LOVE AND REVENGE (SPIN OFF)

LOVE AND REVENGE (SPIN OFF)
ARC ALIANSI SEKOLAH BAB 7



(PASAR TEGAL, SORE HARI)


Dio membuka jas sekolahnya, kini ia mulai serius menghadapi Joko. Ia pun teringat saat menghadapi Kevin, dengan kekuatan yang sama dan tatapan tajam.


Namun Joko diliputi amarah, membuat tekanan yang berbeda dari pertarungan dengan Kevin dahulu.


“Kalian berdua hadapi aku, jangan libatkan Bagas. Cukup aku saja yang menghabisi kalian” tegas Joko


“Hahaha, boleh juga kau. Tapi…”


Dio memulai serangan dengan maju ke arah Joko, tendangan dilancarkan oleh Dio.


“Tendangan?”


Joko bertahan, namun serangan Dio tidak hanya berhenti pada satu kali, ia meneruskan nya hingga ke kepala Joko.


Diakhiri dengan tendangan belakang, mengenai wajah Joko.


“Pak, pak, pak, buk”


Dio mengambil jarak dari Joko, dan memasang kuda-kuda kembali,


“Asal kau tahu Joko, bukan cuma kau yang bisa seimbang berkelahi dengan Kevin. Aku juga bisa lho” ujar Dio membuat Joko terkejut


Joko menurunkan tangannya, “Begitukah? Aku tidak peduli dengan kalian, tapi sekarang kau benar-benar membuat aku marah”


Dio kembali maju dan bersiap memukul Joko tapi kedahuluan oleh Joko,


“Seett” pukulan Joko berhasil di hindari oleh Dio


“Hem, lambat sekali Joko”


Dio kembali menyerang Joko kali ini serangannya kena bertubi-tubi


“Buk..buk..buk..bak”


Di sisi lain Bagas berdiri melihat perkelahian Joko dan Dio, ia sangat terkejut ketika Joko sampai tersudutkan.


“Jangan alihkan padanganmu ke arah lain pengecut” teriak Iaz yang meyambar Bagas


Bagas berhasil lari dan bersiap,


“Sudah cukukp aku lari” batin Bagas


“Dasar pengecut, hanya bisa lari saja” ejek Iaz


Bagas mengangkat kedua tangan nya dan menatap tajam Iaz,


“Oh sepertinya kau mulai berani ya, baiklah ayo kita serius sekarang”


“Hahahaha ada apa Joko? Apa hanya ini kemampuanmu?”


Dio melancarkan puluhan pukulan ke wajah Joko, dengan wajah senang dan percaya diri.


Ketika ia mulai merasa tidak ada perlawanan dari Joko, ia mengendurkan serangannya.


Saat itulah ia sadar sebuah keanehan dari Joko,


“Sreett” baju sekolah Dio di genggam erat oleh Joko


“Apa?” Dio terkejut saat Joko masih bisa sadar


“Sudah selesai? Sekarang giliran ku” tegas Joko


Sambil mengenggam erat baju Dio membuat ia tidak bisa bergerak bebas, saat itulah serangan balasan Joko dimulai.


Pukulan dibalas dengan pukulan, tapi yang berbeda kekuatan dari pukulan mereka.


“Bak! Bak! Bak!” dengan cepat 3 kali pukulan mendarat di wajah Dio


“Akhh, apa..apaan?”


“Masih belum”


Pukulan yang membuat tangan terlatih Iaz sampai gemetaran, kini dirasakan oleh Dio secara langsung. Saat itu dia mengerti bagaimana perasaan Kevin saat melawan Joko.


“Berat sekali, pukulan apa ini?” pikir Dio


Dio merasa darah keluar di mulutnya, padangannya mulai kabur, tapi semangat tiba-tiba dari dalam diri muncul.


Ia tidak ingin kalah lagi,


“Buk…buk..bak…”


“Woi Dio apa yang kau lakukan?” teriak Iaz melihat Dio di pukuli oleh Joko


“Jangan alihkan padanganmu bodoh”


Bagas menendang Iaz sekuat tenaga namun masih bisa ditahan,


“Sialan kau ayam pengecut”


“Sat, sat, sat”


Serangan Iaz berhasil di hindari oleh Bagas, seperti biasa karena keahliannya adalah menghindari setiap serangan.


Pikiran Bagas saat itu sudah tenang, ia pun kembali mengingat semua latihannya di gym bersama Joko.


Melihat Joko berhasil menahan Dio, rasa percaya diri Bagas naik dan tekanan berkurang.


“Aku yang sekarang bukanlah diriku yang dulu. Aku harus…maju!” pikir bagas


Bagas mulai mengambil inisiatif serangan,


“Bahkan Ferdi dengan tubuh kecilnya mampu mengalahkan para Megas geng Expose, jadi aku juga pasti bisa”


“Hahhh”


Tendangan belakang dari Bagas berhasil dilakukan, latihan pencak silat dan gym tidak sia-sia.


Berhasil mengenai kepala belakang Iaz,


“Cih anak ini mulai kurang ajar”


Kedua musuh lama ini silih berganti melakukan serangan, namun Bagas sering menghindari serangan Iaz.


Hasil akhir dari pertarungan keduanya hanya melihat waktu, siapa yang kehabisan tenang duluan dia yang kalah.


Sama seperti perkelahian Joko dan Dio,


“Hahaha, boleh juga kau Joko” Dio menarik kerah baju Joko


“Buk!” tak ingin kalah Dio juga melakukan hal yang sama dengan Joko


Mengenggam erat baju dan menyerang dengan pukulan berkali-kali,


“Bak!, Bak!, Buk!, Buk!”


Suara pukulan terdengar jelas, nyaring, kuat dank eras. Bahkan perkelahian antara Bagas dan Iaz berhenti setelah melihat perkelahian kedua preman sekolah itu.


Seperti ibu-ibu yang memukul kasur yang dijemur menggunakan alat pemukul, suara itu sama seperti saat ini. Dengan kekuatan yang sama saat ia memukul kasur dengan tenaga penuhnya.


Diam, suara yang terdengar hanya rentetan pukulan Joko dan Dio, perkelahian yang jika dilihat akan berhenti setelah salah satu orang kehabisan tenaga.


Namun tidak seperti yang dipikirkan oleh Dio saat menerima pukulan Joko,


“Aku pasti kalah, padangan ku kabur. Orang ini sama seperti Kevin, tidak merasakan serangan ku”


Hasil akhir sebentar lagi diketahui, namun semua itu hilang ketika kedatangan Lukman dan Raka dari Naga Merah.


Semua perkelahian itu berhenti, Dio terjatuh ketanah melepas kerah baju Joko.


“Woi, berhenti!” teriak Lukman pada keempat anak sekolah itu


ALIANSI HOOLIGAN....BERSAMBUNG