LOVE AND REVENGE (SPIN OFF)

LOVE AND REVENGE (SPIN OFF)
ARC ALIANSI SEKOLAH BAB 4



(SMA xx Palembang)


Bel pulang sudah berbunyi, aku tidak singgah ke UKS karena tugas Rumah Pohon hari ini.


Siswa yang tidak memiliki tugas atau organisasi pulang ke rumah, terlihat gerbang sekolah sesak oleh siswa yang keluar.


“Kapten!” teriak Ari yang sedang membeli cilok


Aku tidak akan terkejut dengan kedatangan Ari, kutunggu saja setelah dia selesai membeli.


“Oh ada Ferdi” suara keras Joko dari belakang mengejutkan aku


“Geh Ferdi” ketus Bagas


“Oh mau kemana kalian?” tanyaku


“Ah kami mau beli perlengkapan kerja kelompok”


“Pelajaran pak Riko?”


“Bukan, Bu Leni”


Ari yang telah selesai membeli cilok langsung mengajak ku pergi,


“Aku sudah selesai ayo pergi Kapten”


“Baiklah, kalau begitu kami juga pamit ya Joko, Bagas”


Di sisi lain Joko dan Bagas mencari perlengkapan kerja kelompok di Pasar Tegal sesuai permintaan teman kelompoknya.


Menaiki kuda besi beroda dua mereka menuju kesana tanpa tahu ada orang yang sedang melakukan sesuatu.


(Di samping jalan sekolah)


“Kak, itu orangnya, Ferdi”


Aryo dan anak buahnya sudah berada di SMA xx untuk menghajar Ferdi, dengan menggiring ia ke tempat sepi dan mengeroyoknya.


Tapi terdapat keberadaan satu orang yang tidak mereka ketahui, seorang yang kuat dan juga gila.


“Kapten” kode Ari pada Ferdi


“Lakukan saja” singkat Ferdi


Beberapa menit setelah mereka berdua menjauh dari sekolah, beberapa anak buah menghadang Ari dan Ferdi.


Sambil membawa kayu besar ditangan anak buah Aryo mendorong mereka ke gang sepi, saat itu tempatnya tidak ada orang memang sudah di persiapkan sejak awal.


“Wah jadi ini si Ferdi The Dragon. Kecil ya, aku kira orangnya besar dan berotot” ejek Aryo


“Hahaha” tawa semua anak buahnya


“Maaf saja ya, aku memang tidak ada masalah dengan mu tapi kau harus dibereskan sekarang. Toh sekarang aku juga lagi ingin memukul orang” Aryo mulai menyiapkan tinjunya


“Kak biar kami yang urus temannya”


“Bagus, tinju sampai bonyok, tapi jangan sampai mereka mati”


Ari yang sudah menahan kesabaran tidak diam lagi, bukan karena di ejek atau di hadang, ia tidak marah melainkan tidak sabar untuk memukul orang lain.


Ia adalah orang yang tidak sabaran ketika sudah ada mangsa di depan mata,


“Kapten boleh aku yang melakukannya?” tanya Ari dengan girang


Bagi orang lain yang menghadapi kejadian seperti ini adalah diam membeku karena kalah jumlah, takut dan tegang hanya bisa pasrah.


Tapi bagi Ari dan Ferdi tidak ada wajah tegang sama sekali karena telah terbiasa melihat pemandangan ini,


“Kenapa mereka tidak takut?” pikir Aryo


Melihat kedua target mereka sedang asik bicara tanpa menghiraukan keberadaan mereka, saat selesai teman Ferdi yang tinggi itu maju menghampiri.


Ari memasang kuda-kuda untuk tangan, melihat itu Aryo tersenyum dan tidak peduli dengan siapa yang pertama.


“Targetku adalah anak itu, tapi kalau kau yang mau maju ayo” tantang Aryo


Aryo pun memasang kuda-kuda juga,


“Kalian urus anak itu, biar aku yang mengurus si jangkung ini”


“Kalian masih terlalu cepat untuk berhadapan dengan Kapten”


Ari langsung maju dan mendaratkan pukulan keras ke wajah Aryo,


“Buak, Brakk” suara nya bahkan sampai terdengar seperti kelapa yang baru terjatuh dari pohon


Aryo terjatuh karena satu pukulan dari Ari, suasana pun jadi hening. Melihat pemimpin mereka jatuh dalam satu pukulan anak buahnya hanya diam membeku, rasa percaya diri sebelumnya hilang seketika.


“Hah?”


“Kalian juga majulah” ujar Ari yang membawa lagi kesadaran mereka


“Sialan kau”


10 orang maju bersamaan, ada yang menggunakan tangan kosong ada juga yang menggunakan kayu panjang sebagai senjata.


“Woi jangan terlalu keras loh mukulnya” peringat Ferdi pada Ari


“Bak, buk, buk” suara pukulan dari Ari yang mematikan


Serangan Ari sangat berbahaya, selain kuat ia mengincar bagian tubuh yang terbuka dan cukup untuk membuat lawannya jatuh seketika.


Kepala dan perut adalah area yang di incarnya dari anak-anak itu, bagi mereka yang tidak pernah berlatih seragan itu akan sangat kuat dan berkelanjutan.


“Brak, buak”


5 orang dari mereka sudah tumbang,


“Sialan” salah satu anak mengayunkan kayu panjang pada Ari


Refleks Ari langsung menghindar dan memukul kembali,


“Giliranku”


“Buak, buak, bak, buk”


“Akhh”


“Aduhh”


Dalam waktu satu menit anak-anak dari Aliansi Hooligan tidur di tanah, ada yang kesakitan, tapi kebanyakan tidak sadarkan diri.


ALIANSI HOOLIGAN.... BERSAMBUNG