
(ATAP MARKAS ALIANSI HOOLIGAN)
Pukulan ketiga di wajah Ferdi hingga membuatnya tersungkur ke lantai,
“Hei bocah, ada apa denganmu hah, kami disini bicara”
“Tiga…”
“Hah? Apa katamu?”
“Bisik-bisik apa kau?”
“Sudah tiga kali aku menahan, sekarang giliran kalian”
“Hah, ini bocah sudah gila ya?”
“Hahaha” tawa semua orang
Aku bangun dan mengeluarkan pena di kantong baju,
“Padahal aku tidak ingin membuat masalah, tapi kalian yang memulainya”
“Otak anak ini sudah tidak ada rupanya”
Pukulan Dio yang ke empat kembali melayang ke arah ku, tapi dengan mudah ku hindari.
Wajahnya yang dekat setelah memukul, segera ku colok kedua matanya menggunakan jari telunjuk dan jari tengah.
“Clokk”
“Aaakkkkkhhhhh!!!!!! Sakitttt, ahhhhhhh” teriak Dio sambil terduduk
Tiga orang lain yang melihat itu sangat terkejut, namun aku tidak ingin berlama-lama. Ku pegang kepalanya yang kesakitan itu,
“Sialan kau boc…”
“Buak! Satu”
“Buak! Dua”
“Buak! Tiga”
Serangan dari lutut kaki ku ke wajah Dio, keras dan kuat membuat darah keluar dari hidungnya. Kulempar dia ke lantai dengan begitu ia tidak sadarkan diri.
Dari sisi lain seseorang seperti pengawal itu menyerang ku, namun dengan cepat aku hindari. Mengambil jarak aman, dan menyerang balik.
Berpikir sambil bertarung adalah cara baru ku, jaket yang aku pakai, ku lepas dan ku lempar kearah Pengawal.
“Geh, apa ini?”
Padangan depan orang itu tertutup, disitulah kesempatan untuk menyerang. Pena yang aku pegang, ke letakan kembali dan menggantinya dengan tendangan ke arah testis.
“Puk!”
“Akh!”
Suara kesakitan yang sangat pasti di rasakan, jaket itu menempel di tubuhnya, dan dengan cepat ku tendang kepalanya.
Pengawal itu jatuh namun tidak pingsan, ku tindih badannya dan mengeluarkan pena di dalam kantong.
“Cratt!”
Ku tusuk ujung pena yang tajam ke tangan pengawal itu, kanan dan kiri membuat ia kesakitan.
“Cratt!”
“Akhhh, tidak…sakit…” teriak pengawal itu kesakitan sambil berguling-guling di lantai
Dasi yang ku pakai ku buka, dan lilitkan ke leher pengawal itu, orang yang berguling kesakitan itu akhirnya diam.
“Khehkkk”
Ku cekik dia lebih kuat dan kuat menggunakan dasi, sedikit demi sedikit gerakan tubuhnya berhenti di tandai dengan wajahnya yang pucat.
Tentu aku tidak sampai membunuhnya hanya membuat ia tidak sadar saja.
“Bocah!!” teriak Kevin yang langsung menyerang ke arah ku
“Sat…sat…sat…sat” semua serangan Kevin ku hindari
Jaket yang terjatuh aku ambil dan melemparkan kembali pada Kevin, rencana yang sama namun dengan orang yang berbeda.
Kevin yang tahu trik ku melindungi bagian bawah dan menundukan kepalanya untuk menghindari jaket yang terbang.
Tentu itu adalah jalan keluar yang bagus tapi aku sudah tahu jika dia akan melakukannya. Di depan ku lancarkan pukulan, dan tepat saja mengenai wajahnya.
Ku bekap wajahnya menggunakan jaket, kaki nya ku tendang agar terjatuh ke lantai agar ia tidak banyak bergerak.
“Gina, tutup matamu” pintaku
“Brukk”
“Akh..em..em..em” Kevin yang berusaha memberontak
Ku hentakan kepala Kevin ke lantai, berkali-kali sampai suara nya terdengar seperti alunan lagu.
“Bukk!…bukk!…bukk!…bukk!…bukk!” kepala Kevin sudah seperti bola basket
“Sudah kubilang bukan, bukk!...kalian yang membuat masalah, bukk!...kalian memukul adik keponakanku, bukk! Beraninya kalian menyakiti keluargaku, Bukk!"
Setelah cukup lama aku melampiaskan emosi, darah keluar dari jaket ku.
Ku lepaskan saja Kevin dan membuka dekapannya, orang yang masih ada disana sangat terkejut melihat wajah Kevin yang hancur, berdarah-darah.
Tatapan ku seolah menyuruh mereka diam jika tidak ingin seperti mereka.
“Kau…apa kau juga mau melawanku?” tanya pada orang yang melihat pertama kali
“T..tidak!, aku tidak berani! Waahhh tolong!!!Tolong!!!” teriak orang itu sambil berlari meninggalkan kami
PERTEMPURAN ALIANSI....BERSAMBUNG