
Perasaan cinta konon tidak bisa di atur, akan hinggap di tempat mana yang ia inginkan. Rasa itu akan tumbuh subur pada tempat nyaman ia di ijinkan bermukim. Pun kapan datang juga bagian dari sebuah misteri. Persis dangan yang di alami oleh Kaniya, yang tidak mengerti mengapa harus melabuhkan cintanya pada seorang Abian, yang berstatus suami orang.
“Sebaik-baiknya cerai itu, tidak ada yang baik.” Umpat Kaniya dengan pelan namun masih bisa di dengar oleh Abian.
“Maaf … jika Niya cinta om. Tolong bersabarlah sebentar. Oh … bersabarlah lagi, demi masa depan kita untuk bersama di waktu yang lebih lama. Jika selama ini Om yang berikan semua yang Niya minta, sekarang giliran Niya. Pliis, sabar ya …” Rayu Abian dengan kalimat standar. Bahkan tanpa ancaman. Namun Kaniya memang sudah bucin. Hanya di minta bersabar begitu saja sudah meleleh, sembari mengangguk pelan.
Kaniya tidak menjawab. Dia hanya membisu sembari menyusun kepingan-kepingan rentetan masa lalunya bersama Abian. Sejak masa kecilnya, remaja, hingga terpisah dan kini di pertemukan kembali. Sulit bagi Kaniya untuk berpikir lurus. Belum siap hatinya menerima kenyataan jika sebaiknya ia mundur saja untuk obsesinya memiliki Abian.
Di hari-hari selanjutnya Kaniya memang harus terima saja semua pengaturan Abian. Hanya Abian yang boleh menghubunginya terlebih dahulu, dengan nomor khususnya atau nomor yang ia miliki biasanya. Berangsur-angsur Kaniya pun bisa menerima posisinya. Ia yang katanga wanita yang paling di cinta Abian dan sebentar lagi akan ia peristri. Namun tak ada bukti. Semua omong kososng, kini Kaniya sungguh bagai wanita simpanan Abian. Yang kapan ia ingin temui. Maka ia sambangi, kapann ia sibuk makan akan tak ia hiraukan.
Alasan Abian banyak. Mulai dari banyak urusan perusahaannya, sampai mengintai keadaan Abrar yang baru saja berhasil di operasi. Tetapi sungguh malang nasib Abian. Ia yang sudah banyak menggelontorkan dana untuk biaya perawatan Abrar namun hari ini ia melongo sendiri atas sebuah kenyataan.
“Pasien atas nama Abrar, yang seminggu lalu di operasi. Masa sudah tidak ada?” Abian sedikit murka. Saat memastikan nama kakaknya di daftar pasien, sudah tidak disana.
“Pak … Pasienatas nama Abrar memang sudah di operasi. Namun 3 hari yang lalu kan sudah pulang.” Jelas seorang perawat pada Abian.
Abian gusar sendiri menyadari ketelorannya, ia yang selalu mengaku memantau Abrar lewat Bayu, ternyata di perdaya juga oleh anak Soraya itu. Bayu memang meminta di transferkan uang tiga hari lalu. Tapi Bayu bilangitu untuk biaya operasi. Mana Abian sempat curiga akan keterangan itu. Sebab tiga hari yang lalu, ia sedang asyik bersama Kaniya. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama hari itu. Untuk membeli beberapa kebutuhqan Kaniya. Minggu depan libur kuliahnyha usai. Dan ia akan kembali menajdi mahasiswa di kampus yang berbeda.
Tidak hanya setelan pakaian, tetapi juga sebuah motor matic yang Abian beli untuk memepermudah transportasi Kaniya dari apartemen ke kampus. Sebab jaraknya memang tidak jauh. Juga agar Kaniya tidak begitu mencolok jika kini berstatus peliharaan om-om.
Berkali-kali Abian menghubungi Bayu. Tetapi nihil. Ponsel Bayu selalu di luar jangkauan. Akhirnya Abian bergegas menuju rumah kediaman kakaknya Abrar. Abian merasa perlu mengetahui keadaan terkini sang kakak. Bukankah ia sudah habis banyak untuk usaha pengobatan sang kakak satu-satunya itu.
“Maaf mas Abian, pesan nyonya. Siapapun yang ingin bertamu ke sini. Untuk sementara dilarang.” Jelas penjaga pos di depan pagar.
“Maaf Mas. Itu pesan nyonya.” Jawab penjaga ituhati-hati dan merasa sungkan.
“Apa kamu tau bagaimana keadaan mas Abrar?” tanya Abian berharap mendapatkan informasi terkini dari penjaga pos depan.
“Maaf Pak, saya tidak tau. Setelah pulang dari rumah sakit, saya hanya melihat tuan di bawa masuk dengankursi roda. Selebihnya saya tidak tau, maaf.” Jawabnya sopan. Penjaga itu tau jika Abian sudara Abrar. Orang yang mestinya memiliki hak untuk tau kabar tentang saudaranya. Tetapi bagaimana dengan nyonyanya yang super pemarah dan maha pengatur itu.
“Ini nomor ponsel saya. Tolong berikan kabar terbaru Mas Abrar pada saya. Agar saya tau keadaannya. Saya mengerti bagaimana kamu ingin menjalankan tugas dari majikan kamu itu. Jadi, tolong lakukan tugas dari saya dengan baik, dan rapi.” Abian lagi-lagi memainkan semuanya dengan uang. Selain kartu nama, Abian juga sudah menyelipkan beberapa uang untuk penjaga pos di depan rumah Abrar.
“Sabar ya Mas … mungkin mbak Soraya ingin fokus merawat suaminya. Sehingga dia tidak mau menerima tamu yang mungkin saja akan membawa bermacam-macam obrolan dan cerita yang nanti akan mengganggu pikiran dan menunda proses kesembuhannya.” Alice memijat-mijat punggung Abian dengan pelan. Memberikan efek rilex pada suami yang sungguh telah membuatnya jatuh cinta dan merasa yakin memilih Abian menjadi kepala dalam keluarganya. Pria baik, terbaik yang pernah ia temui. Yang membuatnya tanpa di minta untuk merubah kebiasaan buruknya.
“Tapi aku ini adiknya bahkan aku semua membiayai hingga Mas Abrar bisa keluar rumah sakit.” Sarkas Abian masih merasa tidak terima dengan perlakuan Soraya. Ia kecewa. Namun sesungguhnya tidak sepenuhnya marah dengan istri kakaknya. Sebab jauh di dasar hatinya, Abian pun menyealahkan dirinya. Seandainya ia selalu stay di rumah sakit, pasti ada cela untuknya mengetahui bagaimana keadaan sang kakak. Tetapi yang benar adalah ia hanya bagai angin lalu ke rumah sakit. Selanjutnya ia berlama-lama menyenangkan dirinya di apartemen bersama Kaniya.
Waktu berlalu, sungguh Soraya menutup akses untuk siapapun mengetahui keadaan suaminya. Saat Abian datang ke rumah itu. Bahkan terlihat kosong. Kabar terbarunya ialah Abrar sedang di bawa pergi berobat ke Singapura. Entah sampai kapan. Sehingga kediaman Abrar terlihat sepi dan tidak menunjuukkan tanda-tanda kehidupan. Hanya kadang Bayu dan Lidya saja terlihat keluar masuk melakukan aktivitas keseharian mereka sebagai pelajar dan mahasiswa.
***
Perkuliahan sudah aktif. Itu artinya Kaniya sudah memulai kehidupan barunya sebagai mahasiswi di kampus yang baru, dengan perasaan was-was. Takut ketahuan sebab ia masih berada di Indonesia. Tetapi inilah pilihan. Kaniya yang menginginkan itu terjadi. Ia kini menjadi mahasiswi yang tinggal sendiri, mengurus semuanya sendiri. Sebab hanya kadang-kadang saja, Abian si suami orang itu datang menghampirinya. Untuk memastikan stok makanannya masih ada atau tidak. Lalu mereka pun pergi berbelanja layaknya seorang suami menafkahi istrinya. Kemudian saling menuntaskan hasrat terpendam, untuk saling meluap dan melupakan jika yang mereka lakukan itu adalah dosa.
“Ke lantai berapa?” suara bariton terdengar ramah di telinga Kaniya saat ia baru masuk lift akan menuju unit apartementnya.
Bersambung …