
Abrar sudah banyak kehilangan waktu untuk berobat. Semenjak pulang dari rumah sakit dan pasca menjalani operasi pecah pembuluh darah itu, mestinya ia harus tetap melakukan kontrol agar kesehatannya bisa terpantau dan progres kesembuhannya dapat di ketahui. Nyatanya membawa Abrar berobat ke Singapura itu hanya karangan Soraya saja. Agar terlihat ia perhatian dan tidak terlihat jahat di mata karyawan suaminya.
Padahal yang benar adalah ia sudah lama menunggu saat ketidak berdayaannya Abrar. Agar ia bisa segera bersatu kembali dengan Handoko suaminya, yang memang tidak pernah cerai. Soraya adalah pelaku poliandri yang sesungguhnya, dan itu di setujui oleh sang suami yang sangat mahir menengadah tangan pada Soraya.
Kembali ke sebuah kamar rawat inap di salah satu rumah sakit swasta, Abrar sungguh mendapatkan fasiltas yang lengkap. Tian sudah menyiapkan segala sesuatunya bersama Abian. Walau keuangan Abian tidak sebanyak dulu. Tapi setidaknya ia tidak bisa pelit pada Abrar. Baginya kepulihan sang kakak tetap nomor satu.
“De … ini ayahmu. Ayah mu dan kak Kaniya.” Jelas Veronia pada Denoya yang juga berada dalam ruangan rawat itu untuk menemani sang mama. Dengan tujuan berkenalan dengan ayah biologisnya.
Sebab Denoya selama ini hanya pernah mendengar nama Abrar di sebut sebagai ayahnya. Tetapi sosok, apalagi kasih sayangnya. Sama sekali tak pernah ia dapatkan dari serorang yang di aebut ayah itu. Baginya ayah itu hanya ada dalam dngeng. Ia hidup penuh dengan keprihatinan, olokan dari teman yang memiliki keluarga lengkap, sudah sering di terimanya. Hal itu membuat Denoya hidup dengan pribadi yang tertutup. Cendrung pendiam dan tidak banyak bergaul. Sekllah dan segera pulang kerumah untuk sebisa mungkin membantu pekerjaan ibu jika misal Veronia membutuhkan bantuannya.
Denoya hanya diam melihat tubuh kurus dan renta di hadapannya.
Apa yang bisa ia tuntut dari seorang yang sudah tak berdaya. Orang yang sudah melukai hati serang ibu yang sudah merawat dan membesarkannya sendirian dengan tantangan dan ujian hidup pasang surut itu.
“Kalian sangat mirip De. “ Celetuk Kaniya memandang berganti-ganti antara Abrar dan Denoya.
“Huuum.” Denya hanya berdehem. Dia tak tau harus bersikap seperti apa pada lelaki bernama Abrar itu. Kasihankah? marahkah? Entahlah. Ia tak pandai mengambil keputusan. Baginya cukup pernah tau saja, dan berjanji jika nanti ia tak akan menyia-nyiakan wanita yang akan ia tetapkan menjadi ibu dari anak-anaknya.
Tiga hari berlalu, keadaan Abrar sudah jauh lebih baik. Namun tetap tidak bisa bersuara. Hanya air matanya yang terus menerus keluar, melihat orang-orang yang pernah ia keluarkan dari rumah sudah berderet-deret berdiri mengelilingi ranjangnya.
Tangannya menunjuk pada Veronia yang di masa tuanya tetap memancarkan kecantikan alami, menampakkan kesehajaan dan kesederhanaan di wajah itu. Matanya juga tertuju pada Denoya yang berdiri di samping Veronia.
“Mas Abrar … ini Denoya Putra Waluya. Saat aku pergi dari rumah aku ternyata sedang memgandung anakmu. Apa yang di tuduhkan Soraya, Demi Allah Mas… itu tidak benar.” Veronia lantang berkata bahkan di depan semua yang ada di dalam ruangan itu.
Bahu Abrar bergetar, sungguh dalam tangisnya. Seolah menyesal tak pernah mau memberi kesempatan pada Veronia untuk membuktikan semuanya. Atau sekedar membela diri saja, tidak ada kesempatan. Ia terlalu percaya dengan siluman ular si Soraya itu. Yang akhirnya dengan mata kepalanya sendiri ia melihat kecurangan wanita kedua tersebut.
“Mas … kalau mas bersedia. Kita akan melakukan operasi lagi untuk membersihkan lagi penyumbatan yang masih tersisa. Dan seterusnya kita harus tekun melakukan terapi agar Mas bisa segera pulih.” Kali ini Abian yang bersuara. Ia yang sangat perlu sebuah pengakuan tentang statusnya. Abian yang sangat berkepentingan atas kesembuhan sang kakak.
Abrar bisa mengerakkan kepalanya. Dan itu adalah gerakan kekiri dan ke kanan. Artinnya ia menyatakan tidak setuju. Lalu tangannya menunjuk ke arah Kaniya. Tangannya tampak meminta anaknya itu mendekat padanya. Masih dengan mata yang terurai basah.
Lagi.
Abrar menggelengkan kepalanya. Pertanda tidak setuju. Mulutnya terbuka dan tertutup. Seolah sangat ingin berbicara tapi tak mampu.
“Papa … maaf. Jangan sakit lagi. Tolong jawab pertanyaan Niya dengan angguklan atau gelengan. Apakah om Abi bukan anak Kakek Waluya?’’ Kaniya tidak sesabar Abian. Bukankah mereka sedang di rumah sakit. Jika Abrar, gagal nafas pun. Mereka sudah berada di rumah sakit. Jadi, menurut Kaniya itu tidak masalah di tanyakan dengan cepat.
Mata Abrar membesar ... semacam bingung mengapa pertanyaan itu di lontarkkan oleh Kaniya.
“Apakah papa kenal dengan Pak Damar? Mantan Kepala Desa tempat nenek Indah tinggal ?” Tanya Kaniya pelan sambil mengelus tangan berinfus itu.
Pelan kepala Abrar mengangguk, pertanda benar.
“Kemarin Niya dan Om Abi sempat tinggal di desa, di rumah nenek Indah. Lalu ada serang kakek bernama Damar. Menceritakan masa lalu Kakek Waluya. Dan dia bilang, bahwa Om Abi itu adalah anak Laras dan Wiguna. Wiguna itu meninggal karena kecelakaan, dan laras meninggal setelah tak lama melahirkan Om Abi. Apakah itu benar pa …?” Pelan –pelan Kaniya merangkai pertanyaannya dengan runtut. Dan itu tetap saja membuat Abrar terlihat bergetar, karena tangisanya yang semakin kencang. Tetap dengan kepala yang terus mengangguk-angguk.
Abian Mendekat dan membuat posisi Abrar setengan duduk, kemudian merangkulnya. Membiarkan Abrar merasa tenang dalam pelukannya. Hingga bahu Abian basa.
“Mas … Apakah benar aku bukan anak kandung ayah?” Setengah berbisik Abian bertanya di dekat telinga Abrar. Masih dalam pelukan yang semakin erat.
Semakin menjadi tangis Abrar sambil menaganggukkan kepalanya. Bahkan bukan hanya dari matanya cairan itu keluar, tapi juga dari hidungnya. Lama mereka tenggelam dalam pelukan basah, sebab bukan hanya Abrar yang menangis. Tetapi Abian juga. Entah begitu reflek airmatanya ikut jatuh. Dan terhanyut dalam rasa yang sulit ia ungkapkan.
Bertemu dengan sang kakak dalam keadaan yang cukup mengenaskan, namun tidak dengan sebuah kebenaran yang terungkap. Tiada tara rasa bahagia dalam hatinya. Jika ternyata hubungan dengan Kaniya selama ini bukalah cinta terlarang, seperti yang di kira dan di cap oleh orang selama ini. Semakin besar rasa yang berkobar dalam hatinya. Untuk sungguh hanya mencintai dan melindungi wanita pilihannya. Yang bahkan sejak dara itu bocah sampai kini berhasil mengandung anaknya, Kaniya satu-satunya wanita terindah dalam relung hati Abian.
“Mas … maaf aku mencintai Kaniya anak mas. Dan cinta itu sudah bukan sekedar cinta antara Om dan keponakan, melainkan cinta yang tulus. Sungguh sebagai Kaniya Putra Waluya. Dan anak Mas sudah ku nikahi secara siri yang kemudian kami daftarkan di pengadilan negri, setelah aku resmi bercerai dengan Alice. Cepat sembuh, agar kita akan menggelar resepsi setelah anak kami lahir nanti.” Ucap Abian panjang pada Abrar yang melongo mendengar uraian itu.
Bersambung …