LOVE AND REVENGE (SPIN OFF)

LOVE AND REVENGE (SPIN OFF)
ARC PERTEMPURAN ALIANSI BAB 7



(MINGGU, RUMAH REGINA)


“Assalamualaikum” aku membuka pintu


Gina yang pergi pagi-pagi belum pulang, saat itulah keadaan yang membuat aku gila menjadi tidak tertahan.


Aku masuk ke dalam kamarku, di atas meja belajar aku melihat sepucuk kertas yang berisi catatan.


Catatan yang berisi informasi itu semakin membuat aku membulatkan tekad, Perusahaan Vortex yang bekerja sama dengan unit pembunuh bayaran dari Timur Tengah.


(Suara Telpon)


“Halo kapten, ada apa?”


“Fadil…”


“Aku tahu, informasi dan lokasi mereka bukan? Akan aku kirim 2 jam lagi”


“Bagus, lalu siapkan aku beberapa perlengkapan juga”


“Ngomong-ngomong aku boleh ikut denganmu? Kau tidak akan mengurus ikan teri tapi ikan besar bukan?”


“Kali ini biar aku sendiri yang mengurusnya”


“Baiklah, kalau begitu aku akan melihat bagian yang lain. Kau tidak keberatan bukan?”


“Tentu, ingat jangan sampai ada yang terbunuh”


“Serahkan saja padaku”


Beberapa jam kemudian Fadil mengirimkan aku semua informasi mengenai perusahaan Vortex, mereka bekerja sama dengan pasukan pembunuh bayaran “Black Pyton” dari Timur Tengah.


Lokasi mereka berada di Timur Tengah dan ada beberapa pasukan yang di sewa oleh Vortex untuk membantu nya dalam mengambil alih wilayah.


Sama seperti catatan yang di buat oleh Shadow di atas meja, beberapa ikan besar penganggu membuat masalah.


Dari pada membuang waktu dan sisa dari mereka akan kemari, lebih baik melenyap kan mereka semua sekaligus.


Black Pyton adalah dalang dari pembunuhan Lukman, dengan pisau yang diambil dari barang bukti Fadil berhasil mengidentifikasi.


“Kau ada disana bukan, Shadow?” tanyaku pada seseorang


“Tentu Master” suara tanpa wujud tubuh menjawab


“Kau urus yang disana, aku akan mengurus yang disini”


“Baik master”


Bayangan itu menghilang seperti angin, salah satu pengikut Ferdi yang misterius. Bukan hantu tapi hanya manusia biasa yang berubah menjadi mesin pembunuh.


Suara dingin dan tatapan tajam dari Ferdi membuat bayangan itu sendiri sedikit takut, singa yang tertidur akhirnya bangun. Malam ini adalah puncak berdarah setelah sekian lama.


...***...


“Kriiinggg” suara telpon berdering


Nomor telpon tidak di kenal masuk menelpon, tentu aku sendiri sedikit berhati-hati jika yang menelpon adalah musuh.


“Ya dengan Ferdi, siapa ini?”


“Ohh temannya Gina yang kehilangan dompet itu? Ya aku tahu, kenapa kau menelpon aku?”


“Kak Ferdi apa Gina ada di rumah?”


“Tidak ada, sepertinya dia belum pulang dari tadi pagi”


“Gawat, tenyata benar. Kak Ferdi!...Gina, Gina dalam bahaya kak” suara nya semakin kencang


“Ada apa? Coba tenang?”


“Gina, Gina pasti di seret oleh anak-anak sekolah lain itu”


“Anak sekolah lain? Bukannya mereka sedang jalan-jalan?”


“Tidak kak”


Rahma memberitahu semua yang terjadi pada Gina kemarin, ternyata dia di jebak oleh teman sekelasnya yang memiliki teman sekolah lain.


Dengan alasan mendekati pacar teman sekolah lain itu, dia di bully dan di hajar habis-habisan.


Sejak awal teman sekelasnya tidak suka pada Gina, namun Gina yang mudah terpengaruh meninggalkan teman-teman lama dan bergaul dengan teman-teman baru.


Saat itu dia sadar bahwa semua itu hanya jebakan, dan sekarang dia di seret ke suatu tempat.


Pantas aku kemarin tidak melihat dia pulang, dan saat ia pergi, menutupi wajahnya. Memar dan luka mungkin dia alami, dan aku tidak sadar dengan itu.


“Sialan, sekarang dimana Gina?”


“Kami baru saja melihat dia di gedung tua, dekat SMK X. Disana juga ramai dengan anak-anak nakal yang membawa senjata”


“Gedung tua dekat SMK X, jangan-jangan? Apa kalian masih ada disana?”


“T..tidak kak, kami….”


“Hiks…hiks…hiks” suara tangisan terdengar dari telpon


Aku tahu mereka khawatir dengan Gina dan mencoba mengikutinya sampai gedung itu, dan mereka tertangkap.


“Kami sudah pulang…”


“Kalian juga di pukul?” tanyaku dengan nada dingin


“T..tidak kak. Kami….”


“Baiklah, kalau begitu kalian cepat pulang. Aku akan menjemput Gina”


“Tapi kak, lebih baik kita panggil polisi juga. Berbahaya jika pergi sendirian”


“Tidak apa dan jangan telpon polisi nanti urusannya jadi tambah panjang. Kakak yang bertugas menjaga Gina jadi tenang saja” jelas ku


“Baik kak”


Senja sudah terlihat, aku banyak menghabiskan waktu untuk bersiap tapi tidak tahu akan datang masalah lain.


Apa aku ini sudah menjadi tumpul? Aku ini naïf? Tidak, hari ini akan berbeda. Kehidupan tenang dan bahaya akan menjadi satu. Ferdi telah kembali.


PERTEMPURAN ALIANSI SEKOLAH.... BERSAMBUNG