
(MARKAS ALIANSI HOOLIGAN)
Semua orang yang melihat pertarungan antar anak SMA itu hanya diam, bukan tidak ingin melerai tapi tahu jika Ferdi masih ada disana.
Geng Naga Merah yang tahu jika ikut campur akan menjadi masalah sementara Fadil yang menganggap menarik hanya menonton.
“Wah mereka hebat juga” ujar Fadil
“Iya pak, tapi apa tidak masalah membiarkan bos Ferdi ikut? Aku takut anak-anak yang lain akan terluka parah”
“Kau tenang saja, Ferdi yang sekarang sedang menahan diri. Lebih baik kalian mengurus sisa-sisa musuh kalian” jelas Fadil
“Baik pak”
Pertarungan antara Bagas dan Rendi telah selesai, kini pandangan mereka berubah ke arah Ferdi dan Bagas.
“Baik sekarang kita lihat, berapa detik ia ingin menyelesaikannya”
“Aku tidak mengerti kenapa kau sangat ditakuti oleh Rendi dan yang lain, tapi yang aku lihat kau lebih lemah dari ku”
Ferdi yang melihat Bagas mengarah padanya melepas jaketnya kembali,
“Entah apa alasan kalian melakukan ini sungguh bodoh”
“Baiklah kalau begitu, ayo kita mulai saja Ferdi”
Bagas menyerang Ferdi dengan berlari dari jarak yang cukup dekat, sama saat melawan Rendi ia kembali mencari celah dan membuat rencana.
Matanya yang tidak fokus terlihat jelas bagi Ferdi, untuk orang yang terlalu banyak mengalihkan perhatian akan masuk ke dalam lubang yang tidak ia ketahui.
Saat Bagas hampir dekat dengan Ferdi, jaket di genggaman di lempar. Bagi Bagas yang sedang fokus melihat Ferdi tentau terkejut dan tidak dapat menghindar.
Wajah Bagas tertutup oleh jaket Ferdi dan terjatuh, Ferdi sendiri sudah menduga jika selanjutnya adalah sebuah kesalahan Bagas.
“Umm” Ferdi membekap Bagas sebelum ia lepas
Saat pertarungan melawan Kevin dia tahu untuk menahan diri, di hentakannya kepala Bagas ke tanah dengan kuat.
Hanya beberapa kali tanpa emosi, sudah membuat Bagas pingsan. Mudah dan cepat, hanya 1 menit Ferdi selesai.
“Haahh, padahal aku sudah menahan diri” ujar Ferdi
Orang-orang yang melihat Ferdi menghentakan kepala Bagas terdiam karena mengingat masa lalu, namun di hati mereka juga berharap Ferdi menang dan mengganas.
“Bagass!!!” teriakan Joko setelah menang melawan Revan
Joko berlari kearah Bagas dan berusaha membantu menyadarkan, namun tetap saja tidak berpengaruh.
Kini kemarahan Joko memuncak, sebuah luapan emosi untuk membalas perbuatan Ferdi dilakukan.
“Kau, beraninya menyakiti Bagas”
“Apa kau juga tidak sadar perbuatanmu pada kakak kelas itu hah?”
“Diam! Kali ini kita lihat siapa yang terkuat, aku atau kau Ferdi”
Banyak orang di sekolah yang ingin tahu, jika Ferdi dan Joko bertarung siapa yang akan menang?
Jika dilihat dari luar tentu kemenangan Joko sudah di pastikan, namun rumor banyak mengatakan tentang kehebatan Ferdi.
Hal ini membuat pemikiran orang menjadi ragu dan bingung siapa yang terkuat untuk menyandang gelar preman di sekolah.
Jaket yang masih tertinggal di tanah membuat Ferdi mencari cara lain untuk menghadapi Joko, ikat pinggang di celana ia buka.
“Haahhh” Joko maju dengan cepat
Joko sendiri adalah tipe orang yang selalu memukul tanpa henti dan tanpa pikir panjang, ia tidak sadar dengan yang dilakukan oleh Ferdi.
Ia hanya tahu itu adalah kesempatan untuk menyerang Ferdi,
“Rasakan ini!”
Pukulan kuat sekali lagi di hindari namun kali ini Ferdi menyerang balas menggunakan kepala ikat pinggangnya.
Ferdi mengayunkan kepala ikat pinggang yang terbuat dari besi ke arah dagu Joko,
“Krieng” bunyi ikat pinggang saat mengenai dagu Joko
Kemampuan mengarahkan Ferdi sangat baik, ikat pinggang itu menjadi sebuah senjata yang sangat berbahaya di tangannya.
“Plak…plak..plak” suara ikat pinggang yang mengenai Joko
Pedas dan kuat membuat Joko kesakitan, namun ia tidak menyerah dengan cepat menyerang balas.
Ferdi sendiri melihat kaki Joko terlalu jauh dan memanfaatkan nya,
“Tak” tendangan ke kaki Joko
Joko kembali terjatuh, dan kesempatan Ferdi datang. Di lilitkannya ikat pinggang itu ke leher Joko saat ia ingin berdiri.
Walau agak keras tapi Ferdi terus menarik ikat pinggang sampai mencekik kuat Joko.
“Akkkhhh” suara kesakitan Joko
“Hahhhhh!!!!” teriakan Ferdi menguncang suasana
Semua orang yang melihat takut dan merinding, tidak berani mendekat.
“Akh”
Joko pingsan dan Ferdi segera mengendurkan ikat pinggangnya,
“Hah, merepotkan sekali” Ferdi berjalan meninggalkan Joko
Pertarungan antara kelima preman sekolah itu selesai dengan Ferdi yang berdiri di akhir, tanpa luka dan keringat sedikitpun.
Membuat anak-anak expose dan preman sekolah lain terkejut, tidak menyangka ia menang dengan mudah.
Geng Naga Merah bertepuk tangan sekecil mungkin untuk kemenangan Ferdi,
“Kau hebat kapten!” ucap selamat dari Fadil
“Benarkah. Ayo kita pulang, Gina” ajak Ferdi pada Fadil dan Gina
“I..ya kak” Gina berlari menghampiri Ferdi
“Oh benar juga…” sebuah kata-kata dari Ferdi dengan volume yang keras
Ferdi membalikkan pada semua orang yang menatapnya,
“Jangan sampai kejadian malam ini kalian beritahu pada orang lain. Jika tidak! Kalian tahu akibatnya bukan” ancam Ferdi dengan nada dingin
“B..baik bos” jawab semua serentak dengan ketakutan
Malam panjang itu berakhir, kemenangan oleh Ferdi dan Naga Merah membuat semua kembali aman.
Namun berita menyebar dengan cepat, sebuah dampak besar dari pertempuran melawan Aliansi Hooligan membuat julukan tambahan untuk Ferdi menjadi bos sekolah, sedangkan untuk Geng Naga Merah mereka berhasil memperluas wilayah dan membuat kepercayaan pedangan semakin meningkat.
PERTEMPURAN ALIANSI....SELESAI