LOVE AND REVENGE (SPIN OFF)

LOVE AND REVENGE (SPIN OFF)
ARC PREMAN PASAR BAB 6



(Markas Naga Merah)


Ketika cerita Naga selesai Dodo kembali ke markas dengan tatapan kebingungan.


“Kau! Kemari!” teriak Naga setelah tahu Dodo kembali


“Bang Naga kau datang”


“Diam! Aku mau tanya, apa di Oppi belakangan ini banyak kasus kecopetan?”


Dodo tersentak,


“Benar bang”


“Lalu kenapa kau diam saja hah?”


“M..maaf bang”


Dodo mulai terlihat ketakutan karena Naga Merah terlihat marah padanya,


“S..saya akan menemukan pencopet itu bang”


“Segera! Merah, kau dan anak buahmu yang lainnya juga bawa. Cari dompet itu sampai ketemu”


“Siap bos”


Dodo yang memiliki harga diri tinggi merasa telah dibuang, tidak tahu alasan langsung dimarahi.


Ia sendiri tidak sadar bahwa kesalahan besar dari nya adalah menutupi kasus pencopetan di wilayahnya.


Dengan bantuan Rambut Merah, Dodo merasa sudah tidak dipercaya lagi. Sampai suatu niat terpendam lama akhirnya mencapai puncak,


“Bang sebenarnya ada apa?” tanya Dodo pada Naga Merah


“Kau tidak tahu ya, Dia tadi datang kemari”


“Dia?, dia siapa bang?”


“Si Putih”


“Apa? Tidak mungkin, kenapa dia datang kemari?”


Semua orang tiba-tiba diam,


“Dompet adik keponakannya hilang di Oppi Mall setelah menonton bioskop. Dan itu karena ia kecopetan, seharusnya kau berjaga disana bukan”


“Benar bang, tapi pencopet itu selalu lolos”


“Terlalu banyak alasan, bukankah pekerjaanmu hanya duduk dan makan”


Semua orang tahu bahwa Dodo hanya bekerja duduk di sebuah pos bersama anak buahnya, tidak melakukan patrol atau pengamanan.


Hanya menerima uang parkir untuk jatah harian, meski begitu dengan percaya diri ia sangat suka memerintah dan selalu benar.


“Sekarang dompet, besok apa? Motor? Jika kejadian ini masih terjadi besok lihat saja!”


Naga Merah bangun dari kursi dan pulang ke rumah tanpa kata-kata lagi, dan anak buah nya pun diam ketika bos mereka pergi.


Setelah Naga Merah pergi, Rambut Merah dan anak buahnya membantu di wilayah Dodo untuk menangkap pencopet itu.


Tidak butuh waktu lama karena sejak awal mereka menang jumlah, dan pencopet itu beraksi berdua.


Meski sulit tapi besoknya mereka bisa ditangkap dan dibawa ke kantor polisi untuk diadili.


Sedangkan untuk dompet para korban di serahkan ke kantor polisi sebagai barang bukti, kecuali dompet milik Gina dan temannya.


“Terima kasih pak!”


“Assalamualaikum”


Suara orang salam dari luar terdengar, namun karena sibuknya pekerjaan dan orang yang memproduksi kripik terdengar kecil.


“Siapa ya?” suara adikku menjawab orang itu


Aku sendiri masih membungkus kripik dan jarak dengan pintu cukup jauh jadi adikku bisa diandalkan.


“Kak, ada yang mencari”


Aku penasaran siapa orang yang mencariku pagi-pagi begini,


“Siapa?”


Tenyata beberapa anggota Geng Naga Merah yang datang, membuat aku terkejut karena akan ketahuan oleh ayah dan ibu.


“Kenapa kalian kemari?”


“I..ini bos”


Rambut merah menyerahkan dua dompet padaku, adikku yang melihat kejadian itu tentu saja menatap bingung.


Aku seperti bos penjahat yang baru saja mengambil jatah hari ini dengan anak buah.


“Oh ini dompet Gina dan temannya ya. Terima kasih, padahal aku akan mencarinya sendiri”


“T..tidak masalah bos”


Aku mengkerutkan dahi saat mereka masih saja menyebutku bos,


“Oh bukahkah dia orang yang di parkiran pasar itu? Kenapa kemari?” kata ibu datang dari belakang


“Ti..tidak kok bu kami kemari cuma mau kasih dompet milik bos”


“Bos?”


Sudah kuduga, para preman sialan ini terlalu gugup dan lupa dengan janji.


“Kok panggil kakak dengan bos?”


“Ah waktu itu aku menolong mereka menghentikan jambret di jalan. Mereka malah menyebut aku bos”


“Eh yang bener, kakak hebat sekali”


Sekali lagi ibu percaya pada kebohonganku, dan sekali lagi aku akan latihan samsak di pagi hari setelah satu tahun tidak melakukannya.


“Kalau begitu ayo masuk dulu, masih pagi sudah sarapan belum? Ingin sarapan sama-sama?”


Mereka terkejut saat ibu memberikan jamuan,


“Tidak usah bu. Jangan repot-repot”


“Tidak apa, masuk saja dulu. Jangan ditolak” tegas ku


Aku tidak ingin membantah ibu, lalu mereka juga sudah menolong aku menemukan dompet Gina.


“B..baik bos, permisi…”


Kelima orang itu masuk ke dalam dengan rada takut, tapi setelah masuk ke dalam mereka tekejut melihat kesibukan di rumah.


Orang-orang bekerja dengan senyuman, namun masih ada yang makan untuk mengisi perut sebelum kerja.


Tak butuh waktu lama mereka beradaptasi, beberapa menit mereka sudah terbiasa dan ikut sarapan bersama kami dan pekerja lain.


PREMAN PASAR....SELESAI