
(PASAR TEGAL, SORE HARI)
“Woi, berhenti!” teriak Lukman pada keempat anak sekolah itu
“Kenapa kalian berkelahi hah?” Raka berlari menghampiri
“Gawat, ternyata geng Naga Merah masih ada disini” ujar Iaz
Mengetahui Geng Naga Merah datang, Iaz pun memilih mundur.
“Woi Dio ayo kita mundur” Iaz membopong
Dio sambil melihat Joko yang wajahnya masih terlihat garang
“Kali ini kami kalah, tapi selanjutnya akan berbeda” ancam Iaz
Kedua orang itu pergi dari pasar tergesa-gesa, hanya membawa motor Iaz untuk kembali ke Markas Hooligan.
Sementara Joko dan Bagas ditahan oleh Lukman dan Raka, meski mereka tahu tidak bersalah penjelasan dibutuhkan agar mereka dianggap sebagai korban.
...***...
Setelah penjelasan Bagas dan Joko dirawat di pos jaga Naga Merah,
“Jadi mereka dari Hooligan ya, tapi kalian tidak apa-apa kan?” tanya Lukman
“Kami tidak apa-apa kok Bang, terima kasih ya sudah membantu kami” ucap Bagas
Raka sadar bahwa baju sekolah yang dipakai oleh kedua siswa itu sama seperti Ferdi, mereka satu sekolah sudah menjadi alasan untuk melindungi mereka dahulu.
Tapi masalah utama dari hari ini masih belum selesai, dan takdir menghubungkan kedua kelompok ini. Naga Merah dan Joko, saling bertukar informasi.
“Sepertinya mereka sudah mulai bergerak”
“Memangnya kenapa bang?” tanya Bagas
“Aliansi Hooligan atau lebih tepatnya Perusahaan Vortex yang berada di belakangnya ingin mengambil alih pasar”
“Perusahaan Vortex? Apa itu?”
“Aku pikir kalian sudah tahu saat berurusan dengan Hooligan”
“Tidak, kami hanya bermusuhan saja sejak dulu. Dan mereka di bentuk baru-baru ini untuk menguasai wilayah sekolah di sekitar sini”
“Kalau begitu sama seperti Vortex, mereka adalah dalang di balik Aliansi Hooligan. Mereka mendanai anak-anak sekolah untuk membuat kekacauan di sekitar sini. Lalu sedikit demi sedikit mereka mengambil hati masyarakat” jelas Raka
“Tidak mungkin, ternyata ini lebih rumit dari yang aku duga”
“Krek” suara kaleng yang diremukkan
Bagas dan Raka menoleh kearah Joko yang terlihat marah,
“Tapi jok, kita kalah jumlah. Kau sendiri lihat bukan, kekuatan mereka”
“Kalau mereka di diamkan semua akan kacau. Aku sendiri ingin menyelesaikan masalah ini cepat-cepat, dan kau tidak perlu ikut Bagas”
Melihat keadaan anak-anak SMA itu sedang tersudut, Raka memberikan saran dan ide,
“Jika kalian memang kalah jumlah, kumpulkan orang-orang dari kalian, yang tidak suka dengan Aliansi Hooligan”
“Benar juga”
“Kalau kalian tidak keberatan kami juga akan ikut membantu mengirimkan tenaga” senyum Raka
“Iya kan bang? Sudah lama juga kita menahan diri dari Vortex”
“Tentu, tapi aku akan tanya bang Merah dulu”
“Wah terima kasih bang. Joko kamu juga…”
“Terima kasih bang”
“Santai, tapi sebelum itu apa kalian kenal dengan Ferdi?”
“Eh, iya. Kami kenal, dia juga bisa berkelahi sih. Tapi sayang nya dia tidak suka mencari masalah”
“Benarkah?”
Raka sadar jika Ferdi tidak ingin dilibatkan dalam masalah ini, seperti biasa menjadi orang biasa tanpa terlibat masalah.
“Yah tidak apa-apa. Jadi kapan kita menyerang mereka?” tanya Raka
(Di tempat Lain)
"Gina kau mau kemana?" tanya Rahma pada Gina sepulang sekolah
"Aku mau main sama Nindi dan teman-temannya. Kalian duluan saja"
Rahma mulai terlihat khawatir dengan Gina, berteman dengan perempuan nakal seperti rumor.
"Gin, apa kak Ferdi tahu kau keluar sama mereka?"
"Kenapa orang itu harus tahu!" tegas Gina
"Aku...kami..."
"Hei Gina ayo cepat, cowok-cowok di sekolah seberang sudah menunggu lho" teriak Nindi
"Baiklah aku datang!. Kalian, jangan pernah mengurus hidupku lagi" ancam Gina pada teman baik nya
ALIANSI HOOLIGAN....BERSAMBUNG