pihak yang berwajib tentang pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan juga pelanggaran IT. Foto yang di gunakan sebagian pasti di dapatkan secara ilegal.” Vinda cerdas, bahkan tangkas untuk membantu tuannya mencari jalan keluar.
“Masalahnya, isu itu benar Vin. Kaniya itu awalnya memang keponakan saya. Tetapi sekarang sudah menjadi istri saya.”
“Kenapa bapak nikahi?”
“Karena ada sebuah hasil tes DNA yang menyatakan bahwa dia bukan anak kandung Mas Abrar. Karena itulah saya berani menceraikan Alice dan menikahi Kaniya, saya sangat mencintainya.” Abian terbuka pada Vinda. Percuma menutupinya sendiri, jelas-jelas dia tak mampu mengatasinya.
Abian hanya berdiri menatap kaca jendela risau pikirannya memikirkan mengapa hidupnya harus sepelik ini, Dia hanya manusia biasa yang ingin memenangkan rasa cintanya. Apakah itu salah.
Wajah cemberut dan sembrawut tak mampu Abian sirnakan. Hal itu membuat Kaniya menyadarinya. Dan Kaniya tak pernah melihat raut gelisah itu di wajah lelaki kesayangannya.
“Ada apa dengan wajah Om …?” tanya Kaniya menyambut kedatangan suaminya yang terlihat letih.
Di apartement itu masih ada Veronia. Bagaimanapun ia ingin menentang hubungan anak dan adik iparnya, namun secara naluri keibuannya juga muncul. Ingin memanjakan Kaniya, menebus waktu yang terhilang. Apalagi kini Kaniya sedang hamil muda, tak mmpu ia membenci dan terus menyalahkan hubungan terlarang yang tengah di jalani putrinya itu.
“Alice berbuat ulah …” Jawab Abian lesu. Kemudian melempar tubuhnya ke sofa, tak bergairah.
“Apa ulahnya …?” Kaniya memburu Abian. Tak bisa ia bersabar lebih lama saat melihat Abian sungguh frustasi. Abian tidak menjawab, hanya menyodorkan ponselnya yang sudah terbuka pada laman gosip, persis seperti yang Vinda katakan padanya tadi di kantor.
Mulut Kaniya ternganga, ia hanya mampu menutup mulutnya dengan satu tangan, dengan mata yang hampir keluar melotot tanpa berkedip.
“Astagaaa …” hanya itu yang keluar dari mulut Kaniya.
“Ada apa …?” Veronia ikut penasaran dengan ekspresi pasangan suami istri di tengah ruangan itu yang sama-sama seperti di sambar petir.
Kaniya tidak bicara, ia hanya menyerahkan ponsel itu ketangan sang mama, bagai melakukan tugas estafet pada pesan berantai. Ponsel Abian kini sudah berpindah tangan.
“Huuhft … sudah mama bilang. Cepat atau lambat isu ini akan segera beredar. Ini jelas ulah mantan istrimu, Dek Bian. Ia pasti tidak terima dengan perselingkuhan yang kalian lakukan.” Veronia sangat menyadari akan hal itu.
“Niya tidak berselingkuh Ma. Niya cinta duluan sama Om Abi. Alice yang merebut kekasihku.” Dari mana rumus dan daras Kaniya bicara begitu.
“Perkara kalian lebih dahulu kenal dan cinta itu orang tidak peduli, Niya. Tapi secara kenyataan kamu adalah wanita kedua. Dek Bian itu berstatus suami orang dan setelahnya kamu baru di nikahi. Kita bicara fakta, bahwa kamu memang pelakor.” Dengan gamblangnya Veronia berkata-kata. Sampai lupa untuk menjaga perasaan Kaniya yang sedang hamil muda dan harus menghindari stres.
Kaniya hanya menitikkan air mata. Dia tidak mungkin menyalahkan perkataan sang ibu, semua kesalahan memang bermuara dari dia.
“Maaf …” Lanjut Veronia memeluk Kaniya yang tersedu kembali. Bahunya bergetar sungguh pilu hatinya.
“Nanti kita minta bantuan Tuan Tian saja, mungkin dia punya jalan keluar.” Tepuk Veronia menenangkan putrinya.
“Hah Kenapa Tian …?” tanya Kaniya bingung mengapa segampang itu ibunya memilih nama itu untuk menolong menyelesaikan masalah mereka.
Bersambung ….