
Suasana di ruang rawat inap Abrar itu mendadak haru, ada tangis yang menghampiri semua oarang-orang di dalamnya. Tak terkecuali Denoya yang juga ikut merasakan kesedihan yang melanda isi hati para tetua di sana. Walau tidak semua rasa itu adalah sebuah kepedihan. Sebab Kaniya dan Abian menangis bukan karena pilu, melainkan merasa lega. Sebab hubungan mereka sungguh halal dan sama sekali tidak tabu.
Sayang, Abrar tak dapat bicara. Entah apa yang ingin ia sampaikan atas pernikahan Abian dan putrinya Kaniya. Hanya setelah Abian sampaikan bahwa mereka telah menikah. Abrar segera melambaikan tangan pada Kaniya, lalu meminta tangan keduanya saling berpegangan, dan ia pun ikut mengenggam kedua tangan yang saling tertaut itu.
“Apa mas merestui hubungan kami berdua …?” Abian menerka saja akan respon Abrar. Serta merta kepala itu terangguk-angguk, namun masih dengan mata yang basah. Mungkin tangisan bahagia.
“Papa … cepat sembuh. Sebentar lagi papa akan punya cucu. Papa mau kan bermain dengannya.” Kaniya mengelus perut besarnya.
Lagi.
Tubuh Abrar terguncang hebat, datang lagi gejolak tangisnya nan hebat. Konon orang yang terserang stroke memang tak dapat membedakan ekspresi sedih dan senangnya. Mereka cendrung perasa dan menyamaratakan responnya dalam bentuk tangisan yang berlebihan. Pun saat tertawa atau kesenangan juga, tetap akan mengeluarkan zat enzim yang berlebihan.
Veronia hanya melihat semuanya dari atas sofa. Duduk manis bersama Denoya anak yang di besarkannya sendiri. Ia masih merasa jika Abrar sungguh tak memiliki rasa kepercayaann yang sungguh terhadapnya. Sumpah ia shck saat kenyataan bicara, jika Abian bukan saudara kandung mantan suaminya itu. Mengapa ia tak pernah jujur, apakah Abrar tak yakin jika Veronia bisa di percaya memegang janji dan rahasia.
Veronia segera mohon pamit. Tujuannya datang ke rumah sakit itu hanya ingin memperkenalkan Denoya pada sang ayah. Tidak lebih. Hanya sekedar, agar Denoya tau. Jika ia punya ayah seperti orang lain.
“Mas Abrar, kami permisi. Semoga cepat sembuh ya …?” pamit Veronia berdiri di samping ranjang Abrar. Mata Abrar tak lepas memandang sosok Denoya yang baginya bagai sedang melihat dirinya sendiri di waktu muda. Abrar percaya jika itu adalah putranya, bahkan tak perlu di lakukan tes DNA.
“Mbak tidak bertahan atau merasa terketuk untuk ikut menjaga mas Abrar …?” tanya Abian saat Veronia hampir keluar ruangan rawat inap itu.
“Mas Abrar memang ayah dari kedua anakku. Tapi aku belum lupa, jika dia juga masih berstatus suami orang. Dia haram bagiku. Permisi.” Suara Veronia tidak kecil, semua yang ada dalam ruangan itu masih bisa dengan jelas mendengar. Tak terkecuali Abrar. Ia juga dapat mendengar kalimat yang Veronia ucapkan tadi. Dan ia tak peduli bagaimana respon mantan suaminya itu, memilih pulang bersama anak kesayangannya adalah pilihan tepat menurutnya sekarang.
“Sejak Denoya kecil, mama selalu menyanjung lelaki bernama Abrar itu. Jika Deno tak salah, mungkin mama sangat mencintai dia. Tetapi kenapa saat ada kesempatan bertemu, mama tidak terniat untuk merawat dan menjaganya …?” mereka mampir dulu di sebuah tempat makan. Keduanya bersepakat akan mengisis kampung tengah terlebih dahulu sebelum pulang ke kost.
“Kenapa mama harus merawatnya lagi? Mas Abrar itu sudah jadi mantan suami mama. Hanya kalian yang boleh saling berhubungan. Karena hubungan antara anak dan orang tua itu tidak akan pernah bisa di putuskan. Mama hanya wanita yang pernah menjadi istrinya, mama hanya mantan istri. Dan di dunia ini, ga ada yang namanya mantan anak. Bagaimanapun kalian sedarah. Ada darah Waluya mengalir dalam tubuhmu.” Jelas Veronia pada Denoya.
“Mama dendam sama dia …?” tanya Denoya dalam.
“Tidak. Mama bahkan sudah ikhlas dengan semua yang pernah terjadi. Bukankah kita mampu bertahan hidup walau tanpa dia?” Veronia balik bertanya.
“Deno … kecewa itu cukup sekali. Jangan sakiti hatimu sendiri dengan urusan yang sama. Mama pernah tidak di butuhkan, maka selamanya mama yakin. Mama tetap seonggok sampah baginya.” Veronia berucap dengan penuh keyakinan. Walau ia tak tau, apakah lawan bicaranya bisa mengerti dengan yang ia rasa dan pikirkan.
Sementara Tian, sudah mendapatkan semua bukti kecurangan Soraya. Tidak tanggung-tanggung. Tian bahkan memulai kasus itu dari hal yang sangat simple dan pasti tidak ia kira akan berakibat besar untuknya.
Bukankah Kaniya dan Abian sudah menceritakan semua yang terjadi. Hingga masalah hasil tes DNA yang di serahkan Soraya pada Kaniya saat itu. Tidak tanggung-tanggung. Tian bahkan melakukan konfirmasi terlebih dahulu pada pihak rumah sakit yang mengeluarkan surat tersebut. Hanya, ternyata bukan pihak rumah sakit yang salah, namun salah satu pegawai administrasi di salah satu rumah sakit itu yang nantinya akan terkena imbas, sebab telah menerima suap dari Soraya untuk mencuri salah satu dokumen lalu memalsukannya. Menyesuaikan dengan keterangan yang Soraya minta.
Tian sudah melakukan negosiasi pada pihak rumah sakit, dan tentu saja. Pihak rumah sakit tak mau namanya tercemar. Memberikan sanksi seberat-beratnya pada oknum yang berkaitan pada Soraya saja, agar nama rumah sakit mereka tidak tercemar adalah solusi. Dan proses itu sangat cepat, sehingga sang pelaku tak sempat menghubungi Soraya. Tau-tau Tian sudah mengerahkan anak buahnya untuk menangkap Soraya di kediamannya, dengan surat lengkap. Membuat Soraya kalang kabut.
“Ini tidak benar. Kalian salah tangkap!” Hardik Soraya pada tiga orang polisi yang datang menyambangi kediamannya. Belum reda kebingungannya tentang Abrar yang menghilang. Ingin melapr polisi, tetapi merasa tak penting dan takut justru kedoknya terungkap, sebab memperlakukan Abrar semena-mena.
“Nanti di jelaskan di kantor saja bu.” Polisi itu tetap saja mengaitkan besi bulat bagai gelang itu pada tangan Soraya. Gelang tangan bertalian antara satu dengan yang lain. Iya borgol, itu namanya borgol.
“Gilak … kalian akan saya tuntut dengan tuduhan pencemaran nama baik. Kalian sudah menangkap seserang tanpa bukti.” Soraya masih saja ngedumel walau dengan langkah terseret dan berat, terpaksa tubuhnya tetap masuk dalam mobil bersirene dan berlampu biru kelap-kelip itu.
“Nama ibu Soraya …?” Penyidik memastikan nama dengan dkumen di tangannya.
“Iya …” Jawab Sraya ketus, jelas sangat tidak bersahabat dengan lelaki berjaket kulit di depannya.
“Ini bukti tuduhan ibu telah menyuap pegawai rumah sakit, untuk membuat keterangan palsu tentang hasil tes DNA seseorang.” Hempas serang penyidik di hadapan Soraya. Membuat matanya terbelalak. Kenapa perbuatan sekecil itu menjadi masalah. Dia bukan satu-satunya orang yang melakukan kejahatan semacam ini.
“Siapa …? Siapa di balik semua ini?” Gumamnya di dalam hati.
“Bapak polisi yang terhormat, di dunia ini nama Soraya bukan hanya saya. Bapak dan anak buah bapak pasti salah orang.” Waw … besar sekali nyali serang Soraya ini. Sampai masih berani menyangkal diri, bahkan sudah di dalam kandang para penangkap pencuri.
“Oh ya … tetapi, pria yang di ujung sana sudah dapat memastikan. Jika ibu adalah orang yang sudah menerima suap dari anda.” Tunjuk polisi itu pada wanita ular yang tampak masih ingin menunjukkan taringnya.
Bersambung …