LOVE WITH MY HOT UNCLE

LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 23 : JUJURLY



Aku bisa bantu kamu apa …?” Kaniya tentu saja merasa tidak nyaman berada di unit Tian, dan tanpa membawa ponselnya. Kaniya lebih mirip di culik Tian pada petang menjelang malam itu. Dan juga, ia hanya menggunakan kemeja tunik tanpa celana pendek sebagai pelapis celana segitiganya. Itu lumayan membuatnya risih sebab sedang tidak di unitnya sendiri. Tapi ia berusaha tampak santai saja.


“Ini … tolong bantu aku menghabiskan makanan yang aku buat ini. Aku tau tadi kamu capek banget, dan aku datang mengganggu waktu istirahatmu. Jadi, aku masak banyak buat kita makan sama-sama.” Percaya diri sekali bukan ?


“Astaga … ku kira kamu mau minta tolong apa?” Kaniya sedikit melumer, agak terhibur dengan gaya tetangganya ini menculiknya. Dan kali ini Kaniya merasa perlu meladeni Tian juga akan mengatakan hubungannya dan Abian. Berharap setelahnya, tetangganya ini tidak lagi datang mengganggunya.


“Ingat aku hanya minta tolong kamu membantu makan, tapi tolong usahakan jangan komen soal enak atau tidaknya. Aku tidak butuh pujian juga cacian akan hasil karya tangan ku ini. Aku hanya sedang ingin di temani tetangga baru untuk makan bersama.” Tian sudah menyiapkan alat makan di hadapan Kaniya. Dan suasana tempat makan itu, lebih mirip café private. Tempat yang sangat nyaman.


“Baiklah sebagai tetangga baru aku tidak mau terkesan tidak baik di matamu. Terima kasih ajakan makan malamnya, kebetulan aku sedang lapar setelah mandi tadi.” Jawab Kaniya membuka diri untuk banyak bicara dengan tetangga yang sepertinya memang banyak omong ini.


Kaniya mulai menyuap sajian didepannya. Itu adalah menu sederhana, hanya mie goreng instan yang merupakan selera nusantara, semua insan dari Sabang sampai Merouke sudah sangat akrab dengan makanan ini. Dadar telur dengan irisan bawang prey dan tomat, yang di gulung. Suguhan ini lebih mirip dengan menu sarapan Kaniya yang serba praktis dan ekonomis.


“Jadi … tadi kamu kira aku Om kamu yang datang …?” tanya Tian memulai obrolan saat mulut mereka masih sibuk memamah makanan yang mereka masukan ke dalam mulut.


“Iya … tadi waktu aku mandi, dia bilang mau nginap di sini.” Jawab Kaniya dengan santai dan mengunyah makanannya.


“Oh …” Jawab Tian menanggapi penjelasan Kaniya tak kalah biasa.


“Kamu ga heran … Om ku menginap di unitku?”pancing Kaniya seolah ingin Tian kepo dengan hubungannya lagi,


“Heran kenapa? Biasa aja kan Om nginap di rumah keponakanya. Atau kamu mau bilang jika itu Om-Om an?” dengan telunjuk yang di buatnya seperti tanda kutip. Wah … Tian lumayan jeli dengan maksud dan tujuan penjelasan Kaniya.


“Iya … aku mau bilang. Kalo aku ini simpanannya Om Abian.” Tegas Kaniya datar.


“Hemm.” Dehem Tian tanpa perubahan raut wajah.


“Kok Cuma hem?”


“Terus aku harus bilang wOw … gitu?” tanya Tian sungguh tidak terkejut.


“Ya ga gitu juga, kali aja kamu malah illfeel setelah tau, kalo tetanggamu hanya pasangan kumpul kebo saja.” Makanan di piring Kaniya sudah bersih, tandas tepatnya. Kaniya tidak perlu menjelaskan sajian itu enak atau tidak, Sebab sang koki sudah berpesan jika ia tidak butuh itu. Dan Kaniya patuh.


“Emang kalo tetanggaku kumpul kebo kenapa? Bisa nular ? ga kan?” Jawaban Tian di luar ekspektasi Kaniya.


“Mau kumpul kebo, kumpul kambing, kumpul ayam atau apapun itu semua pilihan. Kalian sudah menjalaninya artinya sudah memikirkan resiko terburuknya sekalipun, lalu tetangga seperti aku ini, bisa apa?” kekehnya agak lucu.


“Hanya berharap tidak ada fitnah karena kita tetanggaan, mungkin suatu saat kamu liat pemandangan yang tidak pantas. Jadi aku ijin sebelumnya.” Ujar Kaniya agak konyol.


“Siapa yang punya waktu memfitnah kamu. Aku bukan tipe orang seperti itu. Nanti lama-lama kamu juga bakalan sering liat wanita keluar masuk unitku." Tian sama sekali tidak merasa pengakuan Kaniya adalah suatu kesalahan.


"Kalo agak tua rambut keriting, itu bi Sitah. Yang biasa bersih-bersih sampah juga mencuci pakaianku. Durasi dia agak lama, karena sampai menyetrika pakaian yang sebelumnya. Kalo yang datang itu wanita berambut putih suka pakai kacamata bingkai oren, itu mamaku. Dia hobby sidak ke anak-anaknya di manapun berada. Nah, kalo kamu liat ada cewek muda belia, usia sekolah menengah atas. Itu gadis pelampiasan naafsuku, selingan dari suguhan kekasihku yang sebenarnya, dia paling lama 2 jam ku kurung di sini. Beda dengan kekasihku, dia bisa bermalam di sini.” Jelas Tian tanpa ada raut bohong di wajahnya.


“Oh Tuhan … fix. Kamu penjahat juga?” Kaniya tertawa, menyadari bahwa di dunia ini tidak hanya dia yang berkubang dosa. Tetapi orang di sekitarannya juga.


“Penjahat itu adalah orang yang melakukan kejahatan. Dan Jahat itu sendiri adalah prilaku yang tidak baik, orang yang kejam, yang tidak pernah meminta maaf, suka memaksakan kehendaknya, egois dan lain sebagainya. Ini tentu berbeda dengan yang ku lakukan. Anik perlu biaya tambahan untuknya berhura-hura karena hidup miskin dan baginya itu memalukan, kemudian bertemu denganku dan menawarkan diri menjadi tempat pelampiasan hasratku. Aku merasa perlu membantunya, mencapai keinginanya menjadi remaja yang memiliki uang lebih banyak dari teman-temannya.” Jelas Tian dengan wajah di buat seserius mungkin.


“Haha … konyol. Semudah itu. Apa kalian melakukannya tanpa cinta?” giliran Kaniya yang penasaran dengan cerita Tian.


“Apa hubungannya melakukan itu dan cinta. Dua hal itu sesuatu yang sangat berbeda Kaniya.” Kekehnya merasa lucu pada pertanyaam Kaniya.


“Berbeda bagaimana? Bukankah semua wanita akan mau melakukannya hanya pada orang yang ia cinta?” cecar Kaniya.


“Itu mungkin kamu …” Bahaknya. Hah … Kenapa Kaniya merasa seperti di ejek Tian.


“Gimana …?”


“Kamu tadi mengaku sebagai simpanan Om itu. Apa kamu cinta dia? Apa karena cinta kamu mau jadi simpanannya? Hahhahaa… kalau pria mencintai wanitanya, jangankan menjadikanmu simpanan, merusakmu sebelum waktunya pun ia tidak berani. Karena cinta itu adalah melindungi orang yang di cintainya itu tadi.” Tian membuka pintu menuju balkon, lalu menyulutkan batang rokok yang sudah ia jepit di antara telunjuk dan jari tengahnya.


”Kalau pria mencintai wanitanya, jangankan menjadikanmu simpanan, merusakmu sebelum waktunya pun ia tidak berani. Karena cinta itu adalah melindungi orang yang di cintainya itu tadi.” Kalimat ini selalu terngiang di kepala Kaniya, tepat saat Tian membuka balkon tadi, Tian mendapati Abian berada di balkon sebelah, menatap ponsel dengan rasa frustasi. Sebab Kaniya tak berhasil ia temukan jejaknya di dalam unit yang telah ia beli itu.


“Ngapain kamu malah asyik ngobrol dengan tetangga baru itu?”


Bersambung …