
Strata sosial selalu ada, bahkan di tempat kecil seperti kantor pun sudah tidak dipisahkan.
Jabatan tertinggi adalah yang memerintah dan mereka karyawan biasa hanya bisa melakukan semua perintah atasan mereka. Baik itu hal yang berhubungan dengan ketidakmampuan atau bukan pekerjaan di kantor. Selama kau memiliki jabatan tinggi kau adalah penguasa.
Aku tidak ingin membuat suatu tempat seperti itu, aku hanya ingin membuat tempat dimana mereka yang memiliki jabatan berbeda menjadi keluarga.
Karena itu aku mengirim dan membawa banyak orang di jalanan dan tidak memiliki pekerjaan ke perusahaan, namun mereka yang aku pilih punya bakat dan kemampuan luar biasa.
Perusahaan peninggalan milik kakek tua yang menganggap kami sebagai cucunya, dan entah kenapa dia datang ke dalam mimpi ku belakangan. Ini membuat firasat dan instingku bergerak, ada sesuatu yang terjadi di perusahaan itu.
“Apakah sudah tercemar?”
...***...
“Baiklah untuk anak-anak magang yang sudah diberikan formulir silakan ke unit diklat” ujar salah satu pembimbing perusahaan
“Baik pak…”
Kevin, Rey dan Oppo adalah teman sekelas di SMK yang melakukan kerja praktik di Sriwijaya Company.
“Yah, tapi beruntung saja ada ayah Oppo, jadi kita bisa masuk ke Sriwijaya Company”
“Ini masih belum pasti karena ada tes lainnya”
“Iya sih, kau benar. Tapi….”
Rey dan Oppo melihat sekeliling mereka, anak magang lain yang bertemu dengan orang dalam milik mereka.
“Maaf saja tapi ayahku Cuma pegawai biasa, jadi sedikit sulit untuk membantu lebih jauh”
“Tidak masalah yang terpenting kita usaha dulu saja”
“Tapi kau tahu, memang orang dalam itu hebat ya”
Seakan perkataan di dengar salah seorang anak magang dari sekolah lain datang menyapa,
“Halo kakak, kalian disini bertiga? Dari sekolah mana?”
Tidak ada curiga ketiga nya menjawab,
“Apa?! SMK K? Sekolah yang terkenal liar itu?”
“Hoo, ada apa ini?”
Seseorang datang dan tampaknya mahasiswa di perguruan tinggi,
“Kalian disini di undang oleh siapa?” tanya kakak itu
“Itu…ayahku”
“Oh, apa pekerjaannya?”
Rey yang sudah memanas tidak bisa menahan lagi,
“Memangnya apa urusan mu?” teriak Rey
“Wah sepertinya anak-anak desa ini kurang mengerti ya. Asal kau tahu ayah ku disini bekerja sebagai Pimpinan Divisi Informasi, jadi jangan macam-macam kau”
“Oh ya ampun kak, tenyata kakak anak Pak ***, perkenalkan aku adalah Ty dari sekolah Unggul Palembang. Ayahku bekerja di bagian keuangan disini”
“Benarkah? Senang bertemu dengan mu. Tapi, apakah aku tadi mendengar bahwa ada anak dari pegawai gudang yang ingin bekerja disini?”
Oppo menahan amarah, namun di ruangan itu semua orang memperhatikan dan memberikan sedikit tawa kecil.
Tentu bukan untuk menolong tapi itu adalah sebuah ejekan bagi Oppo dan temannya, tak peduli pria atau wanita.
“Ayahku bisa saja mengeluarkan ayahmu dari sini dengan mudah. Jadi jangan main-main”
“Kalau begitu sampai bertemu kembali, anak gudang”
Kedua orang itu pergi dengan nada merendahkan, bahkan itu juga berdampak pada semua orang di ruangan diklat. Bagi mereka sekarang tidak ada harapan karena ejekan sudah dimulai, ini karena perbedaan kasta dalam pekerjaan orang tua.
“Cih, jadi ini yang nama Nepotisme”
Sekarang Kevin dan kelompoknya sudah menjadi musuh dari semua orang, karena tingkat mereka lebih tinggi dibandingkan anak kampong.
BERSAMBUNG....