
Abian tak habis pikir tentang cerita yang di sampaikan bapak tua yang tiba-tiba datang, mengaku sahabat ayahnya Waluya. Terdengar masuk akal, cerita yang ia sampaikan dengan runtut itu. Hanya pertanyaan Abian adalah. Mengapa Veronia, mantan istri kakaknya tak tau menau soal ia yang bukan anak kandung Waluya itu. Mengapa harus ada rahasia di antara Abrar dan Veronia. Ini adalah yang paling mengganjal bagi Abian. Yang tidak lagi memakan bulat-bulat sebuah informasi.
“Aku harus mencari Mas Abrar. Dia satu-satunya kunci yang paling dapat di percaya.” Abian bagai berbicara sendiri. Sebab Kaniya sudah terlelap. Letih jiwa dan raganya seharian ini. Dengan segudang kegiatan yang awalnya ia buat sendiri, kemudian pertengkaran kecilnya dengan Abian, sebab telah menerima tamu tak di kenal tadi.
Pagi tiba, namun tanpa di sertai dengan hadirnya mentari. Langit pagi itu agak kelabu. Airnya jatuh, walau tak deras, gerimis saja. Namun cukup membuat basah pekarangan rumah. Barang yang Abian bawa dari Kota semalam, tak sempat ia susun dan atur di Kiosnya. Bahkan harga belum ia sesuaikan. Sebab ia kehilangan mood untuk melakukan apapun sejak semalam.
Padahal biasanya, walau telah tetih dari Kota. Asalkan Kaniya sudah tertidur, Abian akan tetap bangun untuk membereskan belanjaannya. Dan menata semua itu, agar esok hari ia sudah siap melayani pembeli. Ah, Abian yang sudah sangat kehilangan kharisma sebagai CEO. Pemimpin sebuah perusahaan. Yang sudah menjelma menjadi orang desa.
“Pizza nya enak Om, kalo panas begini kejunya lumer.” Tawar Kaniya menyuguhi suaminya sebuah Pizza yang baru saja ia hangatkan.
Kaniya dan Abian memang tinggal di kampung, namun bukanlah sebuah pedesaan yang begitu minim dengan barang elektronik. Sebelum menetap, mereka sungguh sudah melengkapi perabotan elektronik yang tentu akan memudahkan mereka dalam menyelesaikan pekerjaan rumah, juga memanjakan perut dalam waktu singkat. Dan Kaniya sungguh bukanlah anak manja lagi. Ia sekarang sudah menjadi seorang calon ibu, yang sangat pandai memainkan pernnya sebagai ibu rumah tangga. Yang siklus pekerjaanya sungguh hanya di seputar rumah saja.
“Semalam kamu sudah tertidur. Membuat Om berbicara sendiri. Sepertinya Om harus ke Kota lagi untuk bertemu dengan mas Abrar. Bukan Om tidak percaya pada Pak Damar itu. Hanya Om bingung, mengapa mbak Veronia tidak tau akan hal ini. Kita pernah tertipu dengan hasil tes DNA yang tidak gampang untuk mendapatnya. Masa kita harus percaya begitu saja dengan sebuah tulisan tangan yang bisa saja di buat-buat tanpa ada kekuatan apapun di dalamnya.” Ujar Abian sembari menyeruput kopi yang Kaniya siapkan untuknya.
“Iya … Niya setuju saja. Tapi, Niya tidak mau di tinggal di desa saat Om pergi ke Kota.” Kaniya merasa tak nyaman jika di tinggal Abian lagi. Ia tak mau suaminya salah sangka, juga merasa tak suka saat hatinya berada dalam rasa takut dan khawatir.
“Apa kita harus merepotkan mbak Veronia?” tanya Abian pada Kaniya.
“Hanya sementara Om. Mama pasti tidak keberatan, aku menumpang sebentar di kontrakannya.” Veronia bukan tak punya dana lebih untuk menyewa rumah yang lebih besar. Hanya menurutnya, tinggal di kamar sewaan yang ukurannya tidak besar itu, akan lebih irit. Dan bisa lebih banyak untuk menabung dana untuk pendidikan Denoya kelak. Itu pun tetap berbagi dengan Sitah yang seorang janda sepertinya.
“Baiklah … kalo begitu kita akan pergi kek Kota.” Tegas Abian.
“Bagaimana dengan kios kita …?” tanya Kaniya. Suaminya baru kemarin berbelanja. Uangnya tentu banyak keluar sebagai modal. Dan itu tentu akan membuat mereka mengalami kerugian.
“Tinggalkan saja sementara.” Jawab Abian singkat.
“Oh … kalo begitu. Besok saja kita ke Kota. Hari ini, Om akan bertemu dan meminta kesediaan anak itu bekerja di Kios kita. Syukur jika memang bisa di percaya dan kerjanya bagus nanti.”
Abian tidak tau jika Saleh yang kemarin ibunya rekomendasikan itu hanyalah anak remaja lulusan SMP yang memang selama dua tahun terakhir mengandalkan ototnya bekerja serabutan di desa itu, untuk menyokong dapur sang ibu agar tetap bisa mengepul. Sang kakak sudah lebih dahulu menggunakan tenaganya sebagai pencari rumput untuk makanan sapi dan kambing milik juragan Baron. Sedangkan Saleh, tipikal anak yang tidak suka bekerja di bawah tekakan dan atasan yang sok berkuasa. Sehingga ia lebih memilih bekerja yang lain saja, di mana hatinya senang. Yang penting tetap dapat menghasilkan uang yang kadang di berikannya untuk orang tuanya. Miris memang, orang tua yang miskin. Harus menjadi tanggung jawab sang anak juga.
Bukan hanya Saleh yang di berikan kepercayaan oleh Abian. Tetapi ia memberanikan diri untuk menitipkan kiosnya pada sang ibu juga. Untuk bisa membantu mengawasi dan menggantikan tugasnya berjualan di kios selama ia dan Kaniya pergi ke Kota dalam waktu yang tidak dapat mereka pastikan kapan pulang.
Narsih, itu nama tetangga yang mereka berikan mandat untuk menjaga Kios mereka. Tentang bagaimana besok progres penjualan perihal untung dan ruginya. Abian memilih tidak ingin merisaukannya. Baginya semua menjadi tak penting, sebab yang paling utama sekarang ialah mendapatkan Abrar demi sebuah kebenaran.
Kania menghirup dalam udara Kota yang tentu sudah tercemar oleh populasi lalu lintas, limbah pabrik dan apa saja di Kota. Namun, suasana itu sungguh ia rindukan. Bagai bersembunyi di sebuah Desa bagi kaniya yang terbiasa hidup dan besar di Kota. Membuatnya merasa bagai di hukum. Namun, tak pernah ia keluh dan sesalkan, sebab itulah pilihannya.
“Kami boleh numpang di sini sementara?” tanya Abian pada Veronia, saat wanita itu baru saja akan masuk rumah setelah pulang bekerja.
“Niya … mama kangen.” Veronia berbalik pada asal suara. Dan langsung menyambar anaknya yang sudah semakin berperut buncit itu.
“Iya … Niya juga kangen banget sama mama.” Jawab Kaniya membalas pelukan sang mama.
Tempat tinggal itu hanya kamar bersekat playwood. Hanya untuk memisahkan di mana tempat tidur Sitah dan Veronia bersama Denoya. Selebihnya ada dapur super kecil yang jika ada dua orang di sana akan terjadi tambrak b0kong saking sempitnya ruangan itu.
Abian sudah menyampaikan informasi yang ia dapat dari Damar pada Veronia. Berkali-kali mata itu membaca berulang-ulang. Ingin memastikan tulisan itu sungguh usang, bukan baru kemarin.
“Huum … mengapa rahasia sebesar ini tak pernah mas Abrar ceritakan padaku?” Veronia tak lantas mempercayai isi tulisan itu seratus persen. Ia hanya merasa sedikit kecewa, dalam kebersamaanya selama ini pada suami. Ternyata masih ada sesuatu yang tidak di percayai suaminya untuk berbagi dengannya.
Bersambung …