LOVE WITH MY HOT UNCLE

LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 6 : SUGAR BABY



Ijin untuk tidak pulang sudah di kantongi oleh Abian. Maka, tak ada kendala yang membuatnya harus tergesa untuk pulang ke rumah istrinya. Belum lagi, rasa rindunya belum terpuaskan hingga tuntas pada gadis kecil yang baru berhenti jadi perawan oleh dirinya. Bukankah, idealnya. Berpelukan sampai mentari menyapa esok hari adalah hal terbahagia yang mereka impikan selama ini.


Lalu … bagaimana Abian menahan dirinya untuk tidak tersulut jika tubuh tanpa lapisan apapun itu bahkan sudah menduduki atas perutnya kembali. Jangan tanya ronde atau babak keberapa pada mereka, keduanya sudah sama-sama kalap. Berdalih reaksi obat perangsang. Padahal keduanya memang sudah sama-sama kesetanan ingin saling beradu ilmu kanuragan lagi dan lagi.


Sarapan pagi ala hotel sudah tandas. Keduanya tentu bagai tawanan yang sudah tiga hari tidak makan. Tak ada sisa dari sajian yang di antarkan, kecuali piring, gelas dan mangkuk sebagai wadah makanan yang di antar ke kamar 501 itu. Tidak ada drama suap-suapan. Sebab mereka hanya berlomba memasukan makanan tersebut ke mulut masing-masing dalam tempo yang singkat, mirip Proklamasi saja. Sungguh mereka hampir ke habisan energy setelah pemersatuan yang liar dan luar biasa sepanjang malam. Hingga pagi akan datang.


“Niya … ini buat jajanmu. Jangan minta papamu lagi, mulai hari ini. Semua biayamu Om yang tanggung. Lagi pula Mas Abrar sudah hampir bangkrut menafkahi ibu tirimu itu.” Abian memberikan kartu debit untuk Kaniya.


“Woow … begini rasanya jadi sugar baby.” Kaniya tidak menolak. Ia bahkan bangga menjadi simpanan om om. Ralat. Omnya sungguhan.


“Besok kita hunting apartement buat kamu. Eh, buat kita having.” Abian sekarang sudah menjadi CEO sebuah perusahaan. Sesuai janji Abrar padanya. Jika ia pulang menyelesaikan Magisternya, bahkan sudah berhasil mempunyai istri. Abrar taat pada janjinya. Dan hal itu juga yang membuat Soraya istrinya merasa gerah dengan kepulangan Abian. Dia takut miskin.


“Niya … sungguh tidak akan ke London Om. Tapi Niya sudah dapat surat pindah.” Kaniya sedikit bingung. Status kemahasiswaannya sudah terlog out dari kampusnya.


“Nanti om cari kampus yang baru di sini. Atau di kota lain? Nanti tempat tinggalmu akan menyesuaikan dengan jaraknya.” Abian seorang yang visioner. Ia sepertinya sudah matang ingin memelihara Kaniya sebagai simpanannya dan tetap akan memainkan perannya sebagai suami Alice dalam waktu bersamaan. Luar biasa. Semacam dosa itu sudah terskip kan olehnya yang sedang buta. Buta karena cinta.


“Niya mau tetap di kota ini saja. Biar Om Abi ga ada alasan jarang jenguk Niya.” Jawab Kaniya dengan santai dan tanpa pikir panjang.


“Okeeh… See u Tomorrow baby.” Jleeeb. Kaniya hampir gila mendapat panggilan baru dari sang kekasih. Ingin lagi rasanya melorotkan pakaian yang ia kenakan, dan membentangkan tubuhnya kembali untuk di sesap dan gauli oleh pria pujaan hatinya. Menjijikan.


“Abiii … I miss yu.” Peluknya lagi menyergap tubuh atletis nan tampan di hadapannya.


“Yess… bahkan saat om berhadapan dengan mu pun, om selalu rindu kamu baby.” Abian mencium puncak kepala Kaniya lama dan lembut. Sangat kental terasa, jika dua insan di mabuk asmara ganjil itu, berat untuk berpisah.


“Me too.” Jawab Kaniya yang enggan pisah dengan saudara ayahnya tersebut.


Ada pertemuan, tentu ada perpisahan. Walau berat, tak mungkin kebersamaan itu tak berakhir. Bukankah mereka punya kehidupan masing-masing. Maka, melepas rangkulan saat pintu lift terbuka adalah hal yang paling di benci Kaniya yang sudah sangat baper dengan hubungan terlarang mereka ini.


Kaniya memang anak Abrar, masih tinggal satu rumah pada atap yang sama dengan ayahnya tersebut. Tapi perihal Kaniya ada di rumah atau tidak itu, tidak ada yang memperhatikannya. Laporan gas habis dari para ART bahkan poin yang lebih penting untuk di ketahui sang majikan, ketimbang keberadaan Kaniya di rumah. Sungguh mengenaskan.


Hal itu bukan karena Abrar tak lagi menyayangi putri tunggalnya. Melainkan ia terlalu percaya dengan laporan dari sang istri. Yang selalu melaporkan hal baik menurut versinya pada sang suami.


“Mom … sejak kemarin papa tidak melihat Kaniya. Apa dia memiliki ilmu menghilang?” tanya Abrar dengan nada bercanda pada istrinya saat menyelesaikan sarapannya sebelum berangkat ke kantor.


“Wow … apa ada ilmu seperti itu di jaman ini Mas?” tawa Soraya renyah. Serenyah emping melinjo yang baru saja di goreng, bahkan gurih.


“Ajaklah dia makan bersama. Minimal kita bisa sarapan tiap pagi bersama.” Lanjut Abrar yang merasa ada hal yang kurang, jika tiap pagi hanya ada Bayu dan Lidya anak Soraya yang bisa berkumpul di meja makannya.


“Kaniya sudah ijin, menginap di rumah Melan Pa. Katanya bosan menghabiskan libur semester di rumah melulu.”Jawab Lidya memberikan informasi. Entah itu karangan atau sungguhan.


“Oh …. Ya mungkin sejak sekarang kita memang harus terbiasa tanpa dia.” Jawab Abrar datar.


“Maksudnya …?” Bayu. Bayu lebih penasaran dengan tujuan pembicaraan sang ayah tiri. Bayu dan Kaniya hanya bersaudara karena ibunya menikahi duda beranak satu itu. Secara darah, mereka tidak saling berhubungan. Dan, diam-diam selama ini Bayu banyak menggantungkan harapannya untuk menjadi lelaki yang nanti akan memiliki Kaniya. Bayu jatuh cinta pada saudara tirinya itu. Tidak sekali Bayu berlagak sebagai lelaki pelindung Kaniya, apalagi saat mereka kadang bisa hang out bersama. Bayu kerap mengajak Kaniya nongkrong dengan teman-temannya. Tanpa menjelaskan jika, Kaniya adalah anak ayah tirinya. Bayu ingin jadi pacar Kaniya.


“Setelah libur semster ini berakhir. Kaniya akan resmi menjadi mahasiswa di London. Sekarang ia hanya sedang menunggu pembuatan pasport untuk segera terbang ke Negara tersebut, untuk menyelesaikan strata satunya.” Abrar memberikan informasi kepada anak tiri dan istrinya.


Hati Soraya bagai di bejeg-bejeg. Tak suka ia mendengar berita itu. Ia dan Abrar sudah shariing soal itu. Dan sejak permintaan Kaniya untuk kuliah di London. Soraya menentangnya habis-habisan. Segala umpatan dan caci maki sudah keluar dengan sempurna. Sumpah serapahnya apalagi. Intinya, ia keberatan dan merasa Abrar tak adil memperlakukan anak-anak mereka.


“Mas …” Nada suara Soraya tidak pelan. Bahkan terdengar jelas jika itu adalah hardikan. Peringatan agar Abrar waspada.


“Maaf sayang. Kaniya itu anakku. Anak kandungku. Bagaimanapun, akulah tempat satu-satunya untuk meminta. Aku yakin, Kaniya minta pindah bukan tanpa alasan. Putriku itu sangat cerdas. Aku yakin dia mampu menjalani perkuliahan di sana dengan baik.” Bela Abrar untuk Kaniya putrinya.


“Ini bukan tentang kamu sayang anak kandungmu Mas. Tapi perhatikan keadaan perusahaanmu sekarang. Apakah keuangan mu mampu.” Soraya bahkan lebih dahulu meninggalkan meja makan itu, akibat rasa marahnya yang tak dapat ia bendung.


Bersambung …