
(Fin VS Revan dan Rendi)
“Syung…syung…syung” suara putaran gir di udara
Fin sendiri mengeluarkan dua gir lain yang di pakai pada tangan dan dadanya.
Rendi dan Revan menghadapi si Roda Gila bersama masih takut untuk mendekat,
“Woi kau maju duluan sana” suruh Rendi
“Hah apa maksudmu?”
“Kau memegang kayu jadi bisa lah lawan dia”
“Tidak begitu juga bodoh, lebih baik aku lari daripada menyerang langsung”
“Heh, apa kau takut? Kakak kelas yang lemah”
“Sayangnya kau benar aku memang lemah, tapi apa kau berani menghentikan dia? Jika tidak berani berarti kau lebih lemah dariku”
“Apa katamu? Mau ribut hah” sentak Rendi
“Hei kenapa kalian malah bertengkat sendiri? Ayo cepat lawan aku!” teriak Fin yang sudah tidak sabar
“Cih akan aku urus kau nanti, lawan mu masih aku dasar bajinga*” teriak Rendi
“Hahaha, jika ingin melawanku berdua juga boleh”
“Jangan remehkan aku! Haaaa” Rendi maju tanpa takut
“Hahaha aku sangat suka dengan orang yang berani mati seperti mu!”
“Syung…syat”
Rendi berhasil menghindari putaran gir Fin, namun Fin menggerakan tangan yang ada gir untuk menghajar Rendi.
“Tak!!!” suara besi gir yang ditahan oleh Rendi
“Aww!”
“Hahaha, sakit bukan, masih belum selesai!”
Saat Fin ingin memukul kembali Rendi dari belakang Revan mengayunkan kayu nya dengan cepat ke kepala Fin.
“Buak!!!!”
“Akhhh”
Suara keras dari pukulan kayu terdengar menyakitkan, tapi bagi Rendi dan Revan itu adalah sebuah bunyi kemenangan.
“Cih akan aku urus kau nanti, lawan mu masih aku dasar bajinga*… Akan aku buat kesempatan, kau serang saat dia tidak sadar” bisik Rendi sebelum ia menyerang
Revan mengerti rencana sederhana itu, tapi ia masih harus fokus untuk melihat kesempatan.
Begitulah kedua musuh di masa lalu bekerja sama melawan si Roda Gila, Fin.
...***...
(Antonio VS Rambut Merah dan Akai)
“Pak, buk, buk, pak”
Serangan-serangan mematikan terdengar dari tiga orang yang beradu, meski lawan mereka hanya satu kekuatannya melebihi mereka.
“Gawat kalau begini kita akan kalah”
Wajah Akai sudah babak belur karena Antonio, sementara Rambut Merah sudah kehabisan tenaga.
Radar pengukur dari keduanya sudah menurun, kekalahan Naga Merah akan terjadi jika kedua orang itu tumbang.
“Kak Merah…” Akai menatap Merah
Dengan siap Akai menyiapkan kuda-kuda untuk tinju, maju selangkah demi selangkah mendekat ke Antonio.
“Kau pikir bisa melakukan itu dalam waktu yang singkat?”
Antonio dengan gerakan layak seorang petinju pro, melakukan gerakan tinju lalu melakukan tinjuan keras ke perut dan wajah Akai.
“Buk…buk…buk”
“Akh..aw, sialan kau!” Akai siap memukul
“Lambat”
“Buak!” wajah yang tidak di lindungi itu menjadi titik balik bagi Antonio
Serangan tak berhenti dilakukan, meski Merah datang membantu pukulan yang cepat dan kuat sudah berada di Akai.
“Akai!” teriak Merah
“Brakk!” Akai tumbang
“Masih mau lagi?”
Akai yang terjatuh memeluk Antonio,
“Bang sekarang!”
“Sialan kalian!” tegas Antonio
Kesempatan datang tidak di buang, Merah dengan cepat mengepalkan kedua tangan dan melancarkan pukulan.
Bertubi-tubi tidak berhenti, agar Antonio tidak memiliki kesempatan untuk bernafas.
Memang benar kemampuan individu seseorang sangat penting di sebuah pertarungan, namun ingin sekuat apapun orang.
Pertarungan jalanan bukan pertarungan resmi, semua hal bisa terjadi karena tidak ada aturan di dalamnya.
Dua melawan satu, satu lawan satu, rencana licik atau kotor semua dilakukan untuk menang.
“Ini untuk anak buahku yang kalian bunuh!” teriak Merah dengan pukulan kuat
“Buak!”
Serangan terakhir dari Merah membuat Antonio kehilangan kesadaran, mau bagaimana pun pergerakannya di tahan oleh Akai dan serangan Merah yang cukup kuat.
“Hah…hah, akhirnya selesai juga”
“Bang ayo kita bunuh dia” saran Akai
“Tidak! Jika kita membunuh dia, itu sama saja kita seperti mereka. Selain itu bang Putih juga tidak akan memaafkan kita jika sampai membunuh orang”
“Benar…”
BERSAMBUNG....