
Alice merasa kepalanya bagai di timpa reruntuhan longsoran batu. Sulit baginya percaya akan sebuah kebenaran. Dalam cuplikan CCTV itu sangat jelas, tanggal, bulan dan waktunya. Bahwa Kaniya tidak sungguh benar pergi ke Luar Negeri. Kaniya bohong selama ini. Oh, tidak. Bukan hanya Kaniya tetapi Abian suaminya yang menjadi sumber penipu dalam drama percintaan rumah tangga mereka.
Alice shock, ternyata selama ini Abian bukalah suami sempurna seperti yang ia kira. Terlalu manis caranya membohongi Alice selama ini. Sungguh Alice tak penah merasa ada pengkhianatan dalam rumah tangganya selama ini.
Alice menatap flashdisk berisi bukti keberadaan Kaniya di apartement itu. Bukan hanya Abian yang bebas keluar masuk pintu itu. Tian juga tampak terlihat wara-wiri bertandang ke unit yang di huni oleh Kaniya. ”Wajar saja tetangganya itu membantunya, pasti juga telah mendapatkan kehangatan ranjang dari seorang Kaniya. Pelakor cilik. Sangat keji.” Itu yang ada dalam pikiran Alice.
Alice ingin membuang bukti itu, merasa tidak penting untuk menyimpannya. Yang ternyata lebih baik ia tidak tau apa-apa agar pikirannya tetap lurus dan menganggap orang itu baik padanya. Apa yang bisa ia lakukan dengan bukti ini. Ini jelas adalah bukti perselingkuhan suaminya. Hah, bukan. Ia sudah di talak. Bukankah dengan di temukannya bukti ini, malah akan menguatkan perceraian itu segera terjadi dan tak terhindarkan.
Menemui pengacara Abian untuk meminta harta gono gini sebesar mungkin adalah tindakan yang kini akan ia lakukan. Sudahlah, ia tak mendapat mempertahankan Abian. Setidaknya ia bisa menjadi seorang janda kaya, dan nantinya pasti akan muncul para lelaki yang akan menyembahnya, mencintainya karena keuangannya yang mapan. Alice sudah tak percaya dengan kata cinta.
Bahkan sejak jaman SMA pun ia sudah berkali-kali tertipu dengan rasa berkedok cinta. Laki-laki semua sama saja. Hanya ingin pergulatan panas, dan berujung bosan lalu pergi. Faake.
Sepulang dari London, tentu pasangan pengantin baru itu mengalami kekeringan gigi. Akibat terlalu lama dan sering tertawa. Dunia sudah menjadi milik mereka berdua. Indahnya cinta yang lama mereka pendam, bagai tumbuhan yang lama di semai, kemudian di rawat hingga menghasilkan buah yang sangat manis di kala musim panen tiba. Tak tercela rasa bahagia yang tak terperi, bagi Kaniya dan Abian pasangan sungguh di landa kasmaran.
Abian sudah kembali bekerja seperti biasa, berhadapan dengan tumpukan dokumen pasca di tinggal bulan madu. Tatapan mata Vinda yang tidak biasa menatap bosnya yang diam-diam sudah ganti istri itu.
“Liburannya menyenangkan Pak?” sapa Vinda berbasa-basi. Ia ingin segera melaporkan semua yang terjadi, perihal kedatangan Alice untuk memeriksa pengeluaran suaminya.
“Tentu saja.” Jawab Abian singkat tanpa perduli dengan sorot mata yang masih banyak menyimpan tanda tanya itu.
“Kenapa masih berdiri di situ, apa semua dokumen ini akan kamu tunggu?” tanya Abian sedikit heran dengan Vinda yang tidak berpindah dari posisinya di samping meja Abian.
“Tidak Pak. Saya hanya mau melapor. Jika istri bapak, Alice. Saat bapak pergi, beliau ada ke sini dan memeriksa semua laporan pengeluaran bapak. Dan Maaf, saya juga memberikan informasi perihal pembelian apartement itu.” Vinda merasa tindakannya lancang. Karena sudah memberikan informasi itu pada Alice.
“Oh … iya tidak apa-apa Vin. Terima kasih.” Dengan santun dan santainya Abian justru berterima kasih pada Vinda. Ia justru mengira bahwa Abian akan marah, karena ia sudah memebri info itu pada Alice.
“Iya. Oh iya Vinda. Mungkin kamu juga harus tau, Bahwa saya sekarang sudah ganti istri. Alice sudah saya gugat cerai, dan aktanya sedang di dalam proses. Nama istri saya sekarang adalah Kaniya, hanya pernikahan kami masih di bawah tangan. Dan perjalanan kemarin adalah perjalanan bulan madu kami, bukan hanya perjalanan bisnis.” Abian menyampaikan itu dengan lugas dan senyum yang lebar, pertanda ia sangat bangga akan menjadi duda. Duda yang sudah memiliki cadangan.
Proses perceraian tidak akan membutuhkan waktu lama jika salah satu apalagi keduanya tidak bersedia memenuhi panggilan untuk melakukan tahapan termasuk mediasi. Sehingga dalam waktu sebulan pun Abian dan Alice dinyatakan resmi bercerai. Tanpa drama perebutan anak, karena mereka tak memiliki itu. Juga semua yang Alice minta di penuhi oleh Abian. Rumah yang mereka tempati kurang lebih setahun itu telah menjadi milik Alice. Dan Abian yang keluar dengan satu unit mobil miliknya.
Kaniya kini sungguh telah menjadi istri Abian. Walau tanpa pesta namun Abian sudah mendaftarkan pernikahan mereka secara resmi di Pengadilan Agama. Tak terlukiskan rasa senang yang di sandang Kaniya kini. Menjadi seorang Sarjana yang saat Wisudanya di dampingi oleh lelaki yang sangat amat ia cintai dan ia dambakan. Rasanya Kaniya sudah mencapai puncak kebahagiaannya. Terbayar sudah rasa pilu dan deritanya di masa lalu. Sebab baginya Tuhan sudah adil padanya. Memberikan pelangi setelah badai.
Dua purnama berlalu, Kaniya mulai merasakan sesuatu yang lain dengan tubuhnya. Dengan pasti ia meyakinkan dirinya. Bahwa ia pasti telah mengandung anak Abian. Dadanya terasa kencang, selera makannya terasa aneh. Sering memikirkan menu-menu makanan yang jarang ia konsumsi. Hal itu membuatnya curiga jika kini ia sudah berbadan dua. Dan itu dapat mereka pastikan, saat Abian mengajaknya pergi kesebuah klinik kandungan tak jauh dari tempat mereka menetap kini.
“Di jaga kandungnnya ya bu, pak. Ini baru 8 minggu. Sangat rawan dan masih sangat muda. Istirahat yang cukup, hindari stres.” Saran dokter dengan senyum ramah pada pasiennya tersebut.
“Terima kasih Babby… kita akan menjadi orang tua.” Abian sangat antusias akan kehamilan Kaniya. Ini adalah impiannya, memiliki keturuan dengan pasangan yang sangat ia cintai. Bukan dengan Alice. Yang memang sedapat mungkin ia hindari untuk membuat wanita itu hamil. Dan kebetulan, memang kandungan Alice bermasalah. Sehingga tercapai cita-citanya untuk tidak meninggalkan benih yang menjadi anak pada wanita yang sudah berhasil di buatnya menjadi janda.
Terbayang bagaimana hebohnya dunia perbisnisan, saat isu merebak jika kini Alice dan Abian pisah rumah. Hanya isu itu yang baru tersebar. Tidak selengkapnya. Namun, waktu akan terus bergulir. Sekuat apapun nanti Abian menutupi sebuah kebenarn, pasti akan tetap muncul di permukaan.
Abian sedikit bingung melihat wajah murung Kaniya sat ia pulang kerja, tak biasanya Kaniya berwajah masam menyambutnya. Namun ia memastikan hatinya untuk selalu sabar menghadapi istri barunya ini, bahwa ia sekarang sedang berada dalam drama kehamilan yang sebagian orang mengataka n ini adalah zona menakjubkan.
“Kenapa wajah istri Om, mirip sendok nasi begitu ..?” Abian tetap di panggil Om dan mau di panggil Om oleh Kaniya. Mereka sudah terbiasa.
“Mau makan sambal goreng hati, kentang dan pete buatan bi Sitah.” Jawab Kaniya tegas.
Bersambung …