LOVE WITH MY HOT UNCLE

LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 45 : MEMULAI HIDUP BARU



Roda kehidupan selalu berputar. Kadang berada di bawah, kadang di atas. Tidak ada yang tau kapan perputaran itu terjadi dan siapa saja yang terlatak pada posisi yang di inginkan. Tentu tak ada yang mau berada di putaran paling bawah, semua berlomba-lomba ingin berada di posisi paling atas dalam durasi waktu yang lama. Namun ada pula beberapa kalangan yang memilih akan terus berada di garis tengah, tidak setinggi langit, juga tidak setara dengan bumi.


Kali ini, Abian dan Kaniya sedang menuju posisi keterpurukan. Hampir tak bersisa kekayaan yang pernah mereka kecap. Perusahaan bangkrut bahkan berpindah kepemilikan. Alice sudah memegang kendali. Berharap Abian akan berbalik dan menyembahnya. Agar dapat kembali hidup layak dan kaya bersamamya, dengan syarat harus meninggalkan Kaniya yang tidak lain adalah keponakannnya sendiri. Yang sudah menjadi istri sahnya.


Uang hasil penjualan mobil Abian gunakan untuk modal hidup. Kini pasangan suami istri yang tabu itu sudah memijakkan kakinya di desa kelahiran Abian. Sebuah desa yang warganya masih bermata pencaharian bertani, berkebun dan beternak.


Abian terlanjur masuk dalam golongan Krah Putih, sebab sejak usia Sekolah Mengengah Atas sudah di boyong ke Kota. Sehingga Abian sangat kaku jika harus turun membajak sawah, mencangkul atau sekedar ngangon bebek. Abian tidak bisa melakukan pekerjaan itu. Menjadi buruh penebang kayu atau mengolah batu bata. Juga bukan keahliannya. Abian itu Magister Managemen, kerjaannya bercanda dengan laptop, pada ngka-angka yang berderet-deret di monitor. Menjadi orang desa sama sekali tak ada dalam bayangan dan impiannya.


“Maaf Bebph … membawa mu hidup seperti ini.” Abian menghapus peluh Kaniya yang keluar pasca membersihkan rumah sederhana dari kayu. Yang sudah puluhan tahun tidak di tempati. Bersyukur rumah itu masih layak huni, hanya sangat amat banyak kotorannya.


“Mungkin ini bagian dari hukuman atas hubungan terlarang kita Om. Niya ikhlas, asal tetap bersama Om.” Cinta itu tidak hanya buta tapi gilak juga. Lihat saja pasangan ini. Bahkan ibu kandungnya sendiri sudah menyampaikan jika mereka sedarah, tapi bod0hnya mereka tidak terpikir untuk berpisah. Atau karena telah terlanjur mengandung. Ah, entahlah.


“Om tidak akan pernah menyesal akan keputusan Om mengambilmu menjadi istri. Aapapun terjalnya kehidupan ini. Om akan selamanya menjadi pelindungmu. Urusan hubungan sedarah kita ini, sudahlah. Kita rahasiakan saja untuk warga setempat. Dan untuk bagaimana keadaan anak kita ini nanti lahir, kita akan berusaha dengan obat-obatan dan minta pengasihan dari Tuha. Agar menitipkan anak yang lahir sempurna dan sehat nantinya.” Perihal cacat lahir untuk keturunan yang masih sedara itu sebenarnya bukan mitos, tapi fakta dan kecendrungan yang sering di temukan. Tetapi, fakta tentang ayah mengawini anak kandung pun sekarang bukan hal aneh dan bukan merupakan suatu fenomena yang besar. Mungkin dunia sudah terlalu tua dan pikun, sehingga manusia di dalamnya juga sudah kehilangan kewarasan untuk menentukan dan memilih pasangann hidupnya.


“Oh .. sedang ngisi ya dek. Berapa bulan ?” seorang pembeli tak sengaja melihat perut Kaniya yang mulai tersembul. Usia kandungan Kaniya sekarang memasuki 6 bulan. Dan dalam kurun waktu kurang lebih 4 bulan selama tinggal di desa itu. Abian memutuskan untuk menjadi pedagang sembako.


Uang penjualan mobil mewahnya ia gunakan untuk membeli mobil pick up dan sisanya untuk membuat kios kecil di depan rumah. Sedikit demi sedikit mengisi jualannya sesuai dengan kebutuhan warga desa setempat. Dan itu lumayan membantu untuk melangsungkan hidup mereka selama di desa tersebut.


Abian sangat menyayangi Kaniya. Sehingga istrinya itu tidak pernah ia ijinkan untuk ikut melayani pembeli juga bekerja yang berat-berat. Semua pekerjaan, Abian usahan ia yang melakukannya, sebab baginya. Kaniya sudah bersedia untuk hamil anaknya itu saja sudah merupakan beban tersendiri menurut Abian. Hanya hari itu, Abian sedang ke kota untuk membeli pasokan di kios mereka. Jadi Kaniya pun terjun langsung melayani pembeli.


“Iya buk, jalan 6 bulan.” Jawab Kaniya ramah.


“Oh… jarang keluar sih. Jadi kami ga tau kalo istri juragan Abi teh lagi hamil.” Ujar Ibu itu seolah betah berlama-lama di kios milik Abian.


“Biasalah buk, kerjaan dalam rumah. Muter-muter dapur, kamar dan kasur saja sudah ngabisin banyak waktu. Tiba sudah senja saja.” Kaniya berbasa basi menanggapi obrolan pembeli tadi.


“Oh … begitu.” Kaniya tidak tau siapa Juragan Baron dan tidak merasa perlu banyak tau tentang kehidupan rumah tangga orang lain.


“Kalo juragan Abi apa tidak perlu buruh angkut? Saya lihat jualan kalian makin ramai. Stoknya cepat berputar karena harganya memang tergolong murah dari warung yang lain. Ya kali … mau mempekerjakan anak saya yang ke dua, si Saleh. Dia biasa angkat berat, kalo untuk bantu juragan Abi ke Kota pas belanja kan lumayan tenaganya tidak banyak terkuras, nyetir sendiri jugakan. “ Oh … ibu itu sedang mencari lowongan pekerjaan untuk anaknya, ternyata.


“Oh … maaf buk. Untul itu saya harus tanya suami dulu. Sebab yang bekerja kan beliau. Jadi, nanti akan saya sampaikan.” Jawab Kaniya tidak bermaksud menolak juga tidak menjanjikan untuk menerimanya.


“Iya … mohon di pertimbangkan ya dek. Sampaikan untuk Juragan Abi, apalagi nanti adek melahirkan. Pasti suaminya akan tidak fokus pada kios ini. Lebih baik dari sekarang mencari orang kepercayaan. Untuk lebih mudah kedepannya.” Ibu itu terus saja memberikan saran yang tentu akan menguntungkannya juga terdengar akan memudahkan tugas Abian.


“Iya buk. Siap, nanti kami bicarakan terlebih dahulu.” Kaniya menanggapi dengan senyum manis agar ibu itu tidak merasa begitu tertolak.


Kaniya mengelus perut besarnya. Memilih menutup kios saja, agar tubuhnya bisa beristirahat.


Sejak berangkat ke Kota tadi, Abian sudah berpesan untuk tidak membuka Kios, Abian tidak mau Kaniya terlampau sibuk dan kelelahan dalam hal melayani pembeli. Apalagi jualan mereka adalah sembako, tentu saja ada beras, gula dan sebagainya yang butuh kekuatan dalam hal melayani pembeli. Namun Kaniya merasa cukup bosan hari itu, sehingga memilih menjadi pelayan di kios suaminya tersebut.


“Permisi …” Suara laki-laki terdengar mengetuk pintu kois milik Abian.


“Iya … mau belanja ? Maaf kami sudah tutup.” Jawab kaniya dari dalam. Dan hanya berdiri di balik papan penutup kiosnya.


“Oh … tidak saya mau berjumpa dengan Abian. Anak bu Indah kan.” Ucap suara laki-laki yang terdengar tidak muda lagi.


Bersambung …