LOVE AND REVENGE (SPIN OFF)

LOVE AND REVENGE (SPIN OFF)
ARC PREMAN PASAR BAB 4



(Markas Naga Merah)


Malam biasa di hari Sabtu, 5 inti sedang melakukan rapat, 10 orang menjaga markas bersiap jika ada panggilan tugas juga, lalu yang lain berada di pos masing-masing mencari uang lembur.


Raka dan Lukman berjaga di pintu depan sementara yang lain menonton TV dan bersantai bermain kartu,


“Ehhh jadi si dia itu adalah pemimpin utama kita?” tanya Raka


“Aku juga tidak tahu, tapi kita di suruh menjaga jarak darinya”


“Aku benar-benar ingin melihat wajah dia. Benar-benar misterius”


Suara motor terdengar dari depan, Raka dan Lukman saling berhadapan melihat siapa yang datang. Orang dengan motor Honda, seorang diri datang ke markas Naga Merah.


“Coba kau cek Raka”


“Siap bang”


Orang itu membuka helm nya, Raka pun merubah sifatnya menjadi garang untuk menakuti orang itu. Ferdi tidak menanggapi masih sibuk meletakan helm dan jaket.


“Oh maaf, apakah kau anggota disini?”


“Sialan kau bocah, dari tadi kau tidak memperhatikan hah?”


“Maaf soal itu, tapi aku tidak punya waktu. Apa si rambut merah ada disini? Atau pak tua Naga Merah ada disini? Suruh mereka keluar” ujarku dengan nada dingin


“Kau pikir siapa kau ini bocah? Berani-beraninya mengatakan hal itu, apa kau menantang Naga Merah hah?”


Lukman menyusul Raka karena suara keras terdengar, ia sangat kaget saat melihat Raka bersama Ferdi,


“D…dia, dia kemari? Raka!”


“Oh bang Lukman, karena bang Lukman ada disini berarti aku boleh memukul orang ini kan. Dia menjelek-jelekan Ketua Naga dan Bang Merah”


“Diam Raka! Jangan bicara lagi, t…tolong tunggu sebentar” Lukman menarik Raka masuk ke dalam


“Bang kenapa sih? Kok malah ketakutan gitu?”


“I…itu dia, orang itu dia!”


“Dia? Dia siapa sih?”


Lukman masuk kedalam dan dengan keras memanggil 5 inti, tentu pandagan semua orang tertuju padanya.


“Bang…bang merah, dia kesini!” teriak Lukman


“Woi Lukman kenapa teriak-teriak sih?”


“Di..dia datang kesini?”


“Dia? Dia siapa? Hantu?”


Merah dan inti lain keluar dengan cepat karena teriakan Lukman, namun mereka sangat marah karena hal itu tidak sopan.


“Ada apa kau ini? Teriak-teriak malam hari”


“Kamu mau aku bunuh hah?” Akai mengangkat kerah baju Lukman


“T..tidak bang, saya cuma beri tahu. D…dia datang, dia ada di depan”


“Dia?, dia siapa hah?”


“Jangan-jangan…” Putri dengan cepat sadar


“Dia, Si Putih?”


“Merah, lebih baik kau hampiri beliau. Kita akan bersiap, apakah benar itu benar dia”


“Baiklah”


Merah dan Lukman keluar untuk menemui Ferdi, jantung mereka berdegub kencang dan tengan mereka gemetaran.


Anggota lain bersiap dan berbaris untuk menerima kedatangan, meski dari mereka ada yang tidak paham apa yang terjadi.


Namun ketika ketua mereka begitu serius bahkan ketakutan, tentu anak buahnya mengikuti arus.


“Bang sebenarnya apa yang terjadi sih?”


“Tidak tahu”


(Di luar markas)


“Hoamm” aku menguap karena mengantuk


Menunggu mereka sangat lama, bahkan aku belum melaksanakan shalat magrib. Ingin aku cepat selesaikan lalu pulang, tapi mungkin waktu akan habis.


Akhirnya orang itu datang, berdua bersama orang yang masuk tadi, dan satu lagi adalah anak Naga Merah.


“B..bang, eh, Bos silakan masuk dulu”


Mereka sudah tahu siapa aku, karena dulu membuka topeng. Jika saja topeng itu ada saluran pernafasan lebih baik lagi, namun dari pagi hingga malam menghadapi para preman kurasa itu tidak bisa dihindari.


“Baiklah”


Kami bertiga masuk kedalam, di dalam orang-orang berdiri menunggu kedatanganku. Seperti seorang pemimpin yang di tunggu oleh pengawal, aku tahu harus bersikap bagaimana.


Saat aku berjalan, beberapa orang tidak berani menatapku bahkan tangan mereka gemetaran. Namun yang lain menatap aku seakan bertanya, siapa dia.


“Si…silakan duduk bos” si rambut merah mempersilakan


“Hei kalian, kenapa tidak sopan begitu?”


“B..bocah itu bos besar?”


“Kalian! Jika bicara terus akan kami keluarkan”


Mereka pun diam, aku duduk di kursi tepat berhadapan dengan barisan.


Menganggap aku datang untuk mengambil alih atau karena apa? Namun tujuan ku kemari adalah mencari dompet Gina dan temannya.


“Hahh” aku menghembuskan nafas


Semua diam, tidak bergerak, bagi mereka yang tahu tentu saja takut pada Ferdi,


“K..kalau begitu biar aku perkenalkan…beliau adalah…bos kita…dia…”


“Kalian semua bisa bersikap biasa saja, jangan takut aku kemari hanya ingin menanyakan sesuatu. Lalu jangan panggil aku beliau, panggil saja Ferdi, mengerti?”


“Eh?”


“J...jika boleh tahu Bos Ferdi ingin bertanya apa sampai-sampai datang kemari?”


“Hei bukankah aku sudah bilang panggil saja Ferdi”


“T..tapi, itu…”


“Hah, terserah. Aku akan bertanya satu kali dan jawaban kalian harus memuaskan, jika tidak kalian tahu akibatnya bukan?”


“Te..tentu”


“Hari ini adik keponakan ku kehilangan dompet setelah menonton bioskop di Oppi Mall, dia bilang dompetnya di copet. Jadi aku akan bertanya, apakah dari kalian ada yang mengambil dompet adik keponakan ku?”


“T..tidak mungkin bos, kami tidak mungkin mencuri”


“Kubilang jawaban kalian harus memuaskan aku, tapi tadi sangat tidak memuaskan”


“Maaf bos, saya bersumpah anggota kami tidak mungkin melakukan hal itu”


“Benarkah?” aku menatap anggota lain


“Kalian semua tidak mencuri dompet bukan?”


“T..tidak bos”


Ada yang menjawab, ada juga yang hanya menggelengkan kepala.


“Kami semua melaksanakan perintah bos dulu, kami mencari uang halal dan tidak menganggu masyarakat”


Mereka jujur, itulah yang aku lihat. Jadi pelakunya adalah orang lain, kurasa polisi akan menyelidiki kasus ini dengan cepat.


Aku bisa meminta Sanjaya untuk membantu, walau akan membutuhkan waktu lama.


“B..bos kalau tidak keberatan kami akan mencari pelakunya”


“Tidak perlu”


Mereka kembali diam, jujur saja aku tidak suka dengan geng preman seperti mereka. Meski aku tahu bahwa mereka sudah berubah,


“Kau bilang ingin mencari pelakunya bukan, namun seharusnya kau mencegah pencuri itu sebelum kejadian terjadi. Kudengar Oppi Mall juga merupakan wilayah geng Naga Merah lalu kenapa bisa ada tikus keluar masuk dengan mudah?”


“Ma...maaf bos, itu kesalahan kami, akan kami perbaiki”


“Hah, terserahlah” aku berdiri dan bersiap pulang


“B..bos ingin kemana?”


Ketika aku berdiri semua orang seperti bersiap untuk menyerang,


“Aku ingin pulang”


“Eh, t..tapi ayah sebentar lagi datang. Apa bos hanya ingin bertanya itu saja?”


“Tentu saja, memangnya apalagi”


“B..baik bos”


“Dengar, kedatangan aku kemari tidak boleh di ketahui siapa pun. Semua yang terjadi hari ini, rahasiakan. Jika aku dengar ada di luar sana, mulut kalian akan lepas berserta kepalanya”


Aku menuju keluar sambil merogoh kantong mencari kunci motor, namun sebelum keluar aku ingin berterima kasih.


“Oh ngomong-ngomong terima kasih ya karena kalian sudah selalu membantu ibu dan keluarga ku saat di pasar. Tapi lain kali aku akan membayar uang parkir”


Setelah aku keluar dengan kata terima kasih mereka tampak senang,


“Bruumm” suara motor pergi


Anggota Naga Merah mengantar kepulangan ku,


“Bang boleh aku tanya? Sebenarnya siapa dia tadi?” tanya Raka


“Kalian semua biar aku beritahu, namun kalian harus menjaga rahasia ini. Orang itu adalah Si Putih, pemimpin besar kita”


“Hah?! Si Putih!”


GENG NAGA MERAH....BERSAMBUNG