
“Wushh”
Angin malam terasa menusuk di kulit, setelah pertempuran besar antara Naga Merah dan Aliansi Hooligan pertarungan antar preman sekolah SMA xx di kandang lawan berlangsung.
“Mau bagaimana cara mainnya?” tanya Rendi yang sudah tidak sabar
“Lima sekaligus, yang berdiri terakhir adalah pemenangnya!” teriak kak Revan sambil maju menyerang Joko
“Hiyaa”
“Sat…sat…sat”
Pertarungan antara Joko dan Kak Revan berlangsung dengan cepat, keduanya saling membalas satu sama lain.
Revan sendiri ingin membalas kekalahan total saat menghadapi Joko di sekolah dulu, berharap Joko kehabisan tenaga karena melawan banyak orang kesempatan diambil.
“Buak” pukulan pertama mengenai wajah Joko
“Kena kau Joko”
“Cuh” Joko meludah
“Kayaknya aku sudah mulai panas”
Sisi lain ketiga orang lain saling bertukar pandangan, siapa yang ingin mereka lawan. Ferdi, Bagas dan Rendi sudah siap bertarung, namun saat Ferdi menatap Rendi sebuah ingatan masa lalu datang.
Rendi teringat pertarungan dengan Ferdi, dimana ia hampir mati dan di kalahkan dengan mudah. Kata-kata yang ia lontarkan dulu bahkan masih membekas di ingatan.
“Jika kau menganggu aku lagi. Maka kau akan mati” ucap Ferdi sambil tersenyum dulu
Rendi pun memutuskan untuk tidak melawan Ferdi dan beralih menjadi satu lawan satu dengan Bagas.
“Kurasa aku akan melawanmu” balik Rendi
Bagas sendiri terkejut dengan situasinya, namun ia tidak takut melawan Rendi.
“Baiklah aku tidak takut dengan anak bodoh sepertimu” ejek Bagas
“Apa katamu sialan?”
“Haaa”
“Bukk” pukulan Rendi di tahan Bagas
“Sialan kau”
“Haa”
“Bukk…buk…bukk”
Serangan bertubi-tubi di lancarkan oleh Rendi, namun Bagas berhasil bertahan dan menyerang balik.
Semua kemampuan yang mereka punya dan panas semangat mereka yang membara malam ini kembali keluar.
Kekuatan dari pengalaman di keluarkan oleh keduanya,
“Gawat, kalau begini aku akan kalah lagi” pikir Bagas
Bagas mengubah dirinya dalam pertarungan, saat melawan Roa dia tahu bahwa kekuatan mereka tidak setara.
Namun seseorang bernama Fadil yang kelihatan lemah melawan dengan menyerang titik lemah manusia.
“Akan aku lakukan seperti dia” pikir Bagas
Bagas pun mengambil jarak, ia tahu jika beradu dengan Rendi adalah rencana buruk.
“Mau kemana kau hah?” kejar Rendi
Karena banyaknya melawan orang yang lebih kuat darinya, Bagas membuka penglihatan baru yaitu tentang celah pertahanan lawan.
“Sushh” pukulan Rendi berhasil di hindari
Rendi sendiri yang sudah di puncak emosi tidak bisa berpikir tenang, ia berpikir untuk tetap menyerang.
Kesempatan pun di lihat oleh Bagas, sesaat sebelum Rendi melancarkan serangan tubuhnya terbuka lebar.
“Kesempatan”
Bagas pun menendang kaki Rendi sampai ia kehilangan keseimbangan, dengan cepat genggaman tangan Bagas mencapai wajah Rendi.
“Serangan terakhir, kumpulkan semua di tangan…dann”
“Dakk!!”
Pukulan keras Bagas mengenai Rendi dengan telak,
“A…”
Rendi terjatuh tapi masih sadar, namun ia tahu bahwa kekalahan terjadi. Pertarungan antara Bagas dan Rendi yang seharusnya di dominasi oleh Rendi berhasil di balik.
“Aku…menang? Aku menang!” teriak Bagas
Joko mendengar teriakan Bagas mengalihkan pandangan, ia sendiri sangat terkejut sekaligus senang melihat kemenangan Bagas.
“Hebat sekali Bagas!”
“Jangan mengalihkan padanganmu Joko!”
Revan masih maju untuk menyerang tanpa henti,
“Maaf saja kak Revan tapi aku juga akan mengakhiri ini”
Pukulan dari Revan yang masih melayang mengenai dada Joko, namun Joko berhasil menahannya.
Revan sendiri terkejut dan berusaha untuk menarik diri tapi tangannya ditangkap terlebih dahulu oleh Joko.
“Apa?”
“Sekarang giliranku” sambil memegang tangan Kak Revan, tinjuan pun disiapkan dengan segenap tenaga
Kak Revan sendiri berusaha melepaskan tangan dari Joko namun tidak bisa karena genggaman yang sangat kuat.
“Aku tidak bisa melepasnya, apa-apaan genggaman ini?” pikir kak Revan
“Syatt…buak” pukulan Joko mengenai kepala Revan
Dengan tangan yang tidak bisa di lepas Revan menjadi samsak oleh Joko,
“Bukk…bukk!...Bukk!!”
Pukulan bertubi-tubi Joko ke wajah Revan, bagi orang yang sudah mengetahui kekuatan dari pukulan Joko tentu tahu. Seperti batu yang menghantam, kuat dan k eras.
“Aaahhh!!!”
Revan yang telah kehilangan kesadaran terjatuh perlahan ke tanah, sementara Joko yang kehabisan nafas berusaha menenangkan diri.
“Hah…hah…hah…dengan begini hanya tersisa Ferdi…” saat pandangan Joko beralih ke Bagas dan Ferdi, seketika ia terkejut Bagas telah jatuh dengan wajah berdarah
“Apa? Bagas!”
BERSAMBUNG....