
(Perusahaan Sriwijaya Company)
Sebelum jam kantor hari ini berakhir, semua laporan dari setiap divisi sudah terkumpul. Aku membandingkan nya dengan yang dibuat oleh Fadil, ada beberapa yang sama tapi ada juga yang berbeda.
“Kapten, apa maksud mu menghancurkan perusaahaan ini?”
“Ah, aku salah sebut, maksud ku hanya gedung ini”
“G..gedung ini? Kenapa? Padahal ini sudah lama sekali dan banyak kenangan berharga di dalam sini”
Aku sedikit tersenyum dan berusaha mengatakan kebenarannya,
“Belum lama ini aku bertemu dengan kakek tua itu di dalam mimpi”
Keduanya terkejut saat aku mulai bercerita, aku tidak tahu apakah ini adalah baik atau buruk untuk di ceritakan. Tapi lidah ku masih terlalu kaku untuk memberitahu semua nya pada mereka, aku takut ini akan menjadi boomerang di masa depan. Jika yang ada di depan sana berubah maka baik nya tidak ada korban.
“Kakek meminta tolong pada ku, dan tempatnya adalah si perusahaan ini. Makanya aku datang kemari setelah lama sekali, awalnya aku enggan tapi perasaan ku benar, kalian juga merasakan nya bukan, penindasan tidak langsung dari para atasan pada bawahan”
Keduanya menundukan kepala, dan Fadil menganggukan kepala sejenak.
“Kalau begitu aku mengerti”
“Ya, firasat kapten sangat membuat aku takjub, jadi kurasa itu adalah sebuah permintaan”
“Yap, dan aku juga ingin ini cepat selesai tanpa ada masalah, jadi aku akan langsung menghancurkan gedung ini bersama kakek”
...***...
Ruang Pimpinan Departemen Keuangan
Beberapa orang yang tidak suka dengan keputusan Ferdi mulai mengambil langkah, kesempatan ini menjadi sesuatu hal baik untuk mendapatkan perusahaan. Dimulai dari Rudolf yang akan menjadi pemilik selanjutnya diantara pemilihan orang-orang itu.
“Kita harus melakukan sesuatu, jika tidak kita akan diturunkan”
“Bocah itu, akan aku buat dia menangis di hadapan ku”
“Tidak, akan lebih baik jika kita langsung saja membunuh dia”
Senyum lebar dari orang bernama Qin membuat semua orang melihat kea rah dirinya, hal ini adalah perkataan yang ditunggu sejak awal. Lalu dengan cepat yang lain memberi komentar setuju untuk pendapatan Qin.
“Sebenarnya ini keuntungan juga saat Pak Ari dan Pak Fadil memberikan saham mereka pada orang itu. Jadi ketika dia mati kesempatan kita semakin besar”
“Ya, aku juga tidak masalah tentang itu”
“Benar, ini adalah salah nya sendiri…”
Senyuman jahat dari musuh di dalam organisasi sendiri, sebuah duri yang menyangkut di dalam makanan enak.
Membuat orang-orang percaya jika menapaki jalan nya adalah sesuatu yang benar, mereka mulai kampaye tentang prioritas perusahaan, di ikuti dengan rencana keji di belakang.
...***...
(Ruang Manager)
Aku memainkan FSP milik Ari, sepertinya hanya ada aku dan Fadil hari ini karena Ari memiliki urusan mendadak di Amerika.
“Apakah ini sudah berjalan dengan yang kau inginkan?”
Fadil membalas dengan pertanyaan yang ingin dia ketahui, mencoba permainan baru dengan menggunakan pekerjaan orang lain sebagai papan dan taruhan. Aku tidak mencoba menjelaskan, hanya jawaban singkat saja dengan anggukan kepala.
“Ya”
Kedua sekertaris datang dari pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu, kedua orang ini sangat berbeda dari kemarin. Apakah mereka sudah memutuskan untuk masuk ke pihak mana?
“Pak, semua sudah berkumpul di ruang rapat”
“Kembali”
Belum membuka mulut mereka tampak bingung dengan yang aku katakan, tapi aku yakin mereka akan mengerti.
Aku tidak menuntut hormat, hanya sebuah kesopanan jika masuk ke ruangan orang lain dengan memberi tanda lebih dulu.
“M..maaf pak?”
“Kembali dari masuk dan ketuk pintu lebih dulu”
Keduanya saling menatap, mereka juga sudah memikirkan jika salah dan tidak sopan pada orang lain.
“B..baik pak”
Mereka berdua mengulang dari awal, saat selesai mereka tampak canggung setelahnya. Yah, tidak masalah jika mereka berdua memahami apa itu sopan santun. Bahkan adikku pun sudah aku ajari sejak dia masih kecil dan mereka orang dewasa sedikit lupa akan kesopanan.
“Baiklah, dan saat pergi tolong tutup kembali pintu itu dengan baik”
Aku langsung berdiri dan mematikan FSP, membawa dokumen di tangan kanan dan di tangan kiri air mineral menuju ke ruang rapat di lantai tiga. Fadil mengikuti aku dari belakang, dan memainkan FSP yang aku tinggalkan.
Aku hanya memberikan senyuman kecil pada teman ku satu ini, di dalam kelompok dia adalah orang yang paling bekerja keras jika kami membutuhkan informasi. Penyihir dengan data komputer di dalam dirinya, dan memiliki kemampuan memanah yang tidak perlu di ragukan.
“Ada apa kapten?”
Fadil sepertinya sadar aku memperhatikan dia, atau mungkin sudah insting mereka.
“Hanya mengingat masa lalu”
“Ha? Masa lalu, yang mana? Apa itu berkaitan dengan ku?”
“Begitulah”
“Hei, bisa kau ceritakan itu, bagian mana? Hei, kapten”
Ia menjadi sedikit menjijikan jika kau bercerita tentang masa lalu, namun dia tidak berubah sama sekali sejak kami bertemu. Seorang yang cerdas dan keras kepala, membuat ia ku pilih menjadi penerus jika aku mengalami sesuatu nanti.
Ari sebenarnya kuat, namun aku lebih mementingkan resiko dari pada memilih orang yang kuat tapi tidak dapat berpikir jernih pada pertempuran.
BERSAMBUNG....