LOVE WITH MY HOT UNCLE

LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 13 : I WANT MORE



"I WANT YOU …” Mengapa kalimat itu bagai menyihir Abian untuk melajukan mobilnya menuju hotel terdekat. Ia bahkan tak mengunakan akal sehatnya untuk memastikan sebuah kebenaran yang baru saja ia dengar tentang status Kaniya yang bukan anak kandung kakaknya itu.


Tapi ... Itu bukan sesuatu yang aneh. Saat Kaniya masih berstatus keponakan kandungnya saja, keperawanan Kaniya sudah ia jebol. Apalagi jika kabar ini sungguh benar. Tentang Kaniya bukan anak biologis Abrar Waluya.


“Bersabarlah … aku akan mencari hotel terdekat. “ Jawab Abian meminta Kaniya kembali duduk manis di kursi samping kemudi.


Bukan hal yang sulit bagi pria dewasa yang memiliki KTP dan uang banyak seperti Abian, dalam waktu singkat ia sudah bisa membuka satu kamar hotel cukup mewah di kota tersbut.


Kaniya hampir tak dapat berjalan sendiri, tubuhnya semakin berkeringat dan ototnya terasa nyeri tak jelas. Abian terus memeluknya agar mereka bisa cepat sampai di sebuah kamar yang suhu ruangan dan kebersihannya sudah di kondisikan.


“Mmmmpph …. Mmuuunnnchh … mmmm” Lagi Kaniya menerkam bibir tebal milik Abian. Lidahnya begitu lincah menyerang bagian itu. Tangannya tak mau pindah dari leher Abian bahkan tak ia ijinkan pria itu melangkah jauh, mereka masih berada di balik pintu kamar yang baru saja di kunci oleh Abian.


Tangan kekar Abian tak tinggal diam, ia merasa tubuh di depannya sudah basah oleh keringat atau apapun yang menjadi sumber energy dalam tubuh yang kehausan itu.


“Jaga kewarasanmu Niya. Pastikan ulahmu tidak meninggalkan jejak yang akan menyulitkan posisi Om sebagai suami orang." Peringatan konyol itu sempat saja Abian lontarkan pada wanita setengah sadar di depannya.


“Nanti saja memikirkan hal itu. Tolong Om … tolong Niya. Ini sangat menyiksa. Bahkan rasanya ciuman ini tak membuat aku puas.” Jawaban macam apa yang keluar dari mulut seorang gadis yang memang pernah jadi penguasa dalam hatinya itu.


“Kenapa kamu sampai begini, Niya?” Sambil bekerja, Abian masih banyak ingin tau, mengapa gadis kecilnya begini.


“Bayu … Bayu yang sudah menjebakku.” Jawab Kaniya di sela kesibukannya mengigit-gigit area dada Abian penuh hasrat. Dan Abian bertugas untuk memindah mindahkan letak gigitan Kaniya agar tidak membekas dan memerah.


Abian antara bingung bercampur terseret suasana pun mulai mengelitik bagian inti tubuh Kaniya. Pun tangannya mengantarkan tangan Kaniya pada benda yang beberapa hari lalu sudah berhasil menerobos gawang Kaniya dengan sukses.


“Oooom … tidak. Aku tidak mau memainkannya dengan tanganku. Panas ini menyiksaku Om.” Rengek Kaniya yang justru merasa semakin gatal untuk di dera dengan apapun yang membuatnya terbuai.


Abian tertawa lucu, melihat tubuh molek di atas kasur yang sangat ingin segera ia lumpuhkan.


“Baiklah sayang … aku tak tega melihatmu tersiksa lebih lama. Kamu tau setelah malam itu, bahkan saat tubuh Alice di bawahku. Hanya wajahmu yang ada dalam pikiranku.” Pamit Abian sebelum mengungkung tubuh polos di bawahnya.


Awalnya Abian hanya mencumbunya, memainkan dengan lidahnya buah-buahan yang sudah bercecer tidak terbungus itu. Sementara tangannya bergerilya menekan biji jagung yang tersembunyi pada daging tembem di bawah sana yang semakin lembab dan basah akibat gerakan tangannya, yang menekan, memutar juga keluar masuk sesukanya.


“Nngghhh . Aaahh. Lebih cepat Om.” Rengek Kaniya yang sulit mengartikan rasa apa yang sedang melandanya itu.


Abian tak berminat menjawab, permukaan kulit dada Kaniya sudah basah karena ulah Abian. Kini Kepalanya nyosor ke bawah, merentangkan kedua paha itu, lalu mengirup aroma khas area itu. Menempel bibirnya, menjulurkan lidahnya sebentar, seolah mengucapkan kata ‘Hai, ketemu lagi di bagian itu. Namun kemudian, ia pun frustasi sendiri.


Kelelakiannya tak dapat di bendung lagi, benda yang sejak tadi berdiri bahkan tanpa penopang itu sudah tak sabar ingin bersarang di tempat yang sesungguhnya.


“Aku akan memuaskanmu , baby …” Abian percaya diri.


Benda yang sejak tadi berdiri tegak itu, kini sudah bersarang di muara kenikmatan. Tapi tak bisa serta merta masuk sekehendaknya, sebab tempat itu kecil bahkan sempit.


Abian perlu ancang-ancang. Ia perlu pelumas agar Kaniya tidak tersiksa. Gerakan maju mundur yang Abian lakukan awalnya memang pelan. Tapi ritme itu gagal ia pertahankan saat Kaniya yang mengoyang tubuh bagian bawahnya. Bukan sengaja, tapi alamiah terjadi. Kaniya merasakan sakit, nyaman dan penasaran bersamaan. Geliatnya membuat tubuhnya tergerak dan bergoyang sendiri.


“OOuuh … Nghh … Aaaahh ..!!!”


“Kenapa …?” Abian berceloteh manja.


“Sakiiiit.” Rintih Kaniya sadar.


“Stop…?” pertanyaan konyol bukan? Bukankah Abian sendiri yang akan tersiksa jika permainan itu terhenti bahkan saat semuanya belum di mulai.


“No … no. Pliiis faster.”Astaga … tangan Kaniya justru menekan b0kong yang sedari tadi hanya mendayu dayu ragu antara masuk atau hanya di luar saja.


Keadaan ini sangat memaksa sekaligus menyiksa benda miliknya yang makin menegang hebat. Memberanikan diri untuk merasuki Kaniya lebih dalam, dengan hentakan yang menghasilkan bunyi bunyian berirama bagai tepukan khas dua benda yang saling bertemu.


“AAauuw.” Pekik Kaniya tak tertahankan.


“Yess … aah. It’s hurt daddy.” Sialan. Kaniya bahkan sudah mengganti panggilan Omnya dengan sebutan daddy pada Abian.


“Wait a minute baby, after this you will feel good.” Kaniya baru saja lepas perawan, tentu saja yang mereka lakukan kali ini pun rasanya masih sesempit sebelumnya. Mungkin jam terbang bercocok taman mereka harus lebih di kencangkan lagi, agar makin lumer dan terasa makin nyaman.


Kedatangan Abian di parkiran club itu tepat waktu. Bagaimana jika ia tidak menemukan Kaniya di waktu yang tepat.bisa-bisa Bayu lah orang kedua yang manikmati tubuh mantan gadis kecilnya ini.


“Kaniya nikmat sekali. Aku bahkan tak pernah merasakan kenikmatan ini pada Alice, bahkan di malam pertama kami sekalipun.” Puji Abian pada bagian inti Kaniya yang baru saja ia renggut kesuciannya.


Sementara pikirannya melayang, ia terus saja memundur maju dan memompa bagian itu hingga peluhnya dan Kaniya tak dapat di bedakan, berbaur, bercampur menjadi satu. Sementara miliknya masih lengket di dalam lubang kenikmatan. Ya Nikmat. Sebab Kaniya tidak lagi mencengkran sperei dengan erat akibat sakit yang luar biasa ia rasakan tadi.


Namun, setelah ia merasa bak terkencing-kencing akibat ulah Abian, justru membuat suhu panas nan aneh tadi berangsur hilang. Mungkin Kaniya sudah mengalami kl!maksnya. Beberapa kali pasti, sebab bagiannya tidak hanya basah melainkan banjir. Tapi tidak dengan Abian. Benda miliknya masih menagih untuk di lepas, cairanya masih perlu di kocok paksa agar keluar. Membuat Kaniya panic dan sendirinya bergoyang tadi bukanlah akhir, justru awalan baginya merengkuh kenikmatan yang sesungguhnya.


“Ngghhh… Daddy !!! Tha’s feel so good.” Puji Kaniya yang bersimbah peluh dengan senyum lebar. Lupa akan sakit dan perih yang baru saja membuatnya mengeluarkan air mata. Berganti dengan rasa nikmat bertubi-tubi yang Abian persembahkan padanya.


“You are mine.” Kecup Abian pada kening Kaniya sebelum ambruk, sebab ia pun telah sampai pada finishnya.


Bersambung ….