
Hati Kaniya bersemi, bagai tanaman kuping gajah yang menghijau saat tanahnya basah dan gembur kembali. Saat Tian tiba-tiba mengirim chat dan mengundangnya datang ke unit sebelah.
[Kaniya … kamu ke unitku. Atau aku yang ke sebelah] itu isi chat Tian sebelum mereka bertemu. Kaniya kira itu hanya iseng, setengah berlari Kaniya ke depan pintunya, hanya memastikan pintu unit sebelah itu terbuka atau tidak. Dan ternyata …
“Haaa. Kangen aku kan.” Tian bahkan sudah berada di depan pintunya. Dengan ketampanan maksimal, wangi tubuh yang tak perlu di terangkan, jika si charming itu baru habis mandi. Fressh.
“Tian … Kapan datang?” Hanya kalimat itu yang sempat Kaniya sampaikan. Kemudian tangannya sudah di tarik Tian ke unitnya. Banyak aneka makanan dan cemilan berhamburan di atas mejanya. Itu cara Tian menyuguhkan tamunya yang tidak lain adalah tetangga yang juga diam-diam ia rindukan. Kemudian terjadilah obrolan selanjutnya. Dan terhenti pada pertanyaan Tian yang membuat Kaniya meragu.
“Hah … yakin mereka akan segera bercerai?” Tian bagai provokator membuat Kaniya semakin risau.
“Tian … cukup Tugas Akhirku yang meresahkan. Jangan lagi kamu buat aku oleng dengan pertanyaan yang aku sendiri masih harap-harap cemas menunggu kepastiannya.” Kaniya mendelik pada lawan bicaranya.
“Iya ibu Negara. Maaf.” Kekehnya dengan senyuman semanis madu. Haduuh, jatah kursi di hati Kaniya cuma ada satu, jika saja di dalam hatinya banyak kursi berderet bagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat akan bersidang. Mungkin Tian akan Kaniya dudukan juga di dalam hatinya. Karena masuk nominasi pria terperhatian dengannya. Ada kategori itu? Ya di ada-adakan saja lah.
“Gimana selama di sana? Kamu ga di cari-cari Anik atau yang lainnya?” Kaniya mengalihkan topik pembicaraan mereka.
“Niih … liat. Notif ini bahkan ratusan dari mereka yang merindukan aku. Kan ponsel ini aku tinggal.” Jawabnya cuek. Sungguh ia sedang membuka ponsel yang hampir takang dengan notif panggilan terabaikan juga chat yang masuk bertubi-tubi.
“Segitu pentingnya kamu bagi mereka.” Ucap Kaniya.
“Astaga … ada Bi Sitah juga menelponku. Sebentar.” Tian meminta waktu untuk Kaniya tidak berbicara terlebih dahulu. Sebab ia akan melakukan panggilan pada bi Sitah. Aneh memang, dari antara deretan notif itu, yang 90% adalah dari wanita. Hanya panggilan dari bi Sitah yang segera di tanggapi oleh Tian.
“Hallo bi …” Sapanya. Sepenting itu Bi Sitah bagi seorang Tian. Luar biasa.
Tian memilih menjauh dari Kaniya demi mendapatkan ketenangan dalam mencerna pembicaraannya pada wanita paruh baya yang selalu bekerja dengan baik untuknya selama ini. Tak lama ia sudah kembali ke sisi Kaniya dengan wajah terlihat lega, tak ada raut sebingung tadi.
“Ada apa dengan Bi Sitah?” Kaniya agak kepo.
“Beberapa hari lalu ia sakit. Dan ia menelpon untuk minta ijin, jika kemungkinan belum bisa datang untuk bekerja karena masih dalam Msa pemulihan. Dan ia juga menawarkan orang untuk menggantinya sementara. Bi Sitah tau, jika aku baru dari perjalanan begini pasti banyak pekerjaan.” Jelas Tian runtut.
“Kamu terima rekomannya …?”
“Tidak dulu, urusan pakaian kan bisa ke loundry. Kalo urusan makan, mungkin tetanggaku bisa ku manfaatkan. Sudah nganggurkan?” tembaknya asal.
“Ngangur apanya …? Besok pagi aku seminar.” Jawab Kaniya.
“Aseeem.” Kaniya terkekeh. Sama sekali tidak tersinggung atas pengusiran itu. Justru sudah bertemu Tian, ia merasa bersemangat mempelototi skripsi yang akan di seminarkan esok hari.
“Figth …” Tian memberi semangat dengan mengepalkan satu tangan sebagai dukungan untuk Kaniya.
Dan ternyata Tian bukan penipu, pukul 8 pagi ia sudah nangkring di depan pintu Kaniya untuk siap mengantarkan tetangganya bertarung dalam seminar skripsinya hari ini.
Sebenarnya Kaniya tidak sesenang itu di antar oleh Tian. Sebab sebelumnya ia sempat memberi informasi pada Abian, jika pagi ini ia akan seminar. Tetapi tidak di balas.
[Om, pagi ini Niya seminar Skripsi. Doakan Niya lulus ya.] Memang isinya buka permintaan agar Abian mengantarnya. Tetapi hanya bersifat minta dukungan saja. Tapi setidaknya itu adalah kode. Bahwa sesungguhnya Kaniya masih menganggap Abian itu ada. Tapi … ah sudahlah. Mungkin Tian sudah masuk hitungan sebagai pria cadangan di kala bimbang menyerang. Dan serep saat ban utama kempes, tak bisa di gunakan.
“Selesai seminar … kita akan memulai misi untuk memastikan Om kamu itu akan bercerai atau tidak ya “ Tukas Tian tanpa di minta saat mereka di perjalanan.
“Semangat sekali, aku aja ga kepikiran.” Jawab Kaniya menoleh ke Tian.
“Kaniya … setelah nanti kamu di nyatakan lulus. Maka selesailah tugasmu sebagai mahasiswa. Lalu, setelah itu kamu mau jadi apa? Mau jadi pegawai di suatu kantor atau perusahaan atau jadi istri orang? Jadi orang itu harus visioner. Sebelum melangkah, harus punya tujuan jangka panjang dan jangka pendek.” Mulut Tian memang agak lames, tapi suka benar. Itu yang membuat Kaniya merasa Tian berbeda dari beberapa laki-laki yang pernah ia kenal, dan itu membuaynya nyaman.
“Mungkin aku pilih, mau cepat jadi istri Om Abi aja.” Jawab Kaniya tanpa beban.
“Oke … Boleh aku tau alamat kantor, rumah, nomor ponselnya dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Kita harus segera mendapatkan kepastian hubunganmu. Terkait isu perceraian yang pernah ia janjikan padamu.” Kaniya merasa geli dengan kevisioneran versi Tian. Seterstruktur itu ia memikirkan segala seuatunya, memang ahli merancang orang ini.
“Yakin … hanya dengan data itu kamu bisa melacak Om Abi di mana? Kamu itu Arsitek ya, bukan Interpol.” Kaniya sudah terbiasa di bully Tian, maka ia pun terkontaminasi untuk meladeni lecehan itu dengan lecehan versi bercandanya pada Tian.
“Aku memang hanya seorang Arsitek, tapi bukan berarti tak punya kolega yang bisa melacak seseorang. Rumah seorang detektif pun pernah ku rancang, artinya aku punya akses kan?” jawabnya serius dan meyakinkan.
“Heem … sudah ku kirim semua data yang kamu minta, fotonya juga. Foto istri dan tempat istrinya bekerja juga, Bahkan nomor plat mobil mereka juga, lengkap.” Kaniya baru saja selesai mengirimkan segala sesuatu tentang Abian ke ponsel Tian. Sepertinya mereka tidak main-main. Akan menjadi penguntit Abian, setelah seminar ini selesai.
“Gimana …?” tanya Tian yang sudah dengan setia menunggu Kaniya di dalam mobilnya selama Kaniya seminar.
“Nasib TA ku sepertinya mirip dengan kisah cintaku.” Jawab Kaniya datar.
“Kenapa?” Heran Tian memandang wajah Kaniya serius.
Bersambung …