LOVE WITH MY HOT UNCLE

LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 24 : CINTA ATAU OBSESI



Abian hampir gila berkali-kali menghubungi ponsel Kaniya yang lagi-lagi berdering dalam unit yang dia sendiri mendengar bunyinya. Abian sudah berada di dalam unit apartemant itu dan tidak mendapati kekasih gelapnya. Ia sudah berhasil mengelabui istrinya, Alice. Dengan alasan meeting dan ada tamu penting. Akan menyita waktunya hingga pagi. Abian tidak mau mengecewakan Kaniya, yang harus cemberut setelah ia dan Alice berteleponan ria saat bersama Kaniya. Tapi, apa yang Kaniya lakukan padanya kali ini. Gadisnya itu tidak ada di tempat, bahkan tidak meninggalkan jejak.


Ingin pulang, Tapi malu pada jam dinding yang baru menunjuk ke angka 8. Itu terlalu pagi untuknya pulang dan mengaku pada Alice jika meetingnya di batalkan atau di tunda ke hari lain. Memilih pergi ke balkon saja, berharap dapat menghirup udara malam juga melepas penat pikiran yang sesungguhnya mulai acak di otaknya. Diam-diam Abian mulai bingung dengan hubungan cinta segitiga yang tengah ia lakoni.


“Wah … sendirian Om …?” Sapa Tian dengan suara agak nyaring. Sengaja agar Kaniya mendengar jika ada lawan bicaranya di balkon itu.


“Iya … “Jawab Abian datar.


“Maaf Om. Teman bicara Om ku ajak ngobrol di sini. Sebentar ku suruh balik ke sebelah.” Tian dengan gaya cengegesannya justru dengan jelas mengatakan bahwa Kaniya sedang bersamanya.


Kaniya tidak punya pilihan selain pulang ke unitnya. Padahal otaknya sedang bilang 'malas' bertemu dengan Abian, akibat perkataan terakhir Tian sebelum keluar balkon tadi.


Baru saja tiga langkah kaki Kaniya masuk unitnya. Ia sudah di sergap dengan pertanyaan dengan nada yang tidak ramah dari Abian.


“Ngapain kamu malah asyik ngobrol dengan tetangga baru itu?”


“Tidak sengaja.” Jawab Kaniya datar. Lalu masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya melewati Abian dengan wajah biasa saja.


“Kenapa tidak membawa ponselmu …?” tanya Abian menarik tangan Kaniya. Abian sengaja menunggu gadisnya meyelesaikan ritual bersih bersihnya.


“Ya karena tidak sengaja.” Kaniya mengulang jawabannya masih dengan nada cuek.


“Om sedang bertanya serius, Niya.” Suara Abian meninggi. Tak suka ia melihat gadis manisnya berubah menjadi orang yang apatis.


“Om … jawaban Niya itu juga serius.” Kaniya menanggapi Abian tak kalah nyaring.


“Kamu kenapa?” tanya Abian memilih menurunkan nada bicaranya. Sadar jika lawan bicaranya sedang labil.


“Aku sedang tidak kenapa-kenapa.” Jawabnya duduk dan menekan remot televisi, memilih siaran apa saja. Agar tidak hanya suara Abian yang di dengarnya.


“Bukanya tadi waktu VC kamu bilang padanya kamu adalah istri Om. Lalu sebagai istri seseorang, apakah menurutmu tindakanmu benar , ngobrol dalam apartement orang lain, berdua-duaan?” tanya Abian dengan nada pelan.


“Apakah om percaya aku mengaku sebagai istri Om, pada Tian? Supaya Om tau, aku bahkan tidak tau harus jawab apa saat Tian tanya Om itu siapanya aku?” Kaniya gemas dengan pertanyaan Abian.


“Aku siapamu Om …?” tanya Kaniya menatap nanar bola mata lawan bicaranya.


Namun untuk pertama kalinya, cimuman Abian itu di iringi dengan tetesan airmata Kaniya. ”Kalau pria mencintai wanitanya, jangankan menjadikanmu simpanan, merusakmu sebelum waktunya pun ia tidak berani. Karena cinta itu adalah melindungi orang yang di cintainya itu tadi.” Masih. Susunan kata yang telah menjadi kalimat yang berucap dari Tian masih berputar-putar di kepala Kaniya. Ia setuju dengan verbal itu, dan Kaniya bagai tersihir dengan ucapan bak mantra yang Tian ucapkan padanya.


Terlambatkah bagi Kaniya bertanya apa sesungguhnya perasaan padanya ? Cintakah atau hanya obsesi?


Obsesi untuk menjadi yang pertama, menyentuh tubuh dan hatinya.


Oh shiiit. Untuk apa Kaniya memastikan itu? Kesuciannya sudah di renggut, lalu siapa yang ingin mengambil sisa Abian. Yang sudah berhasil membuat orang hilang kegadisan tanpa surat resmi memyandang status setara janda.


Mungkin Kaniya lah orang nya yang sering di istilahkan orang sebagai gadis rasa janda. Huh, bukankah lebih terdengar indah dengan juklukan janda rasa gadis. Itu menakjubkan dan bisa menjadi target santapan para pria di luar sana.


“Om … apa sebaiknya Niya mundur saja?” malam ini Kaniya tidak bersedia melayani Abian, ia kehilangan hasrat untuk meladeni gerayangan tangan nakal Abian yang bahkan sudah berhasil melucutinya. Kaniya berperan sebagai batang pisang yang kaku malam itu. Belum lagi sendunya tatapan itu membuat Abian memilih menutup tubuh Kaniya dengan selimut kemudian meletakan kepala Kaniya pada lengannya yang terbuka untuk di jadikan bantal.


“Apa maksud ucapanmu?” tanya Abian bingung.


“Niya sudah jadi pelakor Om. Dan Niya malu jika suatu saat kita ketahuan Tante Alice. Dengan sikap Om yang menutupi ini semua dari tante, Niya ragu jika itu terjadi, om akan tetap di sisi Niya.” Jawabnya jujur.


“Alice memang istri om, tapi ia hanya memiliki tubuh Om. Sedangkan kamu. Kamu adalah pemilik hati Om, juga sekarang pemilik tubuh Om. Kamu bebas memiliki Om seutuhnya kan …?” Abian meminta pembenaran.


“Tidak. Niya tidak merasa memiliki Om seutuhnya.” Jawabnya tegas


“Percayalah babby. Bahkan waktu dan jarak saat Om di London pun tidak menyurutkan rasa cinta Om yang justru makin mengebu padamu.” Abian meyakinkan.


“Cinta … atau hanya obsesi ingin merasakan semua yang ada di tubuh Niya?” Pertanyaan Kaniya semakin menjurus. Ia ingin Abian jujur padanya. Sungguhkah ia di cintai tanpa maksud yang hanya merugikannya.


“Niya … kalau Om hanya ingin tubuhmu. Kenapa tidak dulu saja kita melakukannya? Sebelum om pergi ke London pun, kamu sudah dewasa dan matang. Bukan remaja belia atau bocah. Om bisa melakukan yang lebih dari sekedar berciuman. Tapi tidak bukan? Sedapat mungkin Om menghindar dan memilih pergi untuk tetap menjagamu. Om sesungguhnya tak pernah ingin meruksanya sebelum waktunya. Dan tolong, jangan salahkan Om untuk itu. Om hanya manusia lemah, yang tak dapat menolak saat Niya sendiri yang berniat meyerahkan semuanya untuk Om.” Abian tidak membela diri. Ia sungguh sudah berusaha menghindar Kaniya.


Siapa yang telah mencampurkan obat perangsang pada minuman Abian? Sehingga mereka lepas kendali. Masih dapatkah Kaniya menuduh Abian tak mencintaikaya, karena telah merusaknya sebelum waktunya. Sedangkan Kaniya sendiri yang membuat dirinya kehilangan kesucian dalam keadaan sadarnya, bahkan sedikit menjebak Abian.


Kaniya termenung … meratapi dirinya yang tak sempat berpikir panjang untuk hubungannya kedepan pada Abian.


Bersambung …