LOVE AND REVENGE (SPIN OFF)

LOVE AND REVENGE (SPIN OFF)
ARC PERTEMPURAN ALIANSI BAB 5



(Sabtu, Rumah Regina)


Bibi Isut masih belum pulang kerja bersama suaminya, masih seminggu begitu ia pulang. Ini adalah bulan kedua aku menginap di rumahnya.


“Gina, waktu makan malam” panggilku dari ruang makan


Suaraku besar tapi tidak dijawab, begitu ia muncul pakaian rapi dan riasan yang cantik menandakan siap untuk keluar.


“Kau mau kemana Gina? Ini sudah malam”


“Aku mau ketemu sama teman-teman baruku”


“Teman-teman baru?”


“Iya, teman dari sekolah lain. Aku di kenalkan oleh teman sekelas, dan kami mau nonton bareng. Kalau kau mau makan silakan saja, aku akan makan di luar”


“Baiklah, tapi sebelum jam 9 kau harus sudah pulang ya” pintaku


“Hah? Memangnya kenapa? Aku kan bukan anak kecil lagi jadi jangan larang aku”


“Tapi bibi meminta aku untuk menjagamu”


“Dengar! Kau hanya kakak keponakan yang tidak ada hubungannya dengan kehidupanku, jadi lebih baik kau baca buku saja sana”


Entah kenapa sepertinya Gina sangat membenciku belakangan ini, beruntung aku sedikit mengerti tentang hal yang dialaminya.


“Masa pemberontakan remaja kah?” pikirku


Malam itu aku tidur lebih cepat dari biasanya, aku tidak melihat Gina pulang ke rumah malam itu.


Jam berapa ia pulang tidak aku tahu, apa yang terjadi mungkin sama saja seperti jalan-jalan biasa. Benar, itu adalah kehidupan anak remaja, bukan?


(PASAR TEGAL, MALAM HARI)


Hari telah berganti malam, sabtu malam bergiliran berjaga pasar tanpa ada istirahat. Lukman dan Raka seperti kakak adik yang tidak bisa di pisahkan, tapi hari ini Raka izin terlebih dahulu untuk sesuatu.


Lukman yang duduk sendiri di bangku pos jaga, menghentakan kaki untuk menghilangkan jenuh.


Pasar masih belum sepi sepenuhnya masih ada beberapa pedagang yang membereskan dagangan.


“Sstt” suara panggilan dari seseorang


“Siapa disana?” tanya Lukman


“Jadi hanya kau yang berjaga disini sendirian. Benar-benar bodoh”


Beberapa orang dengan jubah hitam datang dari persembuyian mereka, dimana mereka telah cukup lama memantau pergerakan Lukman.


“Ada apa ini? Siapa kalian?” Lukman mengambil kuda-kuda


“Jangan salahkan kami, kami hanya mendapat tugas dari sumber uang. Ini tidak akan lama” perintah sang bos pada anak buahnya


Orang-orang di belakangnya bergerak dengan cepat memegang tubuh Lukman, kini ia tidak bisa bergerak.


Lukman sendiri tahu bahwa keadaan berbahaya di depan mata, tapi tidak ia sangka mala mini adalah akhir dari pekerjaannya.


“Jlebb, jlebb, jlebb” suara tusukan pisau


Bos penjahat itu menusuk perut Lukman hingga 3 kali, darah mengalir cepat, Lukman tidak bisa mengendalikan diri sampai tidak bisa bicara.


Tubuhnya sedikit demi sedikit kehilangan keseimbangan dan dilepaskan oleh para penjahat.


Perkataan terakhir dari para penjahat itu sebelum mereka menghilang tanpa jejak adalah sebuah ancaman bagi Naga Merah.


“Ini sangat membosankan”


(FLASH BACK)


Jum’at sore adalah jadwal ku berjaga di pasar, tempat ini adalah ladang nafkah bagi geng Naga Merah, namun hari ini berbeda.


Meski terlihat illegal tapi masyarakat tidak keberatan, bahkan jika mereka tidak bisa membayar iuran mereka mendapat keringanan.


Semua itu adalah usaha dari pemimpin besar, Si Putih. Meski tidak banyak orang tahu bahwa orang yang mengalahkan semua preman jalanan di provinsi Sumatera adalah seorang anak remaja.


Saat ia mengalahkan geng Naga Merah sendirian, di akhir pertarungan ia melepas topeng putihnya.


Wajah itu sama seperti orang yang datang ke pasar untuk membeli bahan-bahan dagangan.


Hubungan kami semakin dekat, saat ia memberikan uang untuk membelikan handpone anakku.


Aku merasa dia adalah orang baik, bahkan ia sudah berjanji untuk meninggalkan dunia bawah tanah.


Ferdi adalah nama sehari-harinya, namun bagi kami yang tahu siapa dia,


“Ini bos” aku memberikan air hangat pada bos besar


“Terima kasih”


Bos besar meminum air dengan sekali angkat, aku tahu bahwa ia memiliki banyak pekerjaan yang berat.


“Jadi bagaimana kabar keluargamu?”


“Ah iya bos, sekarang sudah baik-baik saja. Terima kasih bos sudah meminjamkan uangnya”


“Sudah aku bilang kan, tidak perlu di kembalikan


“Ayah” seorang anak perempuan datang ke pasar menggunakan seragam sekolah


“Lho Cindi kenapa kesini?” tanya Lukman


“Itu…ayah tidak pulang dari kemarin jadi ibu nitip makanan untuk ayah”


Cindi adalah anak pertama ku, umurnya mungkin sama dengan Bos Ferdi. Aku juga tahu mereka berada di satu sekolah yang sama.


“Ah terima kasih Cindi, sekarang kamu boleh pulang sebentar lagi malam”


“Iya ayah, eh…Ferdi?”


Cindi ternyata mengenali bos Ferdi, aku sendiri tahu jika ini adalah kesempatan bagus untuk membangun silaturahmi yang baik dengan bos besar.


“Ah ini adalah bos…”


“Hei” segak bos Ferdi padaku


“Ah benar, ini Ferdi salah satu pelanggan langganan di pasar ini. Kalian sudah saling kenal?”


“Bagaimana tidak kenal ayah, dia saja sering mengikuti kejuaraan voli nasional. Dia sangat terkenal di sekolah, benarkan Ferdi” ucap Cindi malu-malu saat melihat bos Ferdi


"Tidak juga kok, jadi ini anak pak Lukman. Karena belum resmi kenalan, aku Ferdi”


“Iya, aku Cindi”


Hari itu adalah peristiwa yang sangat aku ingat dalam hidup, ketika mereka berdua saling berkenalan bukan takut yang aku rasakan, tapi hanya sebuah perasaan lega.


(FLASH BACK END)


PERUSAHAAN VORTEX....BERSAMBUNG