
(PERUSAHAAN VORTEX)
Vortex nama dari pemilik dari perusahaan yang mulai tenar belakangan di kota Palembang.
Bergerak di bidang barang dan jasa, memiliki tujuan besar untuk memonopoli pasar di Palembang.
Sulit, itulah yang dipikirkan. Namun tidak sekarang, Vortex yang memiliki bantuan dari orang asing untuk menyingkirkan semua halangan di jalan,
“Penjualan di kota Medan sudah berangsur besar. Kita pasti bisa mengepakan sayap juga di kota ini, Pak” ujar Antonio wakil manajer Vortex
“Bagus, sekarang kota ini selanjutnya”
“Apakah kita mengirimkan mereka saja?” saran Anton
“Tidak perlu, itu akan terlalu beresiko. Lebih baik melihat lebih jauh lagi, baru kita suruh orang-orang itu bergerak”
“Bagaimana dengan anak-anak itu? Apakah kita harus melakukannya sekarang?”
“Suruh mereka untuk memantau pasar di wilayah Tegal. Kudengar disana masih ada sisa-sisa dari Naga Merah”
“Naga merah sudah tidak kuat seperti dulu, itu karena munculnya si Putih satu tahun yang lalu membuat para pencari masalah di jalanan berkurang”
“Si Putih, namanya juga terdengar sampai ke Medan. Namun disini sepertinya dia lebih dominan bergerak, apa kau tahu dimana dia?” tanya Vortex
“Tidak pak, setelah kejadian Geng Naga Merah si Putih tidak pernah terlihat lagi. Bahkan sampai sekarang, sepertinya dia sudah mati atau menghilang”
“Itu adalah berita bagus, walau kemungkinan dengan tidak adanya penjaga. Wilayah ini menjadi milik kita"
“Vortex!” teriakan dari seseorang di belakang pintu masuk
Tubuh besar dan otot yang kekar, seketika membuat Vortex dan Antonio takut. Bukan karena bentuk tubuhnya namun karena pekerjaan dan julukan mereka, orang-orang yang bekerja di belakang perusahaan Vortex.
“Organisasi pembunuh bayaran dari Timur Tengah”, melakukan kontrak dengan Vortex untuk menaklukan wilayah.
Bagi Vortex membayar mereka adalah murah, pekerjaan selalu cepat dan rapi, membunuh orang tanpa ketahuan.
“Ada apa tuan Roa?”
“Dimana uang yang kau janjikan?”
“Besok akan aku berikan, sebelum itu aku masih memiliki tugas penting untuk kau dan teman-temanmu”
Senyum jahat dari Vortex menandai rencana jahat miliknya, kali ini dia tidak perlu bekerja keras karena hanya harus mengurus satu orang saja.
“Naga Merah”
...***...
(SMA xx Palembang)
“Siap kak”
Osama sebagai wakil ketua dan seksi materi Donor Darah dari kelas 11 melatih anak-anak kelas 10.
Osama memang pintar dalam menghitung, dan untuk di PMR ia di serahkan tugas sebagai wakil ketua dan ketua Donor Darah.
“Minggu depan kita akan mengikuti lomba di sekolah xx, jadi hari ini yang bener latihannya”
Aku hanya mengecek keadaan PMR saja, lalu pergi mengerjakan kegiatan lain.
“Osama, hari ini aku titip mereka dulu ya”
“Oh kau seperti biasa ya”
“Iya, maaf ya ngerepotin”
“Tidak apa kok hari ini juga banyak kelas 11 dan 12 yang datang”
“Oke aku pergi dulu ya”
Aku berpamitan dengan pelatih dan kelas 12, tidak lupa izin pada teman se-angkatan.
“Ferdi boleh aku tanya” Haliya datang menghampiriku
“Ada apa hal?”
“Memang kau itu ketua yang luar biasa, datang saja boleh. Tapi bisa tidak kau sekali-kali pulang sore bersama kami di latihan biasa”
“Benar juga, akan aku lakukan. Saat ini aku masih sibuk…”
“Dia benar Ferdi” Tysa keluar dari kelas sebelah
“Tysa? Ada apa?”
“Mungkin kau tidak sadar, tapi kehadiranmu itu sangat berpengaruh pada banyak orang. Saat ini di organisasi antar sekolah kursi mu sedang di gugat”
Aku melontarkan senyuman,
“Aku hanya ingin bersama dengan orang-orang yang aku percaya. Bahkan sejak awal aku tidak menginginkan kursi itu, dan bagi mereka yang memiliki perbedaan denganku itulah kebenaran atau hanya kesalahan”
Mereka yang mendengar kata-kata itu bingung, tapi aku hanya berbicara seperti kakek tua dulu saat menasehati aku.
Sebenarnya aku tidak peduli dengan semua masalah kecil ini, tapi aku tahu bahwa firasat buruk akan segera datang.
“Baiklah apakah yang harus aku lakukan?”
PERUSAHAAN VORTEX....BERSAMBUNG