LOVE AND REVENGE (SPIN OFF)

LOVE AND REVENGE (SPIN OFF)
ARC PERTEMPURAN ALIANSI BAB 6



(Rumah Ferdi, Minggu)


Hari minggu sebagai liburan dari segala pekerjaan, tapi tidak untukku. Kali ini adalah giliran untuk menjaga rumah pohon, namun sebelum itu aku pulang ke rumah untuk membantu usaha keripik dahulu.


Saat ingin pulang aku melihat Gina yang sudah bangun lebih awal, tidak biasanya ia bangun pagi sebelum aku yang gedor pintu kamar.


Wajahnya saat itu sangat buruk, murung dan tanpa semangat, berpikir ia masih marah padaku jadi aku tidak membahas lebih jauh.


“Lho del, kenapa ada disini?” tanyaku saat melihat Fadil berdiri di depan rumahku


“Aku menunggumu kak, kita kesana bersama saja”


“Baiklah, tapi apa kau bisa bantu disini juga? Cuma bungkusin keripiknya kok”


“Siap”


Fadil sendiri adalah orang jenius melebihi diriku, namun ia selalu mengikuti kata-kataku. Sama seperti Ari dan Sanjaya.


“Pagi bu”


“Lho Fadil, lama tidak bertemu ya. Bagaimana keadaan ibumu?”


“Mereka masih di luar negeri, mungkin tahun depan kami akan kembali ke Indonesia”


“Ehh masih di luar negeri ya, padahal ibu mau ngajak makan-makan kayak dulu”


Saat Fadil dan ibuku berbincang sambil bekerja, aku menganti pakaian dan sarapan dahulu.


“Tok..tok…tok”


“Permisi, apakah bos Ferdi ada?” teriak seseorang dari luar


Aku dan Fadil memeriksa keluar, disana aku melihat anak buah dari Geng Naga Merah,


“Mereka dari Geng Merah bukan?” tanya Fadil


“Ya, itu mereka. Ada apa kalian datang kemari?” tanyaku


“B..bos, maaf sebelumnya tapi…itu…Bang Lukman”


Suaranya sangat berat, aku tahu ia di kejar waktu untuk sampai kesini.


“Pak Lukman? Kenapa dia?”


“Bang Lukman meninggal”


“Innalilahi…”


“Kenapa dia meninggal?” tanyaku


“Dia…dia dibunuh…”


Setelah mendengar kata bunuh aku menghentikan orang itu bicara lebih jauh, aku tidak ingin semua orang mendengar.


Tapi ini adalah sebuah kesakitan yang mendalam bagiku, tanpa firasat hanya sebuah penglihatan yang sudah lama,


“Antarkan aku kesana”


Pagi harinya mayat Lukman di bawa kembali ke rumah, disana sudah berkumpul keluarga beserta anggota geng Naga Merah. Raut wajah sedih sekaligus duka mendalam tentu di rasakan.


“Ayahh” tangis istri Lukman terdengar hingga ke luar rumah


Lukman adalah orang yang baik dan jujur, meski penampilan seperti preman tapi sifatnya tidak buruk. Dia adalah orang yang di senangi, tentu aku juga tahu itu.


“Dia adalah orang baik, dia adalah ayah yang baik. Selalu bekerja keras dan berusaha”


Saat aku masuk ke dalam rumahnya, jenazah Lukman yang terbaring membuat aku mengenang masa lalu.


(FLASH BACK)


Fadil bertanya saat kami menuju rumah Lukman, kami menggunakan motor masing-masing untuk menghemat waktu.


“Iya pak, dia di bunuh tadi malam. Kami tidak tahu siapa yang membunuhnya tapi aku yakin ini pasti ulah aliansi anak-anak itu dan perusahaan Vortex”


“Perusahaan Vortex? Aliansi? Lagi”


Nama mereka sudah tidak asing di telinga, saat di perjalanan amarahku masih belum memuncak.


(FLASH BACK END)


“Dia ditusuk di perut sampai 3 kali, tidak ada yang tahu dia diserang siapa” ujar Rambut Merah


“Ayahhh” suara anak perempuannya bernama Cindi kini akhirnya mengeluarkan air mata


“Orang yang hidup akan mati, namun ada diantara mereka yang mati secara tidak benar. Sejak dulu aku sudah bilang bukan jika pekerjaan kalian ini sangat berbahaya”


“I..iya bos”


“Tapi kami ingin membalas dendam bos, Lukman…dia adalah keluarga kami juga”


“Bos izinkan kami menyerang, kami sudah lama bertahan, kami sudah mengikuti perintah bos tapi…”


“Maka berhentilah”


Saat kain penutup Lukman di buka oleh Cindi, wajah pucat dari orang yang sudah mati membuat amarahku memuncak.


Bukan dendam, aku sendiri berusaha tidak peduli tapi…aku merasa ini adalah kesalahanku.


“Bos apakah anda benar-benar…”


“Aku tidak peduli lagi, terserah kalian ingin bagaimana”


Genggaman tangan ku sangat kuat menahan emosi meluap, apa ini adalah karena perintah jangan menyerang dariku. Aku tidak percaya akan ada korban lagi ketika aku melindungi rumahku.


“Hahh”


Aku meninggalkan tempat duka itu dan kembali pulang, di saat langkah kaki pertama aku berjalan sebuah ingatan dari impian Lukman terbesit.


“Aku ingin anak-anak ku menjadi orang yang hebat” ujar Lukman terakhir kali aku bertemu dengannya


“Vortex? Aliansi?”


Tekanan dari emosi ku keluar, tanpa tidak sadar aku mengeluarkan tekanan amarah dan balas dendam di sekitar. Fadil menyadari itu,


“Wushh” angin dingin tiba-tiba di rasakan


Fadil terdiam sejenak saat merasakan hawa membunuh yang sangat kuat itu, saat Ferdi sudah berjalan cukup jauh ia tersenyum tipis.


“Apa kalian mengira Ferdi itu tidak peduli pada kalian?” tanya Fadil pada anggota Naga Merah


“Tidak pak, kami tahu dia hanya ingin melindungi kami”


“Kalian benar, tapi apa kalian tahu siapa orang yang paling marah atas kejadian ini?”


“Apakah bos merasa begitu? Ia bahkan tidak terlihat seperti itu”


“Ada hal tidak pernah dia tunjukan pada orang lain. Apa kalian tahu itu?”


“Apa itu pak?”


“Sedih. Dia selalu menangis untuk orang lain, tapi dia…orang itu tidak pernah menangis di depan orang lain"


Geng Naga Merah yang bingung dengan kata-kata Fadil hanya membuang suara, tapi mereka tidak tahu jika ucapan Fadil itu adalah benar.


Seseorang yang berusaha menjaga wilayahnya yang damai namun diganggu oleh serigala pembunuh, ia akan berubah menjadi pelindung yang paling menakutkan.


PERUSAHAAN VORTEX....SELESAI