
Kaniya juga sempat curiga akan hasil tes DNA yang Soraya berikan padanya waktu itu. Jangan-jangan itu HOAX. Tapi, baginya itu malah menguntungkan hubungannya dengan Abian. Sehingga mereka berdua memilih percaya dengan tulisan di atas kertas itu, ketimbang mencari kebenaran. Lagi pula, bukankah hanya Abrar yang bisa mereka mintai keterangan perihal kebenaran tersebut. Hanya, bukankah Abrar sakit bahkan hingga sekarang tak bisa mereka temui. Abrar bagai hilang di makan Soraya sendiri.
“Kenapa mama bercerai …?” Kaniya merasa perlu banyak tau.
“Ya karena mama berkeras memberi nama Waluya di belakang nama Denoya. Lelaki mana yang mau hidup bersama wanita yang masih di bayang-bayangi cinta di masa lalunya. Lagi pula dia juga tau, saat kami menikah, mama sudah hamil. Dan itu memang bukan benihnya. Yah … setidaknya mama sempat merasakan di temani seseorang di saat hamil.” Ujarnya membelai rambut Kaniya dengan penuh rasa rindu.
“Jadi aku sungguh anak papa. Dan itu artinya Om Abian itu …”
“Hubungan kalian berdua tabu Niya, jika orang jaman dulu bilangnya pamali. Jika bisa batalkan saja pernikahan kalian, ini benar benar saru. Hubungan darah kalian sangat dekat, Dek Bian itu saudara papamu.” Veronia sungguh memohon pada keduanya.
“Tapi Niya sekarang sedang hamil anak Om Abi, Ma.” Jawab Kaniya jujur.
“Oh Tuhan … apakah ini tanda-tanda akhir jaman. Maaf … maafkan mama yang tidak bisa mempertahankan dan terus menjaga rumah tangga kami. Seandainya kami tidak bercerai, kamu tidak akan salah langkah Niya.” Tangis penyesalan sang mama sangat terdengar nyaring dalam luka yang menganga.
Veronia tidak hanya menyalahkan Abian dan Kaniya. Justru lebih menyalahkan dirinya. Yang tidak mampu melawan badai. Sekokoh karang untuk tetap berada di sisi Abrar walau apapun rintangannya. Bagi Veronia, Kaniya adalah salah satu korban perceraian yang ia ciptakan sendiri. Veronia sungguh merasa dirinyalah yang paling bersalah dalam hal ini.
“Tidak mbak, mbak sama sekali tidak bersalah. Kami yang memang dengan sengaja memanjakan rasa yang muncul dalam hati kami, hingga tak bisa saling pergi. Aku bahkan sudah sempat menciptakan jarak. Bahkan sempat menikah dengan wanita lain. Tetapi kita sam mbak, aku tidak bisa hidup dengan wanita lain. Yang dalam benakku hanya ada Kaniya dan Kaniya.” Veronia hanya mampu menatap Abian yang dengan penuh kesungguhan menyampaikan perasannya pada putrinya.
“Niya yang wajib di salahkan, karena telah membuat Om Abi tak bisa pergi dari Niya. Aku yang salah Mah. Aku …” Tangis mereka tak dapat di elakkan. Kalut dengan sebuah kenyataan. Bahwa mereka memang sedarah. Bedebah Soraya itu pelakunya. Yang memuluskan persatuan Kaniya dan Abian.
Padahal waktu Kaniya menyerahkan dirinya pada Abian, setelahnya ia akan memilih pergi. Ia hanya sekedar ingin menyerahkan dirinya utuh pada Abian. Lantas menghilang dari hidup Abian. Namun, hasil DNA palsu itu yang justru menjerumuskan keduanya. Masuk dalam hubungan terlarang. Sebab, ternyata sungguh mereka adalah pasangan keponakan dan om kandung.
“Apa kabar mas Abrar sekarang …?” Lelah menangisi masa lalu mereka, kini Veronia merasa ingin tau kabar tentang lelaki yang masih sangat indah dalam hidupnya dulu hingga sekarang.
“Kami pun tidak pernah tau kabar terbaru Mas Abrar. Setelah menyerahkan hasil DNA itu, Niya ingin meminta keterangan dari papa. Namun, pertanyaan Niya justru membuat papa shock hingga kena serangan storke. Sejak itu, Niya tidak boleh bertemu papa. Karena tante Soraya bilang, aku bukan anak papa. Sudah tak punya hak lagi menemuinya.” Jelas Kaniya menanggapi pertanyaan Veronia.
“Kejam …!” Gusar Veronia mendengarnya.
“Mama … apa konsekuensi dari hubungan terlarang kami ini?” tanya Kaniya yang masih kepikiran atas hubungannya dengan sang paman.
Veronia menarik nafas dan membuagnya dengan kasar. Ia bukan hakim yang bisa memutuskan hukuman apa yang pantas untuk hubungan terlarang ini.
“Faktor genetika yang masih sedarah itu sangat beresiko. Kemungkinan anak lahir cacat, sepeti kelaianan jantung hingga gangguan mental pada anak yang di lahirkan nanti.” Veronia bukan wanita bodoh, ia juga sempat mengenyam bangku kuliah dan di saat itulah ia berjumpa dengan Abrar lalu memutuskan membina rumah tangga hingga mereka sukses.
“Ah itu hanya mitos. Sekarang jaman sudah canggih, banyak obat yang bisa di konsumsi dari sekarang, agar kecacatan itu dapat di hindari.” Kaniya menghibur diri sambil mengelus perutnya yang masih rata.
“Entahlah … yang pasti sebaiknya kalian tidak boleh bersama. Jika tinggal di kampung kalian sudah di arak keliling kampung dan harus melaksanakan ritual buang sial. Sebab, hubungan kalian sama saja seperti seorang ayah mengawini anak kandungnya.” Airmata Veronia tak terbendung. Sungguh tak bisa nalarnya berpikir untuk membenarkan hubungan terlarang yang putrinya lakukan.
Veronia tau bagaimana rasanya di minta berpisah dengan orang yang teramat sangat di cinta. Tapi mereka salah menempatkan rasa itu. Mereka terlampau buta, menabrak tata aturan yang sangat sakral.
“Kalian sungguh telah menikah? Bukankah dek Bian tadi sempat bilang pernah menikahi wanita lain?” Veronia mencari alasan agar Abian tidak melanjutkan hubungannya denganKaniya.
“Sudah dari tiga bulan lalu. Dan aku juga baru bercerai dengan Alice.” Jawab Abian sesuai keadaan.
“Soraya yang merebut papamu dariku. Kenapa justru kini kamu yang merebut suami orang, Niya.” Lagi dada Veronia sakit. Tak mengerti dengan karma yang salah sasaran. Mengapa harus putrinya yang menjadi perusak rumah tangga orang lain, pamannya sendiri pulak. Mengapa tidak anak Soraya saja yang menyandang dosa kejik sang ibu. Dalam hal ini, Veronia merasa dunia tidak adil padanya. Mengapa hanya kesedihan duka lara yang menjadi bagiannya. Sesalah apa masa lalunya, hingga hidupnya semenderita ini.
“Niya tidak merebut suami tante Alice. Melainkan dia yang sudah mencuri cinta pertamaku. Om Abi itu kesayangan Niya sejak dulu sampai kapanpun. Jadi aku hanya mengambil bagian yang sudah semsetinya menjadi hak ku.” Ucap Kaniya lancang.
Sejak awal, memang Kaniya yang sangat terobsesi untuk memiliki Abian. Mana dia terima di sebut pelakor. Rasa memilikinya terlampau tinggi pada Abian, sehingga hukum Tuhan dan masyarakat pun berani ia tantang, demi cinta. Konyol.
“Cepat atau lambat hubungan kalian akan terendur khalayak ramai. Bagaimanapun, orang sudah sangat tau jika Kaniya adalah putri Abrar. Terlepas dari hasil tes DNA karangan Soraya jahat itu. Dan dalam dunia bisnis kalian, Dek Bian juga tentu sudah sangat di kenal sebagai adik Mas Abrar. Untuk itu, mama sarankan. Kalian jangan lagi bermukim di kota ini. Pergilah ke mana, untuk kalian membina rumah tangga. Agar hubungan sedarah kalian tidak terendus massa.”
Bersambung …