
Kaniya dan Abian satu frekuensi. Berasalan memiliki cinta yang terlampau kuat antara satu dan yang lain. Dalam waktu yang tidak sebentar bahkan terlalu lama mereka pendam. Pasangan yang sempat saling terpisah. Terpisah jarak, waktu, jiwa juga raga. Yang sebelumnya mereka kira dapat membantu mengikis kuatnya rasa indah yang tak dapat di rekayasa. Muncul tiba-tiba, tampa aba-aba. Bahkan saat mereka masih berstatus paman dan keponakan. Beruntung, kini ada sebuah bukti otentik. Jika mereka ternyata tak memiliki hubungan darah. Sehingga keduanya justru merasa hubungan mereka boleh berlanjut ke jenjang berikutnya, walau tak semudah yang mereka pikirkan.
[Sayang … bagaimana? Boleh tidur di rumah sakit] Itu adalah isi chat seorang istri yang sedang menunggu kabar sang suami. Alice tak bisa memejamkan matanya, saat ia harus tidur sendiri dalam kamarnya dan Abian. Padahal ini bukan yang pertama kali ia tidur sendiri. Toh, Abian kerap meninggalkannya jika sedang dalam perjalanan bisnis. Tapi, serasa berbeda dengan malam ini. Ah … mungkin itu hanya intuisinya saja. Sambil mengerjabkan mata, masih berharap ponsel yang ia kirim chat tadi segera online. Tak sadar sudah 3 jam yang lalu Abian tidak membalas chat itu.
Untuk apa Abian online di room chatnya. Bukankah, sekarang ia sedang mabuk kepayang bersama Kaniya gadis tercintanya.
“Baby … daddy lapar.” Rengek Abian. Huh … makan itu cinta. Emang itu dengkul dari tadi kerja ga kenal lelah, ga kenal lapar juga. Iya … sebelum berangkat Abian memang sudah makan di temani istrinya. Tapi setelah kerja rodi menuai rindu bertalu-talu tadi. Tentu saja, sajian makan malamnya menguap begitu saja.
“Aku sudah kehabisan stok makanan, Dad.” Jawab Kaniya, melepas pelukan dari lelaki pujaannya tersebut.
“Huum … bagaimana kalau kita keluar jalan-jalan. Cari makan. Di pinggiran jalan sepertinya mengeyangkan dan menyenangkan.” Abian berdiri lalu melangkah menuju toilet di kamar apartement itu, menyusul Kaniya yang sedikit lebih dahulu menuju tempat yang sama, juga dengan tujuan yang sama pula.
Membersihkan tubuh mereka dari sisa sisa percikan percintaan mereka kurang lebih 3 jam yang lalu mereka lakukan.
“Upss… rupanya Alice sejak tadi ada chat aku, Bab.” Abian sudah rapi. Kaniya juga. Mereka akan menikmati udara malam di luar. Semacam kencan dadakan pasca bercintah. Oh Indahnya mendua. Di rumah ada istri, keluar pun punya simpanan. Hanya entah sampai kapan keindahan ini bertahan. Sebab tidak selamanya yang indah akan selalu menjadi indah, apalagi ini sebuah pengkhianatan.
Pengkhiantan persis bangkai bukan? Yang walau di tutupi dan di pendam lama, tentu akan tetap tercium juga. Hanya menunggu waktu terbongkar.
“Ya sudah … balas lah.” Jawab Kaniya seadanya. Walau sesungguhnya hatinya bertentangan dengan sarannya tadi.
“Nanti saja, aku akan VC dia saat kita sudah ketemu di tempat makan.” Jawab Abian merangkul pundak Kaniya, menuju parkiran .
Dan ternyata benar, saat ia dan Kaniya sedang menunggu pesanan Mie Ayam di pinggiran jalan. Yang di jam itu masih terlihat ramai. Abian mengeluarkan ponselnya. Melakukan sambungan video call pada sang istri. Tentu saja dengan latar dan setting yang tidak akan menunjukan jika di sana ia sedang bersama Kaniya. Entah, bagaimana cara Abian menyembunyikan mantan gadis itu atau pernah gadis.
“Maaf sayang, baru online.” Tanpa basa basi Abian menyapa istrinya.
“Lagi di mana?” jawab Alice yang masih terjaga, belum bisa tidur.
“Di tempat makan Mia Ayam, niih.”
“Sama siapa?” tanyanya lagi penuh selidik. Sementara Abian terus saja memposisikan kamera ponsel itu berputar-putar untuk memastikan jika kini dia memang sedang di sebuah tempat makan di pinggiran jalan yang tampak ramai itu.
“Sama Bayu. Tapi … entah tadi kemana? Dengan melakukan pendekatan dengan Bayu aku akan dengan mudah memantau Mas Abrar. Dan di ijinkan menginap di Rumah Sakit, Yank.” Ulala … Abian hebat. Tambah pintar dan kreatif untuk berbohong.
“Sayang … kenapa belum tidur. Ini sudah hampir tengah malam. Perutmu sakit akibat haid tadi?” So sweet banget siih suami orang ini. Suami siapa siih??
“Ga tau … belum ngantuk aja. Sebab, ponsel sayang aku lama tidak aktif, jadi was-was akan nasibmu. Mungkin saja akan ribut-ribut lagi dengan mbak Soraya.” Ungkapnya jujur.
“Maaf. Sejak tadi aku hanya mengintai. Memang saat aku datang masih ada Soraya, dan aku malas untuk masuk. Ketika Bayu datang, barulah aku melakukan pendekatan.” Bohong lagi kan.
“Kasihan kamu Mas, mau berbuat baik sampai segitunya. Semoga Mas Abrar cepat sembuh dan mas tidak seperti main kucing-kucingan lagi.” Lanjut Alice sungguh iba dengan maksud baik suaminya, dalam versi yang ia ketahui.
“Ga papa sayang. Mas tetap sabar kok.” Wajah manis Abian tertera di layar pipih yang masih bagai sedang bercermin dengan sang istri yang terlihat sedang malas-malsan saja di atas tempat tidurnya.”
Hanya senyuman yang di pasang Alice untuk mewakili rasa setujunya pada hati tulus suaminya tersayang itu.
“Sudah malam, sayang tidur ya. Atau mas setelah ini pulang saja?” tawar Abian yang hampir membuat perut Kaniya mulas. Ternyata Kaniya tidak jauh-jauh dari Abian. Ia hanya duduk di belakang Abian. Tetapi dengan posisi memunggungi Abian. Dan Alice tidak hapal tubuh Kaniya, juga mana ia curiga. Kaniya kan di London, tidak sedang di Indonesia. Seandainya itu terlihat sama, paling hya mirip. Perawakan Kaniya kan pasaran. Memiliki rambut hitam sedikit bervolume sepunggung itu adalah model rambut sejuta wanita di belahan bumi pertiwi ini, bukan. Jadi Alice tak punya dasar untuk mencurigai seseorang di belakang punggung suaminya tersebut.
“Jangan pulang. Sudah niat nginap ya nginap saja.” Alice, Alice. Betapa malang nasibmu.
“Makasih sayang, atas pengertiannya.” Jawab Abianyang mendapat ijin dan dukungan untuk tidak pulang malam ini.
“Sama sama, sayang. Dan … hoams. Sepertinya setelah melihat mu, aku merasa seperti baru saja menelan obat tidur mas. Aku tiba-tiba merasa tenang dan mengantuk.” Senyum Alice tulus. Hatinya sungguh merasa lega, hanya setelah tau jika suaminya sednag dalam keadaan baik-baik saja, walau tidak pulang.
“Gut nait istriku sayang. Selamat tidur, bangun dalam keadaan sehat dan bahagia besok ya.” Siuuut banget sih Mas. Lupa janji mau cerai?
“Muuuaaach.” Alice menutup sendiri panggilan itu dengan ciuman pada layar ponsel itu. Dan Abian membalas dengan jari yang di tempelkan pada layar ponselnya setelah jari itu ia tempel di bibirnya. Orang di Barat sana menyebut itu ‘kissbye’. Iya itu hanya syarat, anak anak kecil pun sering melakukan itu, artinya ciuman jauh, pertanda sayang juga gemas pada lawan bicara.
Iya gestur itu biasa saja, tidak selalu dilakukan pada orang yang spesial. Hanya Kaniya merasa itu bagai sebuah penyiksaan untuk hatinya. Hatinya yang terlalu ia manjakan dengan rasa cinta yang selalu ia pupuk dengan subur, sehingga ia kini merasa sangat geram pada Abian
“Kita pulang saja …” Ajaknya terdengar kesal.
Bersambung …