
Alice merasa tidak yakin jika ketidak mampuannya memberi keturunan di jadikan alasan untuk menceraikannya. Apalagi, ia tidak di vonis mandul. Dengan melakukan terapi dan rangkaian pengobatan, ia pasti bisa hamil dan mendapatkan keturunan. Sehingga hanya dengan usaha lebih keras dan intens lagi, ia yakin akan mendapatkan anak dari Abian.
Berpangku tangan dan melamun saja di rumah dan kantor itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Mengorek informasi mungkin adalah hal yang harus Alice lakukan. Ia tidak terima di ceraikan Abian. Walau sesungguhnya ia memang merasa sejak awal, dekat dengan Abian. Ia merasa tak pernah memiliki hati suaminya. Alice menyadari hal itu. Hanya ia tak mendapatkan tanda-tanda apapun, tentang siapa saja wanita Abian di masa lalunya. Informasi itu seolah tergembok dengan rapat.
“Apakah mungkin Mas Bian punya selingkuhan …? Bagaimana menurut pantauanmu selama ini Vin ?” tanya Alice pada Vinda yang terlihat terkaget-kaget dengan tebakan asal Alice.
“Hah …?”
“Rasanya tidak mungkin jika hanya karena kandunganku ia ceraikan aku. Semudah itu, bisa saja kan Mas Bian ternyata selama ini memiliki wanita idaman lain. Bagaimana menurutmu ?” ulang Alice pada Vinda.
“Sepengetahuan saya, selama ini Pak Abian bersih dari segala hubungan dengan wanita idaman lain. Hanya, beberapa hari terakhir. Pak Abian cukup berubah dari segi tingkah laku dan kebiasaanny, bu.” Vinda mulai berani mengatakan yang ia lihat.
“Gimana …?”
“Terutama sepekan lalu, bapak lebih sering telponan dengan wajah sumringah. Juga terlihat selalu bahagia.” Simpul Vinda.
“Apa kamu baru melihat pancaran wajah bahagianya hanya di sepekan kemarin. Lalu kemana saja raut bahagianya selama bersamaku. Apa dia terlihat memiliki beban berat saat aku menjadi istrinya dan saat kami tinggal bersama?” Alice bagai Polisi menginterogasi Vinda.
“Maaf buk. Saya kurang perhatikan yang sebelumnya. Hanya sikap bapak di pekan kemarin terlihat berbeda.” Jawab Vinda.
“Minta laporan pengeluaran Mas Bian selama ini. Mungkin aku bisa cek dari sana.” Tiba-tiba saja ide Alice muncul begitu saja. Pikirnya, jika memang Abian berselingkuh. Pasti ia sering mengelontorkan dana ke rekening mana. Dan ia merasa perlu mencari bukti.
Vinda tidak bermaksud ikut campur. Tapi rasa penasarannya juga tinggi untuk ingin tau hal sebenarnya. Apakah mungkin tuannya itu sungguh memiliki selingkuhan. Tetapi mengapa seperti tak bergejala. Dan siapa wanita itu. Pasti lebih ‘wah’ dari nyonya Alice. Yang sudah mendekati nilai sempurna sebagi seorang wanita.
Alice berpendidikan, berprestasi juga, lulusan Luar Negeri. Ia paham membaca rincian pemasukan dan pengeluran perusahaan. Apalagi rekam jejak itu terlihat sangat jelas. Tertera di sana, sudaj berapa ratus juta keuangan Abian habis, sungguh untuk biaya perawatan Rumah Sakit Abrar Waluya. Juga beberap kali pengiriman uang ke rekening atas nama Kaniya Putri Waluya. Alice mengerti itu, sebab Abian sudah meminta ijinnya untuk akan membantu keponakannya melanjutkan studi di London.
Alice mengurut keningnya. Laporan itu rapi, bersih dan tak bercacat cela. Tidak ada dana yang patut di curigai berpindah ke rekening siapapun, kecuali keluarganya. Dan itu semua tak luput dari pantauannya, juga pemberitahuan dari Abian yang katanya menganut paham kejujuran dan keterbukaan pada Alice.
Tetapi, sisi hatinya sedikit tergelitik. Saat melihat ada pengeluaran dana yang cukup besar yaitu pembelian sebuah unit apartemen di daerah ujung kota yang mereka tempati sekarang.
“Untuk apa Mas Bian membeli apartement.” Umpatnya di dalam hati.
Tetapi Alice bukan orang yang bodoh juga mudah di kelabui. Ia segera mencari tau tentang proses jual beli apartement itu. Sehingga ia pun mendapatkan informasi jika apartement tersebut di beli atas nama Kaniya Putri Waluya. Lagi –lagi Alice maklum, mungkin Abian sungguh ingin membalas budi pada Abrar yang sudah memberinya tumpangan, biaya pendidikan, juga perusahaan yang kini ia kelola menjadi miliknya. Alice tau, suaminya adalah orang yang pandai dalam hal membalas budi.
“Kamu tau Mas Bian ada membeli sebuah apartement, Vin ?” tanya Alice mengorek pengetahuan Vinda sebagai sekretarisnya.
“Iya tau bu. Sekitar setengah tahun yang lalu.” Jawab Vinda yang kebetulan memang sempat tau. Tetapi, pikirnya itu biasa saja. Sebagai ajang investasi.
“Sebentar, aku pernah menscreenshoot alamatnya.” Vinda membuka gawainya. Kemudian menyerahkan pada Alice.
“Kamu mau ikut … kita ke sana sekarang.” Entahlah, Alice curiga. Mungkin Wanita Idaman lain suaminya di sembunyikan di sana. Bisa saja kan itu akal-akalan Abian, seolah memberikan pada keponakannya. Agar kebr3ngsekannya tidak ketahuan. Itu yang berkemelut dalam pikiran Alice.
Finally, Alice dan Vinda sungguh telah berada di depan pintu unit apartemen yang di beli Abian atas nama Kaniya Putri Waluya. Apa yang mereka berdua bisa lakukan sekarang, kecuali menekan bel berkali-kali. Sampai seorang wanita sekitar hampir 50 tahun keluar dari pintu sebelah.
“Maaf bu, permisi bertanya. Apakah pemilik unit ini ada di dalam ?” tanya Alice pada wanita yang lumayan cantik, hanya tak mencolol, karena terbalut dalam pakaian yang sangat sederhana.
“Oh … maaf saya tidak tau. Saya tanya tuan saya dulu, sebab saya hanya pekerja paruh waktu di sini.” Jawabnya sopan. Kemudian masuk menemui tuannya.
“Pak Tian … ada tamu.” Bik Ipeh masuk dan menyampaikan pada Tian jika di depan ada tamu. Kemudian keluar lagi, melempar senyum sebentar pada Alice dan Vinda, lalu pulang. Sebab, ia keluar tadi hanya kebetulan jam pulangnya tiba.
Tian bingung, merasa tak punya janji dengan siapa-siapa. Lalu mengapa bik Ipeh bilang ada tamu. Tian segera berjalan ke depan, dan langsung berhasil mengenali siapa tamunya. Itu adalah Alice. “Huh … kancil akhirnya kamu tertangkap juga.” Kekeh Tian dalam hati. Mungkin ini yang di cemaskan Kaniya beberapa waktu lalu, bahkan saat mereka pertama kali kenal. Kaniya sudah mengaku jika ia seorang simpanan om-om. Dan ternyata, di sambangi istri sah pun tak terelakkan.
“Maaf … siapa ya ?” Tian ahlinya berpura-pura. Memasang wajah bingung, seolah ini adalah kali pertamanya berjumpa dengan Alice. Sebab, memang ia kenal hanya lewat foto.
“Saya Alice. Mau bertanya apakah ini apartemen milik Mas Abian?” tanya Alice dengan nada santun.
“Oh … Om Abi. Iya, beliau pemilik apartement ini. Lumayan lama ia membelinya, tapi baru beberapa hari ini ia tempati.” Tian memberi keterangan.
“Boleh tau … apakah ia tinggal sendiri atau dengan siapa?” cecar Alice sungguh ingin tau.
“Maaf mbak ini siapanya Om Abi?” Tian pura-pura lagi. Agar tampak natural jika ia tidak kenal dengan istri sah Abian.
“Saya istrinya mas Abian.”Jawabnya sedikit malu, terlihat dari pipi yang seketika memerah sebentar.
“Oh … aku panggilnya tante Alice ya. Karena panggil beliau Om.” Tian selalu pintar berbasa-basi.
“Apakah Mas Abian hanya tinggal sendiri di sini ? atau pernah terlihat membawa wanita kemari?” Alice kehilangan filter untuk menutupi rasa ingin taunya. Tak mampu ia menunda keingintauannya tentang Abian.
“Heem …”
Bersambung …