
(Perusahaan Vortex)
"Pak!, Apa kau sudah mendengar beritanya?"
"Ya, Tuan Roa dan semua anak buahnya di bunuh. Dan itu terjadi tadi malam..." ketakutan menyelimuti Vortex
"Saya mendengar jika itu ulah Si Putih, sekarang dia masih belum di tangkap"
"Gawat, apakah dia mengincarku juga? Kita...kita harus menghubungi Black Python lain di Timur Tengah"
"Soal itu bos, mereka tidak bisa di hubungi. Bos Black Python juga tidak menjawab pesan"
"Apa?! Sebenarnya apa yang terjadi?! Ini...ini bahaya! Aku...aku pasti mati"
"Lebih baik kita pergi dari kota ini bos"
"Benar...benar, kita harus pergi dari kota ini. Siap kan semua...ant...akhh...ahhhkk"
Tiba-tiba dalam masalah, Vortex memegang dada nya. Tak lama kemudian, dari mulutnya keluar bisa putih.
"Pak, anda baik-baik saja?! Pak!"
Antonio memeriksa tubuh Victor, dengan cepat ia menyadari bahwa bos nya telah mati.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang melakukan ini?"
Antonio melihat secangkir kopi di meja Vortex, baru diseduh, namun keanehan datang dari sana.
Kopi itu sudah di campur racun di dalamnya, membuat Vortex kehilangan nyawa.
Namun, siapa dan apa pelakunya masih menjadi misteri. Sebuah penyerangan tak terduga dari musuh berbahaya, seperti angin di dalam bayangan.
"Ting!" sebuah pesan muncul di ponsel Antonio
"Nomor siapa ini?"
Isi pesan itu mengejutkan Antonio, ketakutan memuncak, ia pun menjadi gila.
"Hahahaha, apa ini?! Gila! Apa ini? Aku akan mati"
Teriakan keras dari Antonio terdengar oleh semua karyawan perusahaan, sebuah suara putus asa dan ketakutan.
Dari luar seseorang tersenyum di balik topinya, orang yang mencampur kopi dengan racun dan mengirim pesan.
Sang adik yang setia pada kakaknya, membantu ia membalas dendam pada musuhnya.
...***...
(Jakabaring, Palembang)
"Huft, huft, haaa"
Lari pagi yang sudah lama tidak aku lakukan di tempat yang luas. Bersama kakak keponakan Ferdi, kami berdua olahraga sekaligus berkencan pagi.
Dulu aku mengira ia hanyalah anak kutu buku yang agak tinggi, namun ternyata ia mempunyai sikap dan hal yang sangat baik. Aku mulai menyukai nya akhir-akhir ini, sampai ingin memilikinya sendiri.
Ia mempunyai banyak rahasia dan misteri, tentu dengan itu membuat aku tertarik juga. Seseorang yang hebat seperti Ferdi, aku sangat mencintainya.
"Lho Ferdi?"
Seorang wanita mendatangi kami berdua, tentu aku tidak asing dengannya. Putri, ketua OSIS di sekolah kami, bersama seorang laki-laki ia menyapa.
"Kak Putri, kakak juga sedang berolahraga ya?"
"Iya, kau sendiri? Apa sedang dengan teman?"
"Tidak, aku sedang bersama Gina, adik keponakan ku"
Ferdi mengenalkan aku, tapi dari tatapan kami. Aku tidak suka padanya, itulah hal yang aku rasakan.
"Gina"
"Putri"
"Jadi ini ya Ferdi? Yang sering kau ceritakan itu?"
"Benar, aku Ferdi, salam kenal"
"Hahaha, aku suka dengan dia. Aku Dian, kakak keponakan Putri. Tapi aku kira dia sedikit tinggi dan berotot, Put"
"Meski begitu dia sangat hebat dalam olahraga" kataku menepis perkataan Dian
"Benar kak" tambah Putri
"Ehh, seperti nya kalian sangat percaya pada dia ya. Ferdi! Kau mau sedikit berlomba denganku?"
Sebuah perlombaan tiba-tiba, dengan tantangan dan keadaan tidak terduga.
"Hei Ferdi!"
Suara wanita lain yang memanggil kak Ferdi, dari kejauhan beberapa wanita mendekati kami.
"Ainur? Tn?"
"Oh ada kak Putri juga ya. Pagi kak, lagi olahraga juga ya"
"Iya, lalu kalian?"
"Ah kami sedang jalan-jalan saja, tapi tidak aku sangka kita bertemu"
Kak Dian seperti melihat bidadari turun dari langit, kedatangan kak Ainur dan Agustina membuat matanya tidak berkedip sama sekali.
"Oh, ini teman mu juga Put?" tanya kak Dian
"Oh, iya. Tapi lebih tepatnya adik kelas, ini Ainur, ini Agustin. Mereka anggota OSIS dan MPK juga di sekolah"
"Begitu ya, salam kenal"
Kak Dian tanpa pikir panjang menjabat kedua tangan gadis itu. Tentu kak Ainur dan Agustina sedikit terganggu.
"Ngomong-ngomong kalian pergi satu kelompok ya?" tanya kak Ferdi
"Iya, yang lainnya berada di tempat lain"
Kak Ainur dan Agustina menjaga jarak dari kak Dian, mendekati kak Ferdi.
"Ferdi, ayo kita ke tempat lain bersama"
"Ah, tapi..." Kak Ferdi melihatku
"Maaf ya adik-adik, tapi Ferdi dan kakak akan berlomba sebentar"
"Eh, lomba?"
Kak Ferdi dan kak Putri saling menatap, seakan tidak ingin melakukan hal ini.
"Kak Dian, lebih baik kita hentikan saja. Ada banyak orang disini"
"Justru lebih bagus, kita bisa jadi di lihat orang lain kan. Orang juga akan termotivasi dengan larian kita"
Kak Putri melihat kak Ferdi,
"Ferdi"
"Kurasa itu hal yang bagus. Membuat semua orang bersemangat karena melihat kita"
Kak Ferdi berubah sedikit semangat pada permintaan kak Dian.
"Maaf ya Gin, aku malah jadi ikut ikutan"
"Tidak masalah kok. Tapi kakak harus menang ya" pintaku
"Tentu saja"
BERSAMBUNG....