LOVE WITH MY HOT UNCLE

LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 46 : MANTAN KEPALA DESA



Mentari sudah tak berada di tengah, posisinya cendrung ke ufuk barat. Langit jingga ke emasan berpendar, pertanda senja sudah menguasai angkasa raya. Sehabis senja datang lah malam. Dan Kaniya tak punya alasan untuk tetap membuka pintu Kiosnya. Ia ingin menghabisakan sisa waktu untuk merenggangkan sendi-sendi ototnya yang sejak tadi ia ajak bekerja lumayan berat.


Kaniya sudah ingkar dengan pesan sang suami. Yang tidak mengijinkannya untuk melayani pembeli, saat ia sedang tidak ada di sisi. Abian sudah berpesan untuk tutup saja sehari ini. Di samping agar Kaniya tidak capek, juga ketersediaan barang yang di jual memang sudah hampir habis, akan lebih sulit mencari-cari, ternyata stoknya memang tidak ada.


Tapi Kaniya sudah bukan kucing manis yang patuh dan penurut. Walau dengan perut yang mulai membesar, Kaniya merasa bosan jika waktunya hanya di habiskan untuk menonton Televisi, melipat pakaian atau sekedar membaca beberapa buku. Ia pun perlu berinteraksi dengan orang lain selain dengan Abian yang seolah menjadikannya istri pingitan. Dijagai dengan ketat, agar para tetangga tak kepo dengan status perkawinana dan kehamilan istrinya itu. Kasihan Kaniya, terlalu di jaga bagai dalam sangkar.


Ketika matahari sungguh telah pulang, Kaniya pun tak memiliki keberanian untuk masih membuka kios mereka. Sehingga saat ketokan berkali-kali di luar ia dengar. Kaniya tak lantas membuka pintu.


“Permisi …” Suara laki-laki terdengar mengetuk pintu kois milik Abian.


“Iya … mau belanja ? Maaf kami sudah tutup.” Jawab kaniya dari dalam. Dan hanya berdiri di balik papan penutup kiosnya.


“Oh … tidak saya bukan pembeli, tapi mau berjumpa dengan Abian. Anak bu Indah kan?” Ucap suara laki-laki yang terdengar tidak muda lagi. Kaniya merasa tidak asing mendengar nama neneknya, ibu dari papa Abrar di sebut oleh tamu di luar itu. Untuk itu, iapun memberanikan diri membuka pintu. Memastikan jika itu sungguh tamu, bukan pembeli.


Tampak lelaki tua dengan tubuh ringkih. Berdiri di depn pintu tersebut.


“Apa benar, Nak Abian kembali tinggal di desa ini?” tanyanya tak sabar, begitu daun pintu itu di buka oleh Kaniya. Yang masih tampak bingung dan sedikit takut menerima tamu.


“Oh …iya Pak. Kami sudah hampir 5 bulan tinggal di desa ini.” Jawab Kaniya masih berdiri saja di ambang pintu. Tidak menyilahkan Tamu itu masuk, juga tidak memberikan aba-aba apapun. Bagai terpaku saja di ambang pintu.


“Boleh saya bertemu …?” pinta lelaki tua itu sopan.


“Maaf … Suami saya belum pulang dari Kota. Sejak pagi ia pergi belanja keperluan Kios. Jika memungkinkan, silahkan bapak datang lagi besok. Dan maaf, boleh saya tau bapak ini siapa?” tanya Kaniya masih di posisi berdiri.


“Oh … iya maaf. Lupa memperkenalkan diri. Saya Damar, mantan Kepala Desa ini sewaktu ibu Indah masih ada.” Jawab lelaki yang mengaku mempunyai nama Damar itu menjawab dengan segera.


“Oh … baiklah nanti saya sampaikan.” Kaniya tidak berminat menyilahkan lelaki tua itu masuk ke dalam rumah mereka. Tak berani ia mengambil resiko terburuk yang mungkin saja terjadi. Ia orang baru di Desa itu, mana jarang bergaul. Ia tiba-tiba mersa cemas dan sedikit takut, akan niat orang yang bahkan datangnya secara tiba-tiba.


“Maaf Pak. Saya hanya takut akan adanya fitnah. Silahkan bapak duduk di luar saja, sementara saya buatkan minuman, mau kopi atau teh.” Akhirnya Kaniya sedikit iba pada tamu yang katanya harus 4 jam mengayuh sepeda demi ingin bertemu dengan Abian suaminya. Apakah ada sesuatu yang teramat penting, sehingga Damar harus sedemikan berjuang untuk sekedar bertemu dengan Abian.


“Oh … Air putih hangat saja.” Jawabnya mendudukan p4ntatnya di kursi teras yang tersedia untuk dua orang di depan itu.


“Baik, permisi sebentar ya Pak.” Kaniya memang anak yang sopan dan penurut. Tidak susah baginya menjadi orang Desa yang selalu ramah dengan orang lain, terlebih orang yang baru di kenalnya sekalipun. Awalnya ia pernah memiliki ibu yang menyayangi dia dengan penuh kasih sayang, pun Abrar adalah ayah yang tak kalah sangat menyayanginya. Hanya setelah kedatangan Soraya berserta dengan kesuksesan usahanya, yang merenggut kehangatan dan kebahagian Kaniya.


Namun kesininya, setelah banyak melewati derita yang di timbulkan oleh sang ibu tiri. Kaniya sempat oleng. Memiliki pribadi yang egois tak mau kalah terutama karena ia melindungi dirinya dari serangan kejamnya siluman ular itu. Sampai ia kehilangan akal sehat yang dengan berani menyerahkan diri pada pamannya sendiri. Juga bagian dari ke frustasian Kaniya juga.


“Silahkan di minum. Maaf, Bapak sudah makan?” tanya Kaniya sambil menyuguhkan segelas air putih hangat di atas baki.


“Ini saja sudah cukup, Nak.” Jawabnya menyambut nampan berisi segelas air yang di suguhkan untuknya.


Kaniya agak kikuk. Ingin masuk rumah, tetapi tak sopan dengan tamunya. Ingin tetap berlama-lama di luar, juga tak enak dengan tatapan tetangga yang sdang berseliweran menuju surau yang memang harus lewat depan rumah mereka.


“Bapak tidak menyangka, kalau nak Abian akan kembali ke desa ini. Bapak kira dengan perginya ia ke Kota dan menuntut ilmu di sana. Ia akan lupa pada kampung halaman. Karena itu, sejak saya dengar dia menetap di Desa ini kembali, saya sangat ingin bertemu dengnnya.” Damar seolah bicara sendiri. Menatap hari yang semakin gelap. Kadang matanya menatap ke atas, ke bawah kiri dan kanan, sekedar mencari semua memory yang pernah tertoreh di rumah tersebut.


Kaniya ingin bertanya banyak tentang Abian, tapi ia ragu. Takutnya kenangan Abian kecil nantinya akan merembet tentang Abrar, yang kata Veronia adalah ayah kandungnya. Bukankah tujuan mereka ke Desa ini untuk menyembunyikan identitas mereka yang menikah. Masih dalam pertalian darah. Lalu jika ia akan menanyakan tentang Abrar dan Abian. Tentu saja semua akan terbongkar. Sebab Kaniya juga tidak akan bisa bohong dengan namanya yang tersemat nama kakeknya yaitu Waluyo.


“Dulu … saya sukses jadi Kepala Desa atas dukungan Pak Waluyo ayahnya Abrar dan Abian ini.” Tanpa di tanya Damar tiba-tiba ingin bercerita dengan kaniya. Entah maksudnya apa. Bisa saja ia juga merasa canggung saat hanya berduaan dengan Kaniya di teras rumah itu.


“Bapak juga kenal pak Abrar …?” terpaksa Kaniya bertanya. Seolah ia yang tak kenal dengan nama lelaki yang pernah 23 tahun dipanggilnya papa itu.


Bersambung …